Belajar Mengenal Tuhan dari Nabi Ibrahim Sang Bapak Agama

Mengenal Tuhan dari Nabi Ibrahim

Pecihitam.org – Nabi Ibrahim adalah seorang Nabi yang dijuluki sebagai bapak tauhid, ada juga yang menyebutnya sebagai bapak Agama Samawi. Sebab kecerdasannya dalam berfikir tentang konsep ketuhanan dan konsep alam semesta.

Bahkan mampu mengajak umatnya untuk menyembah Allah atas dasar daripada hasil pemikirannya tentang tuhan dan alam semesta. Tentu saja diatas itu semua karena pertolongan Allah SWT.

Seperti para Nabi yang lain perjuangan Nabi Ibrahim dalam mengajak untuk menyembah Allah tidaklah mudah. Nabi Ibrahim sendiri harus berhadapan dengan Ayahandanya secara langsung. Sebab ayahanda Nabi Ibrahim merupakan pembuat patung berhala yang dihormati oleh orang-orqng di Babilonia.

Selain itu negeri Ur (Iraq) tempat Nabi Ibrahim dipimpin oleh seorang raja dzalim yang mengaku sebagai Tuhan. Bahkan hanya karena ramalan dari peramal istana, Namrud membunuh semua bayi laki-laki yang lahir kecuali Nabi Ibrahim. Itu karena ibunda Nabi Ibrahim menyembunyikannya dalam gua ditengah hutan yang sangat jarang dilalui oleh manusia.

Pengasingan Nabi Ibrahim tidak berlangsung lama sebab menurut KH. Miftah Faqih Benda Kerep, atas izin Allah pertumbuhan dan perkembangan Nabi Ibrahim sangatlah cepat sehingga bisa dibilang melampaui anak-anak atau bayi-bayi seusinya baik dalam pertumbuhan maupun perkembangannya. Bisa dikatakan dalam hitungan bulan Nabi Ibrahim terlihat seperti sudah berusia Tahunan.

Baca Juga:  Ini Dia Perbuatan Nabi yang Tidak Wajib Diikuti

Menemukan Konsep Ketuhanan

Dalam catatan Eko Prasetyo Kitab Pembebasan dikatakan setelah memasuki masa remaja kisaran usia 14 tahun, hari-hari Ibrahim muda dipenuhi dengan perenungan-perenungan tentang ketuhanan. Ibrahim merasa jika yang dilakukan oleh orang-orang untuk menyembah patung (berhala) itu tidaklah benar, sebab Ibrahim tahu persis jika yang membuat patung-batung sesembahan itu adalah ayahnya sendiri.

Lantas bagaimana mungkin bahwa tuhan diciptakan oleh hambanya dan tuhan dijaga sampai diurus oleh hambanya? Bagaimana mungkin tuhan tidak mampu melakukan apa-apa? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini terus bermunculan dibenak Ibrahim muda.

Ibrahim akhirnya menemukan satu kepastian yakni bahwa Tuhan adalah ia yang menciptakan semua makhluk dan alam semesta. Tuhan adalah ia yang menjadikan alam semesta ini berjalan sesuai dengan tempat dan fungsinya masing-masing, ia yang menjadikan jagat raya ini tetap seimbang. Meskipun Ibrahim belum bisa mengetahui Tuhan itu apa dan siapa.

Sampai kemudian Ibrahim menerima wahyu dari Allah SWT. “Dan kemudian kami perlihatkan kepada Ibrahim malakut langit dan bumi agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menutupinya (menjadi gelap) ia melihat bintah dan ia berkata ‘inilah tuhanku’ dan ketika bintang itu tenggelam ‘aku tak suka tenggelam’ kemudian ketika ia melihan rembulan ia berkata ‘inilah tuhanku’ dan saat rembulan itu tenggelam ia berkata “sesungguhnya apabila tihan tidak memberi pwtunjuk padaku pastilah aku termasuk orang-orang yang tersesat. Kemudia dia melihat matahari dan berkata ‘inilah tuhanku, ini yang lebih besar’ maka ketika terbenam dia berkata ‘hai kaumku, sesungguynya aku aku melapas diri dari apa yang kamu sekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan tuhanku” (Q.S. Al-an’am 75-79).

Baca Juga:  Mengatasi Krisis Kebahagiaan dengan Berdzikir

Para ilmuan dan ulama sangat terkagum-kagum terhadap pemikiran Nabi Ibrahim yang menemukan konsep Tuhan dari cara berfikir dan mencaritahu. Terbukti metode Nabi Ibrahim ini memenuhi seperdelapan daripada Al-Qur’an, 700 lebih ayat yang membahasnya.

Sehingga Ibnu Rusyd meyakini bahwa paparan Al-Qur’an mengenai penciptaan adalah upaya untuk mengajak manusia agar bisa memberdayakan semua potensi yang dimilikinya untuk mengetahui dan mengenal Tuhan.

Bahkan Imam Al-Ghazali mengatakan hal menarik tentang rancangan alam semesta “siapapun yang melihat semua ini dengan pikiran dan mata hatinya akan memperoleh pengetahuan tentang Tuhan, sehingga orang tersebut akan memuliakannya dengan segal ciptaannya. Tidak ada pengingkaran atas segala sesuatu yang tersirat bagi mereka yang merenung, karena setiap kali akalnya memperhatikan keajaiban rancangan dan keagungan penciptaan, pengetahuan dan keyakinan (kepada sang pencipta) akan semakin dalam sehingga orang tersebutpun tunduk dan memuji sang pencipta“.

Baca Juga:  Macam-macam Penyakit Hati dan Cara Mencegahnya Menurut Islam

Hikmah yang bisa diambil adalah kita sebagai manusia menjadi makhluk yang paling sempurna, sebab memiliki akal fikiran yang bisa digunakan sebagai pondasi untuk kita mempertebal keimanan kita dan mempelajari segala sesuatu untuk bisa lebih mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga akal yang dikaruniakan kepada manusia menjadi sangat istimewa dan bermanfaat.

Fathur IM
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG