Rasa Takut Manusia pada Allah Tidaklah Sama, Berikut Derajat-Derajatnya

Rasa Takut Manusia pada Allah Tidaklah Sama, Berikut Derajat-Derajatnya

PeciHItam.orgRasa takut adalah hal yang sangat manusiawi, setiap manusia pastilah mempunyai ketakutan akan sesuatu hal yang tidak mampu dia hadapi, entah itu dengan yang kasat mata bahkan yang tidak.

Yang akan dibahas di sini bukan takut yang demikian melainkan rasa takut akan Allah. Dalam hal ini, manusia mempunyai perasaan takut ditimpa azab dan siksa Allah lantaran sesuatu kesalahan (dosa) yang telah dilakukannya, atau mungkin sedang dilakukannya.

Takut pada Allah yang dirasakan setiap muslim tidaklah sama, melainkan terdapat perbedaan yang signifikan atas sebesar apa takutnya, dan apa yang ditakutinya.

Derajat-Derajat Takut

Hasbi dalam bukunya Kuliah Ibadah: Ibadah ditinjau dari Segi Hukum dan Hikmah membagi dua kelompok takut:

Kelompok pertama, takut akan Allah. Yang masuk dalam kelompok ini adalah orang yang mempunyai jiwa yang sejahtera, itikad yang khalish bersih dan penglihatan mata hati yang jernih yang mampu menyelami rahasia-rahasia sifat Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, yang karenanya terpampang kehebatan Allah di penglihatannya dan tumbuh rasa takut kepada Allah.

Kelompok kedua, takut akan azab Allah. Kelompok ini ditempati oleh semua manusia. Tiap-tiap manusia dapat memperoleh derajat ini apabila ia percaya akan adanya pembalasan di hari akhirat dan adanya surga dan neraka. Oleh karena itu hendaklah kita menumbuhkan rasa takut akan Allah dan rasa takut akan azab-Nya yang sangat pedih dan sangat keras, walaupun kita merasa bahwa kita tidak bersalah apa-apa.

Baca Juga:  Hakikat Manusia Menurut Ajaran Tasawuf Imam Al-Ghazali

Ditegaskan Hasbi, faktor yang terpenting untuk menghasilkan takut akan azab Allah ialah ilmu dan makrifat yang mempengaruhi jiwa. Ketakutan seperti inilah yang dialami oleh para sahabat dan para tabi’in sehingga ada diantara mereka yang jatuh pingsan dikala mendengar ayat yang menakutkan (takhwif). Ia menyebutkan beberapa contoh mengenai ini: Abu Bakar, Umar, Abu Dzar, Ali ibn Huzain, dan Hasan Al-Bashri.

Abu Bakar, disebabkan rasa takut kepada Allah, berkata kepada seekor burung: “Wahai, alangkah berbahagia aku ini, sekiranya aku dijadikan sebagai engkau [burung], tidak sebagai seorang manusia.”

Umar pernah jatuh rebah dan kemudian menderita sakit setelah mendengar ayat takhwif. Pada suatu hari, beliau mengambil sebutir biji kopi, lalu berkata, “Wahai, alangkah baiknya kalau aku dijadikan sebagai engkau; wahai alangkah baiknya kalau aku belum dilahirkan oleh ibuku.

Mendengar keadaan Umar itu, Ibn Abbas bertanya, “Mengapakah tuan setakut ini, bukankah tuan telah dijadikan khalifah, me nguasai Negara Islam dan mengerjakan berbagai rupa kebajikan?” Umar menjawab, “Saya ingin bebas dari dunia dengan tidak ada perhitungan (hisab).

Abu Dzar pernah berkata: “Saya lebih suka menjadi sebagai sepotong kayu saja.”

Ali ibn Huzain apabila telah berwudhu, mukanya tampak sangat pucat. Istrinya bertanya, “Mengapakah selalu saya lihat mukamu menjadi pucat setelah berwudhu?” Beliau menjawab, “Tahukah kamu di hadapan siapa saya akan berdiri ini?

Baca Juga:  Benarkah Jika Sudah Bertasawuf Tidak Perlu Lagi Syariat? Ini Penjelasannya

Pernah seorang bertanya kepada Hasan Al-Bashri, “Bagaimana kesehatan tuan pagi ini?” Beliau menjawab, “Baik.” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana keadaan tuan?

Mendengar pertanyaan itu, Hasan Al-Bashri tersenyum, lalu berkata, “Engkau menanyakan keadaanku? bagaimana pendapatmu tentang segolongan orang yang berlayar di lautan lepas dengan sebuah kapal yang sampai di tengah lautan, kapal yang mereka tumpangi itu pecah, lalu masing-masing penumpangnya memegang sekeping papan?” Orang itu menjawab, “Tentu saja mereka sangat sukar dan genting.”

Mendengar jawaban tersebut, Hasan pun berkata, “Keadaanku lebih sukar dan lebih genting dari mereka.”

Berdasarkan hal tersebut, tegas Hasbi dalam bukunya Kuliah Ibadah: Ibadah ditinjau dari Segi Hukum dan Hikmah, maka yang dikehendaki takut dalam konteks ini adalah:

bukanlah takut kanak-kanak, yang hanya sebentar saja. Tetapi takut yang dapat menghalangi kita dari maksiat dan dapat meneguhkan kita selalu dalam taat. Juga bukan takut olok-olok yang apabila datang bencana, lalu berkaok-kaok: Rabbana sallimna min jami’il-bala (Wahai Tuhan kami, selamatkan kami dari pada bala bencana. Mereka jalan berkeliling memburu setan padahal sebenarnya merekalah yang diburu setan.)

Pandangan Hasbi ini hampir mirip dengan pandangan Syaikh Abdul-Qadir Al-Jilani dalam kitab al-Fath Al-Rabbani wa Al-Faidh Al-Rahmani:

Allah Swt adalah Zat yang layak ditakuti dan diharapkan kendati seandainya Dia tidak menciptakan surga atau neraka. Oleh karena itu, taatilah Allah karena mengharapkan keri dhaan-Nya, bukan karena mengharap pemberian-Nya atau karena takut azab-Nya. Ketaatan kepada Allah adalah dengan cara melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya serta senantiasa bersikap sabar atas ketentuan takdir-Nya. Bertobatlah kepada-Nya, dan mena ngislah di hadapan-Nya, dan rendahkanlah dirimu dengan cucuran air mata dan hatimu. Sebab, menangis adalah ibadah dan merupakan puncak dari sikap merendahkan diri. Apabila engkau meninggal dalam keadaan bertobat, disertai niat yang benar dan amal yang suci, niscaya Allah akan memberikan manfaat kepadamu dan melindungi orang-orang yang diza limi…. hendaklah engkau senantiasa melazimkan rasa takut dan tidak banyak berangan-angan, hingga engkau berjumpa dengan Tuhanmu.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG