Bahan Bangunan Masjid dari Benda Najis, Bagaimanakah Hukumnya?

bangunan masjid dari najis

Pecihitam.org – Masjid sebagai tempat shalat haruslah terjaga kebersihan dan kesuciannya, karena jika tidak suci, maka shalatnya menjadi tidak sah. Lalu bagaimanakah jika bahan bangunan masjid terbuat dari benda najis atau air yang digunakan untuk mengaduk semen dicampur dengan sesuatu yang najis?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Deskripsi dari pertanyaan di atas, misalnya, para pekerja bangunan menggunakan air got yang najis untuk mengaduk bahan bangunan (pasir dan semen).

Menjawab pertanyaan tentang bahan bangunan masjid terbuat atau dicampur dengan sesuatu yang najis, saya merujuk beberapa keterangan dalam kitab Fiqh Mazhab Syafii sebagai berikut”

Nihayatuz Zain karya Syaikh Nawawi Banten

لو بنى المسجد بالاجر المعجون بالزبل و فرشت ارض المسجد به عفي عنه فتجوز الصلاة عليه و المشى عليه و لو مع رطوبة الرجل

Apabila sebuah masjid dibangun dengan batu merah yang bahan dasarnya bercampur dengan kotoran hewan, kemudian lantai masjid dipasangi dengan batu tersebut, maka dima’fu dan diperbolehkan melakukan shalat dan berjalan di atasnya meskipun kaki dalam keadaan basah. (Nihayatuz Zain halaman 8)

Baca Juga:  Shalat Khusuf: Dalil dan Tata Cara Pelaksanaannya

Hasyiyah al-Jamal karya Syaikh Suliaiman bin Jamal

وهل يجوز بيع الطوب المعجون بالزبل إذا أحرق وبناء المساجد به وفرش أرضها به ويصلى عليه بلا حائل وإذا اتصل به شيء من بدن المصلي أو ملبوسه في شيء من صلاته هل تصح صلاته أو لا أفتونا مأجورين أثابكم الله الجنة فأجاب بما صورته الحمد لله نعم الخزف وهو الذي يؤخذ من الطين ويضاف إليه السرجين مما عمت به البلوى فيحكم بطهارته وطهارة ما وضع فيه من ماء أو مائع لأن المشقة تجلب التيسير. وأما الآجر المعجون بالسرجين ونحوه فيجوز بيعه وبناء المساجد به وفرش أرضها به وتصح الصلاة عليه بلا حائل

Bolehkah menjual batu bata yang diadon dengan kotoran binatang bila dibakar, digunakan membangun masjid, dijadikan lantai masjid, dilakukan shalat di atasnya dengan tanpa penghalang (semacam sajadah), bila bertemu dengan badan atau pakaian orang shalat apakah sah shalatnya?

Jawaban :
Tembikar yang dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran saat membuatnya maka dihukumi suci. Sedang batu bata yang dicampur dengan kotoran hewan dan sejenisnya, maka boleh menjualnya dan boleh pula membangun masjid dengannya, menjadikannya alas masjid serta sah shalat di atasnya meski tanpa memakai kain penghalang.
(Hasyiyah al-Jamal ‘ala al-Manhaj Juz I halaman 555)

Baca Juga:  Bagaimana Status dan Hak Anak Atas Li’an Orang Tuanya? Begini Kata Nabi

Bughyatul Mustarsyidin karya Sayyid Abdurrahman Ba’lawi

وقال القاضي بطهور المصبوح بالنجس أي مطلقا

Al-Qadli berpendapat tentang sucinya barang yang dicetak bercampur najis secara mutlaq (Bughyatul Mustarsyidin halaman 17)

Dari beberapa keterangan dalam kitab-kitab di atas, baik dalam kitab matan, hsyiayah maupun kitab fatwa, semua sepakat bahwa bahan bangunan masjid yang berasal dari campuran benda najis tidak menjadikan masjid itu najis. Ia tetap dihukumi suci.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab.

Faisol Abdurrahman