Ketika Seorang Nabi Bertawasul Kepada Wali

Ketika Seorang Nabi Bertawasul Kepada Wali

Pecihitam.org – Lumrahnya, tradisi ngalap berkah biasa dilakukan oleh orang yang lebih rendah kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya. Berbeda halnya dengan Nabi Zakariya. Meskipun beliau berstatus sebagai Nabi sekaligus Rasul, tapi beliau pernah suatu ketika bertawasul kepada seorang Wali. Secara hierarki pangkat kewalian tentu lebih rendah dibanding pangkat kenabian.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tawasul itu dilakukan lantaran Nabi Zakariya mendapat ujian berat dari Allah SWT. Sampai usia menginjak masa tua, beliau belum juga dikaruniai keturunan. Seperti yang diceritakan dalam Al-Qur’an :

اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ نِدَاۤءً خَفِيًّا ﴿٣﴾ قالَ رَبِّ إِنّي وَهَنَ العَظمُ مِنّي وَاشتَعَلَ الرَّأسُ شَيبًا وَلَم أَكُن بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيًّا ﴿٤﴾ وَإِنّي خِفتُ المَوالِيَ مِن وَرائي وَكانَتِ امرَأَتي عاقِرًا فَهَب لي مِن لَدُنكَ وَلِيًّا ﴿٥﴾ يَرِثُني وَيَرِثُ مِن آلِ يَعقوبَ وَاجعَلهُ رَبِّ رَضِيًّا

“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.” (Q.S : Maryam 3-6)

Baca Juga:  Kisah Nyata! Satu Keluarga yang Dulunya NU, Mendadak Jadi Wahabi

Ayat di atas menggambarkan tentang kegelisahan Nabi Zakariya yang tak kunjung memiliki keturunan. Beliau khawatir, jika nanti sepeninggalnya, tidak ada lagi generasi yang melanjutkan dakwahnya.

Kekhawatiran itu semakin dirasakan, mengingat jika orang dzalim dan munafik yang berkuasa, bisa dipastikan syiar agama perlahan akan meredup dan kemudian hilang dari peredarannya.

Secara medis, untuk ukuran usia Nabi Zakariya yang sudah mulai renta dan istri beliau yang sudah divonis mandul sejak masa mudanya, kiranya sangat mustahil bagi beliau untuk memeroleh keturunan.

Akan tetapi, beliau tidak pernah putus asa walau sejengkal. Tak henti-hentinya beliau memohon kepada Allah. Meskipun permintaannya di luar nalar manusia pada umumnya, beliau tetap menaruh harapan supaya do’anya terkabul.

Nabi Zakariya mempunyai kerabat seorang wanita shalihah. Beliau bernama Siti Maryam. Selain terkenal sebagai seorang Wali, beliau juga terkenal mempunyai beberapa keistimewaan. Diantara keistimewaannya, do’anya bisa terkabul secepat kilat. Ketika menginginkan sesuatu, dalam sekejap Allah langsung mengabulkannya. Beliau mengisi hari-harinya untuk beribadah kepada Allah di sebuah mihrab masjid.

Baca Juga:  Mengenal Kitab Tarikh al-Rasul wa al-Muluk Karya Imam al-Tabari

Kabar tersebut terdengar oleh Nabi Zakariya. Dengan segera beliau pergi untuk menemui kerabatnya itu. Bermaksud ingin mencari tahu tentang rasa penasarannya.

Belum sampai beliau menginjakkan kaki di teras masjid, dari luar sudah tampak keanehan. Di mihrab milik Siti Maryam ada banyak sekali buah-buahan yang masih segar.

Dari mana buah-buahan ini ? “tanya Nabi Zakariya”. Buah-buahan ini adalah pemberian dari Allah SWT. “Jawab Siti Maryam”.

Mendengar jawaban tersebut, Nabi Zakariya merasa takjub. Beliau meminta izin kepada Siti Maryam untuk berdo’a di mihrab miliknya. Setelah mendapatkan izin, beliau bergegas masuk dan kemudian berdo’a. Seperti yang telah dilukiskan dalam Al-Qur’an :

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Di sanalah Zakariya berdo’a kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. (Q.S : Ali Imran :38)

Baca Juga:  Nasehat Sufi Ibrahim bin Adam Ketika Muridnya Ingin Berhenti Bekerja

Selepas beliau berdo’a,  tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril membawa kabar gembira, bahwa nanti istrinya akan mengandung anak laki-laki. Do’a beliau telah diijabah oleh Allah SWT, berkat tawasul di tempat mulia itu.

Akhirnya, setelah sempurna masa kehamilan istri Nabi Zakariya, lahirlah anak laki-laki shalih, yang dikemudian hari menjadi penerus dakwah beliau, yaitu Nabi Yahya a.s.

Demikianlah kisah bagaimana seorang nabi bertawasul kepada wali yang bernama Siti Marya. Dari kisah ini pula, kita bisa belajar dari kehebatan Nabi Zakariya a.s. Sabar dan istiqamah adalah kunci kesuksesannya. Allah membuka pintu rahmat lebar-lebar bagi siapapun yang mendekatkan diri kepada-Nya. Wallahu a’lam bisshawab.

Erik Mahendra
Latest posts by Erik Mahendra (see all)