Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah Sebagai Suri Tauladan Yang Baik

Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah Sebagai Suri Tauladan Yang Baik

PeciHitam.org – Akhlak memiliki peran yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Terlebih dalam menjaga keharmonisan hubungan antara Allah, sesama manusia, binatang, dan lingkungan. Untuk itu, kita perlu meneladai akhlak mulia dari sosok yang benar benar diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, yaitu Nabi Muhamamd saw.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah memerintahkan kepada kita untuk bersikap baik kepada semua hal, seperti yang tertuang dalam firman-Nya:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia”  (Al-Baqarah: 83)

Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin Juz III, mendefinisikan akhlak sebagai suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tampa memerlukan pertimbangan pikiran (terlebih dulu).

Jika sifat tersebut timbul dari perbuatan-perbuatan yang baik dan terpuji secara aqli dan syar’i, maka dinamakan akhlak yang baik(akhlak mahmudah). Begitu juga sebaliknya, jika ia timbul dari perbuatan-perbuatan-perbuatan yang buruk maka dinamakan akhlak buruk (akhlak mazmumah).

Akhlak yang mulia mendorong manusia untuk berbuat baik kepada manusia dalam pergaulannya sehari-hari mereka adalah salah satu tugas nabi yang palinh penting seperti diketahui bahwa Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. Tugas yang diemban Nabi ini merupakan kedudukan yang paling tinggi. Nabi juga diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Jika kita perhatikan, ada pertautan yang kuat antata keduanya, yaitu tidak akan ada rahmat bagi seluruh alam kecuali dengan akhlak.

Baca Juga:  Barus Sebagai Titik Nol Islam di Nusantara, Benarkah?

Rasulullah SAW merupakan figur yang memiliki akhlak paling sempurna, Allah berfirman di dalam Al-Qur’an;

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab 33:21)

Berkaitan dengan akhlak yang mulia ini, Rasulullah SAW bersabda,

انما بعثت لاتمم صالح الاخلاق

“Aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan kebaikan akhlak.” (Imam Ahmad dari Sa’ied bin Manshur dari Abdul ‘Aziez bin Muhammad dari Muhammad bin ‘Ajlaan dari al-Qa’qaa’ bin Hakiem dar Abi Shaleh dari Abu Hurairah).

Baca Juga:  Bukan Cuma Bukhari dan Muslim, Ini Macam Macam Kitab Hadis yang Harus Kamu Ketahui

Hadits di atas mengisyaratkan bahwa akhlak merupakan ajaran yang diterima Rasulullah dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi umat yang pada saat itu dalam masa jahiliah. Dimana manusia mengagungkan hawa nafsu, dan sekaligus menjadi hamba hawa nafsu. Inilah yang menjadi alasan kenapa akhlak menjadi syarat penyempurna keimanan seorang karena keimanan yang sempurna yaitu mampu menjadi penggerak kebaikan dalam diri seseorang baik secara vertikal maupun horisontal. Artinya, keimanan yang mampu menggerakkan seseorang untuk senantiasa berbuat baik kepada sesama manusia.

Ayat yang paling sarat memuji Nabi akhir zaman Muhammad SAW adalah ayat yang berbunyi: وَاِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Sesungguhnya engkau (hai Muhammad) memiliki akhlak yang sangat agung.” (QS.al-Qalam: 4)

Kata khuluq yang berarti akhlak secara linguistik mempunyai akar kata yang sama dengan khalq yang berarti ciptaan. Bedanya adalah kalau khalq lebih bermakna ciptaan Allah yang bersifat lahiriah dan fisikal, maka khuluq adalah ciptaan Allah yang bersifat batiniah.

Menurut Imam Ghazali, akhlak yang mulia memiliki empat perkara yaitu bijaksana (arif), memelihara diri dari sesuatu yang tidak baik(wira’i), keberanian (menundukkan hawa nafsu) dan mampu bersifat adil.

Baca Juga:  Imam Bukhori Pun Dianggap Bukan Muslim oleh Albani

Terakhir, untuk menutup tulisan ini, izinkan saya menulis kutipan dari Gus Mus (KH. Mustofa Bisri), “Hampir semua orang beragama mengaku menyintai Allah, tapi mungkin tidak terlalu banyak yang berusaha mengikuti jejak Rasul-nya, kecuali dalam pengakuan. Ini boleh jadi karena keengganan untuk lebih mengenal Rasulullah SAW sebelum mengaku mengikuti jejaknya.”

Mohammad Mufid Muwaffaq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *