Inilah Beberapa Keutamaan Hafidz yang Tidak Dimiliki Orang Lain pada Umumnya

Inilah Beberapa Keutamaan Hafidz yang Tidak Dimiliki Orang Lain pada Umumnya

PeciHitam.orgAl-Qur’an memegang predikat sebagai kitab yang paling banyak dibaca dan dihafalkan oleh manusia. Hal ini bukan karena adanya keutamaan Hafidz Hafidzahnya (Penghafal al-Qur’an disebut dengan Hafidz dan Hafidzah), melainkan karena keotentikan yang dimiliki al-Quran.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Al-Qur’an mempunyai banyak fakta unik yang tidak dimiliki oleh kitab suci agama lainnya. Kitab suci agama Islam tersebut adalah kitab yang belum pernah mengalami perubahan sama sekali atau masih otentik, sama dengan ketika pertama kali diturunkan kepada Muhammad SAW.

Perubahan dalam mushaf al-Qur’an hanya mencakup penyempurnaan tulisan, tanda baca, syakal dan tata cara mempermudah pembacaan. Sebagaimana Abul Aswad Ad-Duali yang menginisiasi adanya tanda baca berupa titik dan harakat.

Jaminan Allah Menjaga Al-Quran

Al-Qur’an al-karim mendapat garansi dari Allah SWT akan terjaga keasliannya/ keotentikannya dari pemalsuan dan penyelewengan. Cara unik Allah SWT menjaga al-Qur’an tidak seorang-pun tahu secara pasti detailnya.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٩

Artinya; “Sungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Qs. Al-Hijr: 9)

Jaminan Allah SWT dalam ayat ini hanya menjelaskan bahwa Dia yang menjaga Al-Qur’an dengan kekuasaanNya. Namun umat Islam semuanya mafhum dan bahwa menghafalkan al-Qur’an oleh Muslim memiliki keutamaan-keutamaan yang agung.

Bisa jadi cara ini adalah garansi Allah SWT dalam ayat di atas untuk menjaga Al-Qur’an dengan menggerakan hati Muslim untuk menghafalkannya. Bukan perkara mudah dan instan bagi Muslim untuk menghafalkan Al-Qur’an dengan komposisi kitab tebal.

Mushaf Usmani, jilidan Al-Qur’an standar yang dipergunakan Umat Muslim seluruh dunia berkomposisi 30 Juz dan terdiri dari 114 surat. Persebaran komposisi surat bervariasi, dan surat terpanjang adalah surat Al-Baqarah (286 ayat) dan surat terpendek adalah al-Kautsar yang hanya 3 ayat.

Baca Juga:  Lima Konsep Hak-Hak Asasi Manusia atau yang Dikenal dengan Dharuriyyat Al Khams

Surat Al-Baqarah mencakup lebih dari 2 Juz, yang setiap Juz terdiri dari 18 lembar. Maka bagi seorang Hafidz dan Hafdizah harus memiliki landasan niat kuat dan kecerdasan baik untuk menghafalkan al-Qur’an. Namun Allah SWT sudah menjamin bahwa al-Qur’an merupakan kitab suci yang mudah untuk dihafalkan. Allah SWT berfirman;

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ (١٧

Artinya; “Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Qs. Qamar: 17)

Dalil penjaminan al-Qur’an oleh Allah SWT dan adanya kemudahan dalam menghafalkannya bisa jadi bukti bahwa al-Qur’an benar-benar sebagai mukjizat. Penulis yakin bahwa Allah SWT menggerakan hati hafidz dan hafidzah untuk menjaga ayat-ayatNya dengan mengabdikan diri dijalan Allah.

Sejarah menunjukan juga bahwa keilmuan Al-Qur’an terus berkembang dan dikembangkan oleh para Ulama dan Ilmuan. Bahkan tidak sedikit orang non-Muslim terkesima dengan struktur al-Qur’an yang sangat rapi dan bernilai sastra tinggi. Tidak lain, hal tersebut sebagai garansi Allah SWT menjaga Al-Qur’an untuk tidak mengalami perubahan.

Keutamaan Hafidz

Menghafalkan al-Qur’an memiliki banyak keistimewaan dan jaminan pahala besar dari Allah SWT sebagai balasan menjaga firmanNya didada. Tidak mengherankan pada era modern sekarang ini menjamur muncul pesantren, majlis taklim bahkan program sekolah formal menempatkan tahfidz atau menghafal al-Qur’an sebagai program unggulan.

Banyaknya pesantren tahfidz atau program tahfidz menunjukan antusiasme masyarakat untuk mempelajari al-Qur’an dan menghafalkannya sangat besar.

Hal ini tidak terlepas dari faidah yang didapatkan ketika seorang mampu menanamkan ayat al-Qur’an didadanya. Keutamaan hafidz dan hafidzah antara lain;

Lebih Diutamakan Menjadi Imam Shalat

Riwayat tentang keutamaan seorang hafidz menjadi Imam Shalat berasal dari riwayat Abu Mas’ud al-Anshari;

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة فإن كانوا في السنة سواء فأقدمهم هجرة فإن كانوا في الهجرة سواء فأقدمهم سلما ولا يؤمن الرجل الرجل في سلطانه ولا يقعد في بيته على تكرمته إلا بإذنه.

Baca Juga:  Menguak Fakta Dibalik Permintaan Nabi Muhammad Yang Ditolak Allah

Urutan keutamaan untuk orang menjadi Imam beurutan banyaknya hafalan yang dimiliki. Ketika ada dua orang yang memiliki hafalan sama maka pertimbangan selanjutnya adalah banyaknya menghafalkan dan memahami sunnah/ hadits.

Pertimbangan selanjutnya adalah orang yang dahulu mengikuti hijrah yang diperintahkan Nabi SAW. Jika masih ditemukan kesamaan maka dihitung orang yang lebih dahulu masuk Islam. Lewat hadits ini juga, Nabi SAW memperingatkan penentuan Imam atas dasar kekeluargaan dan kekuasan yang  dimiliki.

Hadits riwayat Imam Muslim tersebut mengindikasikan ketinggian derajat penghafal Al-Qur’an dibandingkan dengan orang yang memiliki sedikit hafalan. Maka hafidz bukan hanya tinggi derajatnya disisi Allah SWT, ia juga dianjurkan untuk dihormati dalam masyarakat.

Kisah meninggikan hafidz juga pernah terjadi pada masa Nabi SAW yang mana diriwayatkan dari Ibnu Umar RA. Beliau mengatakan bahwa Imam di Masjid Quba’ adalah seorang Budak Abu Hudzaifah bernama Salim Al-Ghulami. Dia diangkat menjadi Imam karena memiliki banyak hafalan tanpa memandang status sosialnya yang hanya seorang budak.

Mendapat Hak Lebih Utama

Sejurus dengan hadits dari Ibnu Umar RA tentang keutamaan hafidz, hadits Imam Bukhari di bawah ini menunjukan bahwa Hafidz lebih diutamakan haknya. Nabi SAW pernah memperlakukan Sahabat yang memiliki hafalan banyak sebagai berikut;

كان النَّبي صلى الله عليه وسلم يجمع بين الرجلين من قتلى ” أحد ” في ثوب واحد ثم يقول : أيهم أكثر أخذاً للقرآن ؟ فإذا أشير له إلى أحدهما قدَّمه في اللحد وقال : أنا شهيد على هؤلاء يوم القيامة وأمر بدفنهم في دمائهم ولم يغسلوا ولم يصل عليهم.

Dalam perang Uhud, Nabi SAW mengumpulkan Sahabat yang akan dimakamkan, dan bertanya kepada Sahabat lainnya, ‘Siapa dari mereka yang paling banyak menghafal al-Qur’an? Dan Sahabat menunjuk salah satunya. Kemudian Nabi SAW mendahulukan orang dengan hafalan lebih banyak, dan bersaksi untuknya di Hari Kiamat.

Ditemani Malaikat

Seorang Hafidz ketika membaca al-Qur’an diumpamakan sebagai orang yang selalu ditemani oleh malaikat. Sedangkan bagi mereka yang belum hafal dan berusaha untuk membacanya diberikann dua pahala.

Baca Juga:  Istimewa! Inilah Hikmah Tersembunyi Dibalik Baca Alhamdulillah Usai Bersin

مثل الذي يقرأ القرآن وهو حافظ له مع السفرة الكرام البررة ومثل الذي يقرأ وهو يتعاهده وهو عليه شديد فله أجران

Artinya; ‘sebagai permisalan orang yang membaca al-Qur’an padahal ia sudah menyimpannya didada. Maka orang tersebut ditemani malaikat yang mulia. Dan permisalan orang yang membaca Al-Qur’an untuk belajar membaca (dengan benar) maka ia mendapatkan dua pahala” (HR. Bukhari-Muslim)

Mendapat Mahkota Kemuliaan

Penghafal al-Qur’an akan mendapatkan mahkota berupa pahala yang menjadikan ia mulia di akhirat. Imam Tirmidzi meriwayatkan,

يجيء القرآن يوم القيامة فيقول : يا رب حلِّه ، فيلبس تاج الكرامة

Artinya;Al-Qur’an datang pada hari Kiamat dan berkata kepada Allah SWT, ‘Wahai Raab, Pakaikanlah. Maka ia (hafidz) memakai mahkota Kemuliaan’ (HR. Tirmdidzi)

Keutamaan seorang hafidz tersebut di atas adalah sebagian kecil dari keistimewaan penghafal al-Qur’an. Era modern sekarang ini sering memarginalkan metode menghafal sebagai metode kuno yang harus segera ditinggalkan. Namun hal tersebut tidak menyurutkan niatan para penghafal al-Qur’an untuk terus melestarikan ayatNya didada.

Keistimewaan seorang hafidz juga menunjukan hal menggembirakan karena banyak pihak yang mengapresiasi seorang penghafal al-Qur’an.

Program televise yang memperlombakan hafidz mendapat sambutan positif, bahkan Universitas banyak menyediakan kursi beasiswa bagi para hafidz dan hafidzah. Tidak lain sebagai bentuk penghormatan dan meninggikan al-Qur’an.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan