Cara Bijak dalam Menyikapi Kritik dari Orang Lain Menurut Islam

menyikapi kritik

Pecihitam.org – Dalam hidup bermasyarakat, kita tidak akan pernah bisa lepas dari kritik atau bahkan hujatan orang lain yang berseberangan dengan kita.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ada yang menyikapi kritik dengan bijak ada pula yang menyikapinya dengan marah. Kritik sendiri sejatinya adalah upaya yang dilakukan oleh orang lain untuk mengoreksi atau memberbaiki diri kita yang dianggap kurang benar.

Banyak di antara kita yang kurang terima mendapat kritikan lantasan merasa sudah benar dan berada di jalan yang benar. Di sini, kita perlu ingat bahwa apa yang benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain.

Baiknya, kita perlu menempatkan pada posisi yang pas, yakni benar menurut diri kita dan juga orang lain. Dari sinilah kita bisa menjalani hidup secara benar dan proporsional.

Dengan kritik, orang bisa bekerja dan melakukan sesuatu secara lebih hati-hati. Sebab, kritik pada dasarnya membangun, sesuatu yang sifatnya membangun selalu baik adanya.

Untuk selalu berada di jalan kebenaran dan kebaikan, seseorang butuh kritikan agar ketika melakukan kekeliruan selalu ada yang mengingatkan dan mengoreksinya.

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang selalu benar. Nabi pernah bersabda bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Manusia bukanlah dewa atau tuhan yang selalu benar. Setiap kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan pastilah butuh kritikan agar sesegera mungkin bisa memperbaiki keadaan itu.

Baca Juga:  Benarkah Aksi Bom Bunuh Diri Merupakan Bagian dari Jihad?

Lantas, bagaimana Islam mengajarkan tentang menyikapi kritik? Apakah ajaran Islam sudah cukup lengkap dalam memberikan cara dalam menyikapi kritikan dari orang lain. Ini penting lantaran banyak orang sering terjebak pada sisi emosional daripada berpikir jernih ketika mendapat kritikan.

Sejatinya, dalam hidup ini, pujian dan kritikan merupakan dua hal yang saling berkelindan. Banyak orang lupa diri ketika dipuji seolah-olah dia sudah benar dan cukup sukses mengelola hidupnya.

Tapi ada pula orang yang mulia hidupnya karena dihujani kritikan, sebab orang itu dapat menerima kritik dengan bijak dan mampu menahan diri untuk tidak emosi atau tidak enak hati ketika dikritik.

Imam Syafi’i pernah berkata, bahwa ucapan orang tentang dirimu itu seperti batu besar. Engkau letakkan batu besar itu ke pundakmu, maka yang hancur justru tulangmu. Atau batu besar itu engkau jadikan sebagai fondasi bangunan, maka engkau akan tinggi dan mendapatkan kemuliaan.

Kritikan atau juga berupa hinaan orang pada diri kita memang tak bisa dihindari. Jangan marah atau berkeluh kesah dari kritikan itu. Hadapi saja dengan santun dan bijak. Karena cara kita menyikapi kritik akan menggambarkan karakter diri kita.

Baca Juga:  Goncangan Hizbut Tahrir di Tengah Memanasnya Kawasan Arab

Sebenarnya Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengelola kritikan orang lain agar membuat kehidupan kita semakin baik dan produktif.

Pertama, bersabarlah. Kita pasti akan mendapatkan pahala yang besar karena kesabaran menghadapi kritikan bahkan hinaan dari orang lain.

Dalam ajaran Islam, kesabaran merupakan sumber kemuliaan dan kemenangan, diam adalah sumber kekuatan untuk mengalahkan musuh, dan memaaafkan adalah sumber untuk mencapai pahala dan kemuliaan.

Karena pada hakikatnya, kritikan sering ditujukan pada orang-orang yang memiliki kualitas kehidupan yang tinggi dan mumpuni. Semakin pedas dan tajam kritikan yang kita terima, semakin tinggi pula kualitas hidup kita di hadapan orang lain dan di hadapan Allah.

Kedua, bersyukurlah ketika mendapatkan kritikan. Kadang kita bisa menemukan kelemahan diri kita dari kritikan orang lain. Simpul terkuat diri kita terletak pada simpul terlemahnya. Mengelola kelemahan diri adalah upaya terbaik dalam memperbaiki kualitas hidup kita.

Jika kita dikritik sebagai orang tak disiplin, ubahlah sikap hidup kita agar menjadi orang yang disiplin. Jika kita dikritik sebagai pemalas, perbaiki diri kita agar bisa jadi orang berintegritas dan penuh tanggungjawab. Jika perbaikan diri dilakukan, hasilnya adalah kelemahan hidup kita berubah menjadi kekuatan hidup kita.

Baca Juga:  Empirisme David Hume dalam Melihat Negara Pancasila

Ketiga, berterimakasihlah kepada para pengkritik. Jalin silaturahim dengan mereka agar harmoni kehidupan terjaga. Jangan pernah membungkam kritik karena itu justru menandakan kita merasa paling benar.

Padahal, tak ada manusia yang sempurna karena bersikap benar selamanya atau bahkan berbuat salah sepanjang hidupnya. Kritikan akan selalu menyadarkan tentang arti penting membenahi kekurangan diri. Dengan begitu, kita bisa lebih bersikap toleran dalam memahami sesuatu dan selalu menyesuaikan diri dengan orang lain di jalan yang benar.

Jalan terbaik untuk menerima kritikan dari orang lain adalah dengan cara merubah diri karena Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang akan jadi nista bila mau membenahi diri untuk jadi lebih baik.

Perbaikilah diri secara konsisten dan terus-menerus. Saat hidup kita makin baik dari waktu ke waktu dan mengakhiri hidup husnul khatimah, maka itulah yang dimaksud dengan kemenangan sejati, yakni kemenangan hidup di jalan Allah.

Rohmatul Izad

Leave a Reply

Your email address will not be published.