Benarkah Penulisan Sejarah Terbentuk atas Kepentingan Politik Semata?

penulis sejarah adalah pemenang

“Sejarah merupakan dialog antara masa kini dengan masa lalu yang tiada akhir” (Edward Hallet Carr)

Pecihitam.org – Sejarah merupakan sebuah konstruksi perjalanan hidup manusia di masa lalu, baik itu perbuatan, tindakan atau apa saja yang berhubungan dengan manusia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebab itu maka Kepentingan daripada sejarah sendiri bukan untuk kepentingan masa lalu melainkan untuk kepentingan masa yang akan datang. Menurut kuntowijoyo maka cukuplah alasan tersebut menjadikan sebuah sejarah menjadi penting dan perlu untuk digali dan dipelajari.

Islampun mengajarkan manusia untuk selalu belajar dari masa lalu, mungkin itulah sebabnya banyak kisah-kisah (kejadian-kejadian) masa lalu dicantumkan dalam Al-Qur’an sebab agar bisa menjadi bahan pembelajaran bagi generasi selanjutnya.

Itulah sebabnya banyak tokoh besar Indonesia maupun dunia semacam Bung Karno, untuk tidak boleh meninggalkan sejarah. Sebab banyak hal yang bisa diambil untuk kemudian digunakan oleh manusia hari ini dan nanti.

Akan tetapi tidak sedikit dari masyarakat bahkan kalangan akademisi beranggapan bahwa sejarah ditulis atas kepentingan politik semata, atau hanya untuk kepentingan penguasa. Seperti yang dikatakan Sir John Seeley yang dikutip oleh Mark M. Kurg yakni “History is past politics” sejarah adalah politik masa lalu, tak ayal penulisan sejarah politik ini menuai banyak kritik yang sangat tajam.

Baca Juga:  Menjawab Tuduhan Tak Beradab Ustadz Badrussalam Terhadap Imam Ghazali

Kenapa Bisa Timbul Persepsi Demikian?

Jika kita membaca sebuah catatan-catatan sejarah baik yang ada di Indonesia maupun diseluruh dunia, maka yang akan banyak ditemukan adalah tentang sejarah raja-raja, dinasti-dinasti, para penguasa, sampai dengan timbul tenggelamnya sebuah pemerintahan.

Sehingga muncul anggapan bahwa dalam setiap penulisan sejarah seperti terdapat pola yang sama seperti halnya penulisan tentang kisah heroik para pemimpin dari masa ke masa baik dari zaman pra kemerdekaan sampai dengan hari ini.

Munculnya persepsi bahwa setiap generasi atau pemimpin akan punya pencatat sejarah yang akan mengangkat tentang sebuah prestasi yang sudah ditorehkannya. Itu menjadi contoh dari sekian banyak contoh yang ada. Sampai-sampai kemudian muncul adagium “Sejarah akan berpihak kepada yang mempunyai kuasa”.

Sedangian menurut Azyumardi Azra bahwa ada tiga alasan kenapa penulisan sejarah politik mendapat banyak kritik :

  1. Kehidupan dan kebudayaan manusia tercipta tidak hanya melalui perang semata melainkan melalui banyak cara seperti dengan kebudayaan dan hubungan sosial yang dibangun dengan baik. Jadi bukan hanya satu aspek politik saja sebab banyak aspek lain yang bisa disoroti para penulis sejarah.
  2. Faktor alam juga bisa menentukan sebuah peradaban yang bisa dikonstruksi sejarahnya. Artinya perjalanan hidup manusia juga bisa ditentukan oleh faktor alam seperti iklim atau lingkungannya.
  3. Dalam sejarah politik hanya mencatat perjalanan dan peran orang-orang besar saja sedangkan sekecil apapun yanh dilakukan oleh orang kecil akan memberikan sebuah pengaruh untuk proses perjalanan hidup manusia itu sendiri.
Baca Juga:  Tragedi Mihnah, Catatan Kelam Kekejaman Mu'tazilah dalam Sejarah Islam

Pergeseran Pandangan dan Corak Penulisan

Penulisan sejarah yang hanya memiliki pandangan tentang politik semata kemudian sedikit demi sedikit mulai bergeser dan menemukan sebuah corak baru yang bisa mewarnainya.

Setelah perang dunia usai lebih tepatnya ketika memasuki abad ke-20 penulisan sejarah memulai babak baru dengan memunculkan banyak sudut pandang untuk bisa disorotinya. Jadi tidak hanya terkait dengan politik saja akan tetapi sejarah tentang pendidikan, sosial ekonomi dan lain-lain mulai disentuh dan menjadi sebuah pembaruan dalam gaya penulisan sejarah.

Berbagai sudut pandang sejarah ini kemudian semakin berkembang dan bisa menjadi sebuah konstruksi penulisan sejarah yang objektif, sebab penulisannya mengangkat tidak hanya dari satu sudut pandang saja melainkan dari berbagai aspek yang bisa disoroti dalam penulisannya.

Baca Juga:  Bentuk Akulturasi Serta Interaksi Islam Dalam Budaya Jawa

Bahkan dewasa ini sejarah yang hanya memandang politik saja dianggap sebagai sejarah konvensional, jadul dan ketinggalan zaman. Sebab sudah banyak bermunculan seperti halnya sejarah sosial, sejarah intelektual atau sejarah pemikiran dan sejarah perkembangan kebudayaan manusia.

Dari situ kita bisa melihat dan menyimpulkan bahwa aspek dalam penulisan sejarah itu bukan hanya dari satu aspek politik saja melainkan banyak aspek yang bisa diangkatnya sebagai bagian dari konstruksi masa lalu yang akan berguna untuk masa kini dan masa yang akan datang.

Demikian semoga bermanfaat. Tabik.!

Fathur IM