Benarkah Haddad Alwi Pengikut Syiah? Ini Pengakuannya

Haddad Alwi.

Pecihitam.org – Beberapa waktu lalu Haddad Alwi mendapat perlakuan persekusi dari sekelompok orang lantaran dituding sebagai pengikut Syiah. Kejadian itupun sontak membuat heboh publik.

Peristiwa itu sendiri terjadi saat Haddad Alwi mengisi selawat di Sukabumi. Ketika itu, ia justru sedang mengajak umat Islam para hadirin, dalam forum pengajian itu, untuk selalu melantunkan Shalawat Nabi.

Kasus tersebut saat ini tengah ditangani oleh pihak berwajib. Menanggapi perlakuan persekusi terhadap dirinya, Haddad Alwi mengunggah sebuah testimoni.

Dilansir dari laman Ngopibareng.id, Selasa, 24 Desember 2019, berikut testimoni Haddad Alwi:

Dalam wawancara dengan wartawan televisi, saya pernah membeberkan terus terang bahwa lirik lengkap lagu Ya Tahoibah itu berisi pujian untuk Rasulullah, Sayyidina Abubakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman, Sayyidina Ali, serta Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein.

Ketika wartawan itu menanyakan mengapa yang saya pilih adalah 2 bait yang terakhir, bukan 2 bait yang pertama, maka saya jawab bahwa nama Nabi Muhammad, Abubakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Ustman bin Affan sudah dikenal luas di dunia Islam, termasuk di Indonesia.

Sedangkan Hasan dan Husein, dua orang cucu Rasulullah yang disebut oleh beliau sebagai “pemimpin para pemuda surga”, masih jarang dikenal oleh kebanyakan Muslim di Indonesia.

Adakah saya bersalah atau berdosa karena mengenalkan Ali bin Abi Thalib dan kedua putranya yang juga cucu-cucu yang sangat dipuji dan dicintai oleh Rasulullah?

Jika memotong 2 bait pertama itu dianggap sebuah kesalahan, maka saya memohon maaf kepada masyarakat Muslim Indonesia.

Pada album Ramadhan 1435 H atau tahun 2012 ketika itu, “saya membayar kesalahan itu dengan membawakan lagu yang liriknya adalah 2 bait pertama yang saya potong itu, insya Allah.

Baca Juga:  Heboh, Bom Tas di Bengkulu Lukai Seorang Warga

Adapun pujian untuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang dikatakan ghuluw (berlebihan) dalam lagu Ya Thoibah, maka saya menduga hal itu berangkat dari kekurangpahaman orang-orang tertentu. Saya katakan demikian karena dalam sastra Arab ungkapan semacam itu adalah hal yang biasa.

Dalam sastra Arab, seringkali ada kata atau frase yang harus dimaknai secara majazi (kiasan), dan saya pikir dalam bahasa lain pun ada kasus semacam itu. Jadi frase minkumu mashdarul-mawaahib (darimu sumber keutamaan) mesti dimaknai secara majazi, bahwa yang dimaksud kalimat itu adalah “Sayyidina Ali bin Abi Thalib memiliki begitu banyak keutamaan; saking banyaknya sampai seakan menjadi sumber keutamaan.

”What’s wrong? Kasus semacam ini ada di hampir semua buku maulid seperti Maulid Syariful Anam, Maulid Ad-Diba’i, Maulid Al-A’zab, Maulid Barzanji, Maulid Simtudduror, Maulid Ad-Dia’ullami. Dalam buku-buku maulid itu, ada kalimat-kalimat yang dianggap ghuluw (berlebihan) oleh sebagian orang, salah satunya adalah ketika Rasulullah saw disebut sebagai nuurun fauqo nuurin (cahaya di atas cahaya).

Kalimat ini dianggap menyamai sifat yang selayaknya hanya milik Allah SWT seperti tersebut dalam Al-Quran surat An-Nur ayat 35 (nuurun ‘alaa nuurin = cahaya yang melingkupi cahaya).

Memang, jika kalimat-kalimat sastra itu harus dimaknai secara tekstual saja, maka saya pastikan beratus-ratus karya sastra terkemuka, termasuk semua buku Maulid Nabi yang sudah berusia berabad-abad itu.

Begitu pula lagu-lagu shalawat yang telah mewarnai dunia musik kita, akan hilang dari peredaran dan sirna dari pendengaran kaum Muslimin. (Tampaknya inilah yang dinginkan sebagian kalangan tertentu).

Kedua, berkaitan dengan kehadiran saya di lokasi pengungsian komunitas Syi’ah di kota Sampang, Madura. Saya tegaskan bahwa saya diundang oleh panitia relawan yang mengurusi para pengungsi Syi’ah itu untuk bershalawat dan menghibur anak-anak dan orangtua mereka yang mengalami trauma dan tekanan psikologis ̶ sebagian di antara mereka bahkan mengalami stress berat.

Baca Juga:  Kecam Tindakan Persekusi Terhadap Haddad Alwi, PBNU Bakal Lapor Polisi

Karena saya tidak menganggap orang Syi’ah itu kafir (sampai kapan pun saya tidak akan mengkafirkan Syi’ah), maka tidak ada alasan bagi saya untuk menolak undangan itu. Jangankan orang Syi’ah, andaikata saya diundang oleh komunitas Nasrani, Hindu, Budha, atau Konghucu untuk hal semacam itu, maka dengan alasan kemanusiaan saya akan hadir juga.

Di hadapan para pengungsi Sampang itu saya hanya memberikan penghiburan dengan mengajak mereka melantunkan shalawat Nabi sambil menenangkan hati mereka agar kuat secara mental dalam menghadapi musibah atau cobaan itu.

Saya juga memberikan nasihat agar mereka menghapus kebencian dan memaafkan semua orang yang berlaku aniaya terhadap mereka. Dalam kesempatan itu saya sama sekali tidak berbicara tentang mazhab, dan memang kehadiran saya itu tidak ada kaitannya dengan mazhab.

Saya menduga ada sebagian golongan umat Islam saat ini yang memegang prinsip-prinsip sebagai berikut:

• Syi’ah itu sudah pasti kafir.

• Siapa yang tidak mau mengkafirkan Syi’ah berarti dia adalah Syi’ah.

• Siapa yang bergaul dan berbaikan dengan orang Syi’ah, maka dia adalah Syi’ah.

• Siapa yang memuji tokoh-tokoh yang biasa dipuji oleh orang Syi’ah, maka dia termasuk golongan Syi’ah.

• Siapa yang memiliki kerabat Syi’ah, maka dia layak dianggap sebagai Syi’ah juga.

Kalau kita amati lebih cermat, stigmatisasi semacam ini ada kemiripannya dengan kasus PKI di masa Orde Baru. Di zaman itu, sedikit saja kita bersentuhan dengan orang atau atribut yang berbau PKI, maka serta-merta kita akan dicap sebagai PKI, lalu dicarikan alasan untuk dipenjarakan atau bahkan dibunuh tanpa diadili.

Baca Juga:  Kabar Gembira, Perda Pesantren Jabar Akhirnya Disetujui

Saya sedih, ngeri, dan jijik membaca dan melihat tayangan media yang mempertontonkan tindak kebrutalan dan kebiadaban orang-orang yang mengaku Islam. Dengan menyebut asma Allah mereka saling membunuh, memotong kepala, dan mencabik-cabik jasad.

Siapa yang mereka teladani? Apakah perbuatan semacam itu dapat dinisbatkan kepada Islam?

Mengapa agama suci ini dirusak dengan karakter-karakter manusia yang keras, kasar, intoleran, tak kenal ampun, pemarah, pendendam, kejam, bengis, dan bernafsu untuk menghabisi orang-orang yang tidak sefaham dengan mereka?

Kita adalah pemeluk sebuah agama yang dari segi namanya saja (Islam) berakar dari kata salama (kedamaian; keselamatan).

Tuhan kita adalah Allah, Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang, Mahasabar, dan Maha Pemaaf; yang kemurkaan dan azab-Nya pun bukan berlandaskan kekejaman atau kezaliman, melainkan disebabkan kasih-sayang-Nya jua. Nabi kita adalah Muhammad, insan paling mulia, kekasih Allah; seorang manusia yang kita dapati tak pernah berbohong, tak pernah bertindak zalim, tak pernah mencela, tak pernah menghina, lembut bertutur kata, rendah hati, pemaaf, penyabar, dan menyandang sederet kemuliaan akhlak lainnya.

Tidakkah seharusnya kita menjadi Muslim yang selalu berkaca dengan fakta-fakta tersebut di atas?

Sebaiknya kita sudahi hingar-bingar ini. Mari kita kembali kepada jati-diri Muslim yang sejati, menghiasi agama Islam dengan menjadi pribadi yang lembut dan senantiasa menebarkan kedamaian.

“Saya, Haddad Alwi, mencintai seluruh kaum Muslimin tanpa memandang perbedaan bangsa, suku, mazhab, aliran atau partai mereka. Dengan rendah hati saya maklumkan: inilah Haddad Alwi sesuai apa adanya.

“Biarkan saya seperti ini. Kalau prinsip yang saya pegang ini adalah benar, maka sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari Allah semata-mata. Tetapi jika prinsip yang saya pegang ini salah, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang terpendam di hati insani; semoga Dia berkenan mengampuni.”

Demikian testimoni Haddad Alwi, seperti dilansir dari Ngobareng.id yang dipetik dari akun facebook ala_nu.

Muhammad Fahri