Rentetan Catatan Hitam Kasus Intoleransi Agama di Yogyakarta

Kasus Intoleransi Agama di Yogyakarta

Pecihitam.org – Ada apa dengan Yogyakarta? Kota yang terkenal toleran dan kaya akan budaya, kini seakan sudah semakin jauh dari nilai-nilai itu. Dalam beberapa tahun terakhir, rentetan catatan hitam kasus intoleransi agama begitu mewarnai kota ini. Betulkah di Yogyakarta menjadi tampat yang subur bagi tumbuhnya ekstremisme, radikalisme, dan intoleransi agama?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sejak dulu, Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar dan budaya yang cukup kondusif dan asri bagi para pendatang. Para turis, baik domestik dan mancanegara, sangat nyaman datang ke kota ini. Begitu pula para pendatang dari kalangan pelajar, mereka datang berbondong-bondong untuk sekolah dan kuliah di Yogykarata.

Keraton Yogya pun dijadikan simbol akan kekayaan budaya dan tradisi. Berbagai produk kebudayaan lahir di kota ini, yang juga sangat erat hubungannya dengan sejarah kerajaan Islam Jawa yang sampai saat ini masih dilestarikan. Yogya adalah jangkar budaya Jawa yang hingga kini masih eksis menjadi rujukan dari berbagai kalangan.

Sebagai kota yang cukup plural dan majemuk, Yogya termasuk dikenal sebagai salah satu kota yang sangat toleran dan sangat menghargai perbedaan.

Tapi itu dulu, kini, Yogya mengalami banyak sekali perubahan, mulai dari lingkungan kota yang sudah mulai sesak, macet di mana-mana, baliho-baliho besar yang membuat kota ini terlihat makin semrawut, dan juga yang paling memprihatinkan adalah berbagai rentetan kasus intoleransi agama yang membuat kota ini tercemar.

Baca Juga:  Peran Santri dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia

Berbagai kasus intoleransi agama di Yogyakarta memang cukup memprihatinkan, hal ini sangat kontra dengan kemajemukan. Bahkan, kasus kekerasan antarumat beragama cukup sering terjadi di Yogya. Ini menjadi salah satu bukti bahwa kota Yogya telah mengalami perubahan yang cukup besar.

Betapa kota ini menjadi tempat yang cukup subur bagi aneka kelompok dan gerakan agama yang sudah berkali-kali membuat masalah, kekerasan fisik, dan kegaduhan di lingkungan masyarakat atas nama “pemurnian ajaran Islam”.

Mulai dari kasus pembubaran paksa acara tradisi sedekah laut yang dianggap syirik sampai aksi penyerangan terhadap seorang pastor yang sedang memimpin ibadah di Gereja St. Lidwina, Sleman, Yogyakarta.

Boleh dibilang, berbagai kasus kekerasan atas nama agama ini menjadi masalah yang cukup serius. Hal ini mengantarkan Yogyakarta menjadi salah satu kota intoleran di Indonesia.

Menurut penelitian dari Setara Insitute yang ada di Yogyakarta, pertahun 2017, Yogya masuk sepuluh besar kota di Indonesia yang memiliki indeks toleransi sangat rendah.

Hasil penelitin ini juga belum mengungkap berbagai tragedi intoleransi agama yang terjadi di tahun 2018 dan 2019. Artinya, dari tahun ke tahun, ada banyak sekali kasus intoleransi agama yang terjadi di kota pelajar ini.

Pertanyaannya, kemana para penegak hukum dan pemerintah? Apakah mereka tidak mengupayakan yang terbaik bagi kota ini agar terhindar dari berbagai kasus intolernasi?

Baca Juga:  Fenomena Hijrah dan Proses Pencarian Identitas Diri

Selain itu, dilansir dari sumber tempo, tercatat sejak tahun 2014 hingga 2019, kira-kira dalam kurun lima tahun terakhir, rentetan catatan hitam kasus intoleransi agama di Yogyakarta sudah terjadi sebanyak 18 kali.

Di tahun 2014, terhitung sudah ada empat kasus intoleransi yang mewarnai kota Yogya. Kasus intoleransi itu diawali oleh sebuah peristiwa di Cangkrigan, Sleman, di mana polisi dan organisasi bernama Front Jihad Islam membubarkan perkemahan siswa Kristen di Bumi Perkemahan. Selanjutnya, Front Jihad Islam juga membubarkan pengajian rutin Minggu Pahing Majelis Ta’lim Raudlatul Jannah di Kasihan, Bantul.

Saya tidak akan menyebut semua kasus intoleransi itu di tulisan ini, yang jelas sejak tahun 2014 sampai 2019, berbagai kasus intoleransi agama cukup sering terjadi.

Tercatat, di tahun 2015 ada satu kasus, 2016 ada dua kasus, 2017 dua kasus, 2018 empat kasus, dan di tahun 2019 sebanyak empat kasus. Yang paling mutakhir, kasus yang menimpa Slamet Jumianto, seorang pelukis, yang ditolak ngontrak di Pleret, Bantul lantaran ia beragama Katolik.

Dari semua kasus tersebut, yang paling banyak terjadi di Kabupaten Bantul. Sepanjang 2019 setidaknya terjadi tiga kasus intoleransi di kabupatan ini.

Terkait berbagai kasus intoleransi ini, kita bisa membayangkan betapa upaya pemerintah Yogya untuk menanggakal kasus intoleransi ini cukup lembek dan kurang serius.

Baca Juga:  Menjadi Mursyid dalam Tradisi Tarekat

Pemerintah daerah rasa-rasanya kurang tegas dalam menangani kasus ini, artinya ketidaktegasan dari pemerintah daerah menjadikan aksi-aksi intolernasi begitu subur terjadi di berbagai tempat.

Harusnya, pemerintah dan aparat keamanan betul-betul bertindak tegas dan keras terhadap kelompok-kelompok ekstremis ini. Tidak seharusnya mereka dibiarkan berkeliaran dan membuat kegaduhan maupun keonaran di masyarakat.

Saya khawatir, Yogya yang sebelumnya dikenal begitu aman dan damai serta memiliki relasi antarkelompok agama yang juga berjalan dengan baik, kemudian berubah tak terkendali menjadi semakin intoleran, agresif, dan radikal. Cukuplah rentetan catatan hitam kasus intoleransi agama itu berakhir di tahun 2019.

Berbagai kasus ini kiranya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa agama harusnya hadir untuk merubah manusia agar menjadi manusia-manusia baru yang lebih baik, bukan malah menjadi tuhan-tuhan baru, dalam arti menjadi manusia yang suka menghakimi dan menyalahkan orang dan agama lain. Cukuplah Tuhan saja sebagai hakim dan pemutus dari setiap kebenaran yang diyakini manusia.

Rohmatul Izad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *