Bersyukur Atas Musibah yang Menimpa, Nikmatnya Luarrr Biasa!

Bersyukur Atas Musibah yang Menimpa

Pecihitam.org – Semua manusia pastilah tidak ingin ditimpa yang namanya musibah atau bencana. Sebisa mungkin kita menghindarinya dan bahkan kita memohon perlindungan kepada Allah SWT untuk dijauhkan darinya, contohnya sperti musibah kefaqiran, kesakitan, ketakutan dan semua bencana yang terjadi.  

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Namun tahukah anda, bahwa dalam setiap musibah tersebut ada beberapa hal yang patut dijadikan bahan untuk bergembira dengannya, sehingga pada akhirnya dalam suatu musibah juga terdapat nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang juga patut membuat kita bersyukur atas musibah yang menimpa. Oleh karena itu, maka berhimpunlah syukur dan sabar dalam satu keadaan.

Bukankah dua hal ini (sabar dan syukur) kelihatannya saling berlawanan? bagaimana mungkin dapat berhimpun? berikut kita simak penjelasannya!

Suatu musibah itu terkadang dapat menimbulkan kesedihan apabila kita melihatnya hanya dari satu sudut pandang, padahal jika kita lihat dari sudut lainnya, masih ada kegembiraan didalamnya.

Kesabaran terhadap musibah adalah untuk mengimbangi rasa sedih dan dukacita, sedangkan kesyukuran adalah untuk mengimbangi segi yang satunya, yakni kegembiraan.

Perlu kita ketahui yang bahwa setiap kemiskinan, kesakitan, ketakutan dan semua bencana di dunia ini di dalamnya itu ada lima perkara yang semestinya dijadikan bahan kegembiran/kenikmatan tuk disyukuri. Lima perkara itu adalah:

1. Tidak ditimpa Musibah Yang Lebih Parah Dari Ini

Setiap bencana atau kesakitan itu dapat dibayangkan yang lebih besar dan lebih mengerikan dari pada yang  dihadapinya atau yang sedang dideritanya.

Baca Juga:  Kondisi Syatahat yang Dialami Para Sufi Seperti Al-Halaj hingga Berkata "Ana Al-Haq"

Bayangkanlah bagaimana kiranya bencana atau kesakitan tersebut dilipat gandakan atau ditambah oleh Allah SWT, apakah kiranya dapat ditolak atau dihalang-halangi kedatangannya? tentu tidak.

Nah, oleh karena demikian patutlah orang yang sedang tertimpa bencana atau yang sedang sakit itu bersyukur kepada Tuhan atas musibah tersebut, sebab tidak sampai diberi bencana atau sakit yang lebih dahsyat dan lebih menyedihkan di dunia ini.

Terutama jikalau semua itu ditanggulanginya dengan kesabaran, maka pahalanya akan berlipat ganda pula, sedang keburukannya dapat dikurangi degan sebab kesabarannya tadi.

2. Sebagai Musibah Dari Keteledorannya dalam Beragama

Datangnya bencana itu mungkin sekali sebagai musibah yang dikarenakan kurangnya keta’atan dalam agama. Oleh karena itu, dalam sebuah keterangan disebutkan satu doa yang diajarkan Nabi Isa a.s kepada kita, bunyinya:

اللهمّ لا تجعل مصيبتنا فى ديننا

Artinya : Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah kami ini sebab keteledoran kami dalam mengerjakan agama.

3. Sebagai Siksaan Yang Disegerakan

Hendaklah dibayangkannya, bagaimanakah kiranya apabila suatu musibah atau bencana itu tidak diberi kepadanya di dunia, akan tetapi diakhirkan sampai di akhirat kelak. Bukankah lebih baik disiksa di dunia ini saja ketimbang dinantikan sampai hari pembalasan sesungguhnya?.

Semua orang hendaknya mengingat selalu bahwa bencana di dunia ini masih dapat diringankan dengan hal-hal yang lain sehingga akan dirasakan tidak seberapa bagi penderitaannya dalam tubuh dan jiwa, sedangkan bencana akhirat adalah kekal selama-lamanya.

Baca Juga:  Menemukan Keseimbangan Duniawi dan Ukhrawi dari Pemahaman Hubungan Tasawuf dengan Etos Kerja

Maka dari itu hendaklah dibayangkan bahwa musibah yang diterimanya di dunia ini mudah-mudahan saja sebagai siksaan  yang disegerakan semasa hidupnya di alam yang fana ini agar supaya itdak merasakannya lagi kelak di akhirat. Lalu jikalaulah demikian, maka mengapa bencana yang bahkan dapat menyebabkan keselamatan dirinya kelak diakhirat tidak disyukuri ?

4. Musibah Ini Adalah Yang Terakhir

Sebenarnya semua bencana atau musibah itu sudah ditentukan secara pasti dan tercatat tanpa ada yang kuasa tuk mengubahnya selain Allah Ta’ala sendiri. Ketentuan dan catatan itu sudah ada sejak zaman azali di Ummul Kitab (Catatan Induk) yang ada disisi Allah SWT.

Semua yang sudah ditentukan dan dipastikan akan datang juga. Jadi jikalau sudah dialami, berarti sudah selesai dan orang yang terkena itu sudah terlepas dari sebagian bencana yang dipastikan untuknya, atau sudah terlepas sama sekali, sebab sudah tidak lagi bencana yang tercatat untuknya selain yang telah dialaminya itu.

Jikalau demikian, maka tibanya musibah atau bencana tadi adalah sebagai kenikmatan pula, sebab sudah terlepas dari bencana yang tertentu.

5. Sebagai Obat Yang Bermanfaat

Mesti diketahui dan di mani bahwasanya pahala yang akan diperolehnya tentu lebih besar lagi dengan sebab adanya musibah tersebut. Karena bencana dunia ini adalah sebagai jalan untuk menuju ke akhirat dan semua bencana dalam urusan keduniaan itu dapat diumpamakan sebagai obat yang pahit yang akan memberikan kemanfaatan dihari yang akan datang.

Baca Juga:  Tasawuf Pada Masa Khulafaur Rasyidin dan Sahabat Nabi Lainnya

Demikianlah lima hal yang mesti disadari oleh seseorang yang sedang ditimpa musibah atau bencana. Bila ini dapat di insafi dengan baik, maka ia pasti dapat membayangkan bagaimana caranya hendak bersyukur atas musibah yang menimpanya.

Sedangkan orang yang tidak dapat menyadari lima hal tersebut, pastilah sukar untuk menggambarkan bagaimana suatu musibah atau bencana itu malahan disyukuri.

Memang sudah kita maklumi bersama, bahwa pahala sabar diatas musibah itu sangatlah luar biasa, dan lima hal diatas tadi dapat menjadikan musibah yang kita alami menjadi kenikmatan. Namun bukan berarti kita mengharapkan datangnya musibah atau bencana tersebut, itu gagal paham namanya.

Rasulullah SAW bersabda :

سلوا الله العافية, فما أعطي احد افضل من العافية الاّ اليقين

Artinya : Mintalah kamu semua kepada Allah kesehatan (keselamatan dari bencana), sebab tidak seorang yang diberi karunia oleh Allah yang lebih dari itu melainkan keyakinan. (HR. Ibnu Majah dan Nasai)

Dan juga didalam doanya, beliau SAW berkata :

وعافيتك احبّ اليّ

Artinya : Keselamatan yang Engkau Karuniakan adalah yang terlebih kucintai. (HR. Ibnu Ishaq)

Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahua’lambisshawab !

{Referensi: Disarikan dari kitab Ihya ‘Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali rahimahullah.}

Muhammad Haekal