Hati-Hati, Inilah Dalil Bid’ah yang Paling Sering Disalah Artikan

Hati-Hati, Inilah Dalil Bid'ah yang Paling Sering Disalah Artikan

PeciHitam.org Kesempurnaan al-Qur’an sebagai kitab rujukan hukum Islam yang paling utama tidak sepenuhnya sempurna dipahami oleh umat  Islam. Banyak orang yang mengklaim diri sebagai Ulama dengan leluasa menafsirkan al-Qur’an dan mengaksikannya dengan jalan tidak sesuai.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kiranya fenomena demi berjilid-jilid yang dilakukan oleh sekelompok golongan yang mengatas-namakan umat Islam sedikit banyak menciderai nalar sehat.

Orasi yang memekakan telinga dalam demo tersebut disebut-sebut sebagai aksi bela agama, aksi bela Al-Qur’an bahkan aksi membela Allah SWT, apakah Allah SWT selemah itu?

Pun mereka mendasarkan sebuah aksi dari tafsir yang dipahami sebagai kebenaran subektif kelompoknya. Lebih jauh, aksi tersebut digunakan sebagai sarana Pansos (Panjat Sosial) untuk menaikan daya tawar golongan mereka. Bukankah cara-cara ini bentuk lain dari membela ‘tafsir nafsu’? Dan bukan seperti teriakan mereka yakni membela Agama, Islam atau Tuhan.

Dalil Bid’ah yang Disalah Pahami

Kepentingan penulis dalam pembahasan Bid’ah adalah menempatkan amaliah Muslim di Nusantara sebagai amaliah yang memiliki pondasi dalil shahih. Hal ini guna mengcounter, mematahkan tuduhan-tuduhan kaum salafi wahabi bahwa amaliah di Nusantara sangat lekat dengan bid’ah dan neraka.

Baca Juga:  13 Fatwa Menyimpang Nashiruddin al Albani yang Jauh dari Akidah Aswaja

Entengnya golongan salafi wahabi ketika mengajukan argumentasi kepada golongan Ahlussunnah wal Jamaah sebagai ahlu bid’ah, penyembah kuburan dan sesat sangat menyakitkan perasaan.

Keberislaman di Nusantara di wasilahi dengan perjuangan panjang dan berat, kemudian menjadi tertuduh ahlu bid’ah, sesat oleh salafi wahabi yang baru muncul ketika revolusi Arab Saudi pada awal abad ke-18.

Teks hadits tentang bid’ah oleh kaum salafi wahabi yang  kemudian banyak dibajak, ditafsiri dengan model penafsiran sesuai nalar golongan mereka tanpa memperhatikan pendapat Ulama salaf. Salah satu redaksi Hadits yang sering dibajak adalah;

إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا ، وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لَا يَرْضَاهَا اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا

Artinya; “Barangsiapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Tirmidzi)

Mayoritas amaliah yang banyak diamalkan di Nusantara sering tertuduh sebagai amaliah bid’ah dan disebut amaliah pemesan tiket neraka. Manaqiban, Diba’aan, Istighasahan, Yasinan, Tahlilan, Mitoni, Tujuh Harian, dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Konsep Bid’ah Menurut Syaikh Hasyim Asy’ari, Berikut Penjelasannya

Amaliah tersebut yang hakikatnya berisi doa bersama dipandang oleh salafi wahabi sebagai penyelewengan Ibadah yang akan mendapat konsekuensi masuk Neraka.

Menempatkan Bid’ah pada Porsinya

Bid’ah yang dimaksud dalam hadits Rasulullah SAW sangat jelas diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Bid’ah yang dimaksud adalah mengadakan Ibadah yang terlarang antara lain perbuatan Larangan Shalat terus menerus tanpa Istirahat, Larangan berpuasa setahun penuh tanpa jeda (Puasa Dahr), dan Larangan untuk bersumpah tidak menikah sama sekali. Maka wurudlah hadits;

أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Artinya; “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku” (HR. Bukhari)

Model bid’ah seperti inilah yang mendapat larangan dari Rasulullah SAW, bukan Yasinan yang di dalamnya hanya berisi runtutan doa-doa bagi orang meninggal. Bukan manaqiban yang hanya berisi cerita biografi para Aulia Allah SWT sebagai bentuk mengulang-ulang cerita hikmah.

Baca Juga:  Ketika Hijrah Hanya Dipahami Sebagai Ibadah Mahdah

Bukan Tahlilan yang  di dalamnya selalu terpanjat kalimah Laa Ilaha Illallah dan kalimah Thayyibah lainnya. Bukan pula Istighasah yang di dalamnya berisi munajat dengan doa-doa muttasil yang disandarkan kepada Nabi SAW dan Ulama-ulama salaf.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan