Salafi dan Wahabi, Ibarat Dua Sisi Mata Uang, Serupa Tapi Tak Sama

salafi

Pecihitam.org – Ada pengertian yang sedikit kabur antara Wahabi dan Salafi, apakah keduanya sama atau berbeda. Pasalnya, kaum Wahabi sering pula mengatasnamakan diri sebagai As-Salaf. Namun jika ditinjau dari kategorisasi historis, terdapat perbedaan di antara keduanya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Apa Itu Salafi?

Madzhab Salafi atau Salafisme awal mulanya muncul dari pertengahan hingga akhir abad ke-19. Mereka muncul sebagai respon terhadap berbagai perkembangan yang terjadi di dunia Islam, yaitu berkaitan dengan makin luasnya dominasi kaum imperialis Barat.

Dari situ muncullah tokoh-tokoh pembaharu sebagai gerakan intelektual di Universitas al-Azhar, yang dipimpin oleh Muhammad Abduh (1849-1905), Jamal al-Din al-Afghani (1839-1897) dan Rashid Rida (1865-1935).

Diantara tokoh-tokoh pembaharu di atas, Rasyid Ridha dikenal paling fundamentalis dan konservatif. Seperti Ibnu Abdul Wahhab, referensi langsungnya mengatasnamakan kepada masa lalu dan para pendahulu yang saleh (al-salaf al-shalih), karena itu gerakan mereka disebut sebagai Salafiyah.

Menurut pemaparan para peneliti Jamestown Foundation, gerakan ini dibangun di atas fondasi yang luas. Al-Afghani adalah seorang aktivis politik, sedangkan Abduh, seorang guru, mengusahakan reformasi sosial bertahap (sebagai bagian dari dakwah), khususnya melalui pendidikan.

Perdebatan tentang tempat masing-masing metode perubahan politik ini kemudian berlanjut hingga hari ini di kelompok yang dianggap mengikuti Salafi, seperti Ikhwanul Muslimin.

Kaum Salafi awalnya mengagumi kemajuan teknologi dan sosial dari Eropa, mereka kemudian mencoba untuk mendamaikannya dengan keyakinan bahwa masyarakat mereka sendiri adalah pewaris Zaman Keemasan Islam yang dipandu secara ilahi dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad Saw.

Nama Salafi berasal dari as-salaf as-saliheen (salafus shaleh) atau para pendahulu, meskipun beberapa dari mereka kemudian memperluas makna Salaf itu sendiri untuk memasukkan para ulama yang faqih di generasi selanjutnya.

Kaum Salafi berpendapat bahwa kaum Muslim terdahulu telah memahami dan mempraktikkan Islam dengan benar, namun kemudian mereka menganggap pemahaman yang benar tentang Islam perlahan-lahan luntur. Mereka mengibaratkan generasi setelah salfussaleh sama seperti kaum para Nabi sebelumnya (termasuk Musa dan Isa) telah tersesat dan semakin luntur ajarannya.

Baca Juga:  Curang, Salafi Wahabi Menukil Kitab I'anatuth Thalibin Secara Serampangan

Dari angapan itulah mereka lantas termotivasi untuk menafsirkan kembali Islam terdahulu dengan rasionalitas sendiri yang tujuannya menemukan kembali agama yang lebih ‘modern’.

Persamaan dan Perbedaan Salafi – Wahabi

Akibat situasi politik yang berkembang di dunia Arab, era 1960-an tercipta hubungan yang lebih erat antara Salafi dan Wahabi, yaitu ketika tejadi perang dingin antara kubu Mesir dan Arab Saudi.

Di bawah payung organisasi Liga Dunia Muslim yang dibentuk Arab Saudi tahun 1962, kaum Salafi dan Wahhabi kemudian bermesraan. Para anggota Ikhwan al-Muslimin di Mesir (dan belakangan di Suriah) hampir sulit disalahkan jika mereka mendekatkan diri kepada Arab Saudi, mengingat serangan-serangan yang mereka terima di negeri mereka sendiri.

Padahal kekhawatiran mereka sangat beralasan, yakni semakin prihatin dengan cengkeraman imperialisme asing. Mungkin itulah sebabnya orang-orang dengan kecenderungan Salafi seperti Rasyid Ridha, yang dengan perasaan kecewa tengah mencari seorang pahlawan, mulai bersimpati pada Wahhabisme.

Di tengah transformasi Islam yang berkembang di Timur Tengah saat itu, salah satu yang dikenal bercorak keras adalah yang lahir dari buah pemikiran Sayyid Quthb (w. 1960).

Awalnya ia menggambarkan kondisi masyarakat kontemporer sebagai neo-Jahiliyyah, namun kemudian ditafsirkan secara radikal oleh aliran Islamis yang lebih muda dan ekstrem di Mesir (dan di beberapa tempat di Timur Tengah).

Implikasi paling serius yang telah dielaborasi adalah konsep takfiri. Salafi menganggap kaum Muslim nominal (Islam “KTP”) adalah kafir, oleh karena itu secara potensial mereka diperbolehkan dibunuh.

Watak radikal itulah barangkali yang membuat sebagian orang menyamakan Salafisme dan Wahhabisme adalah sama. Memang Salafisme memiliki sejumlah kesamaan pandangan keberagamaan dengan Wahhabisme, tetapi juga terdapat perbedaan yang cukup mencolok

Adapun yang membedakannya adalah Wahabisme menganggap dirinya sebagai Islam murni dan menolak pengaruh modern. Sedangkan Salafisme memiliki kesadaran dan pengetahuan mengenai krisis politik dan sosial-ekonomi yang melanda dunia Islam dan berusaha merekonsiliasi Islam dengan modernisme.

Baca Juga:  Mimpi Bertemu Nabi Muhammad, Adakah Riwayat Tentang Hal Ini dari Beliau?

Perbedaan di atas bisa ditarik sekali lagi bahwa istilah Salafisme dikaitkan dengan kategorisasi historis, sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Meski saat ini agak kabur untuk membedakan keduanya, terutama yang berkembang di Indonesia.

Adapun kesamaan yang mereka miliki yaitu keduanya menolak praktik-praktik Islam tradisional (yang bercampur dengan budaya lokal yang dianggap tak sesuai ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad dan mendukung penafsiran langsung dan fundamental dari ajaran Islam yang murni.

Gerakan Salafisme dan Wahhabisme

Ideologi Salafisme dan Wahhabisme dibangun di atas teks agama yang didefinisikan secara sempit. Secara metodologis, mereka sangat literalis dan puritan dalam pendekatan terhadap teologi dan hukum Islam.

Dalam hal yurisprudensi, Salafi dan Wahabi menganut mazhab dan aturan Hanbali. Namun, banyak dari mereka mengklaim tidak mengikuti mazhab tertentu. Sebagai gantinya, mereka selalu menggaungkan kepada istilah kembali ke Al-Quran dan Sunnah.

Namun bagi orang yang mempelajari pandangan mereka dalam yurisprudensi akan menemukan asal-usul mereka (Salafi) di mazhab fiqh Hanbali. Bahkan Ibnu Taimiyah (seorang teolog Islam terkenal pada abad pertengahan) dan muridnya, Ibn Qayyim (dua cendekiawan yang paling banyak dianut oleh Salafi dan Wahhabi) ternyata banyak mengadopsi metodologi mazhab Hanbali.

Dalam prakteknya, untuk menjaga kemurnian Islam, Salafi dan Wahhabi berupaya untuk memerangi apa yang mereka pandang sebagai suatu yang sesat seperti berdoa kepada makam, memuliakan ‘tempat suci’ dan ‘orang suci’.

Bagi mereka hal-hal demikian dianggap sebagai syirik, kufur, riddah (murtad), dan bid’ah. Mereka dengan kuat menolak kepercayaan dan praktik apa pun yang dianggap tidak diperintahkan oleh Alquran dan Sunnah Nabi.

Misalnya, Salafi dan Wahhabi mengklaim bahwa praktik sufi seperti tawassul (perantaraan antara manusia dan Tuhan) yang telah terjadi selama berabad-abad sejak periode murni Islam, mengancam tauhid (monoteisme atau kepercayaan akan keesaan Tuhan).

Mereka percaya bahwa bid’ah dihasilkan dari adopsi budaya lokal oleh misionaris Islam dalam upaya mereka untuk menarik mualaf baru. Namun, perpaduan antara Islam dan adat ini secara signifikan membantu proses konversi ke Islam dengan membuatnya dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas.

Baca Juga:  Fiqih Sosial Sebagai Penghubung antara Kelompok Fundamental dan Liberal ala KH Sahal Mahfud

Secara ideologis, Salafisme lebih luas dari Wahhabisme. Pemikiran Salafi telah ada selama ratusan tahun dan telah menyebar ke seluruh dunia Muslim dan sekitarnya. Sedangkan Wahabisme baru ada sejak pertengahan abad ke-18.

Meskipun benar bahwa Wahhabisme adalah Salafisme, itu hanya salah satu dari banyak orientasi Salafi. Karena Salafi dan Wahhabi meski ibarat dua sisi mata uang, namun bukan dari mata uang yang sama.

Macam-Macam Salafi

Suatu ketika dalam sebuah seminar, Mohammad Nuruzzaman, Kepala Bidang Kajian Strategis GP Ansor menjelaskan, bahwa terdapat tiga jenis salafi di antaranya salafi dakwah, salafi sururi, dan salafi jihad.

Pertama salafi dakwah. Mereka tidak mengganggu negara namun kajiannya tidak ahlus sunnah, sebab banyak kandungan intoleransi dan tidak berakhlak. Artinya mereka menganggap umat lain selain mereka pasti salah.

Kedua, salafi sururi. Mereka membunuh orang-orang yang sedang beribadah terutama yang tidak segolongan dengan mereka. Di Indonesia sendiri juga ada orang-orang salafi susuri yang suka melakukan provokasi dan memimpin demonstrasi.

Ketiga, salafi jihad. Menurut orang-orang ini rukun iman kelima adalah jihad dan hukumnya fardlu ain. Di Indonesia juga tidak sedikit orang-orang yang menganut paham ini. Tujuan mereka ingin mendirikan negara Islam. Meski di Indonesia mereka kerap bilang ingin tegakkan Pancasila, itu kemungkinan bohong karena ikhwanul Muslimin pada nyatanya mendirikan negara Islam.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik