Surah Al-Kahfi Ayat 37-41; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Kahfi Ayat 37-41

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Kahfi Ayat 37-41 ini, Allah swt menerangkan jawaban Yahuza untuk membantah pemikiran saudaranya itu. Qurthus, pemilik kebun yang kaya itu, memandang Yahuza rendah karena kemiskinannya. Sebaliknya, Yahuza memandang Qurthus rendah karena kekafirannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Setiap insan sadar akan dirinya, bahwa pada mulanya dia tidak ada, kemudian menjadi ada. Tidak mungkin kehadirannya ke alam wujud ini dihubungkan oleh dirinya sendiri. Satu-satunya Zat yang bisa menghubungkan kejadiannya itu ialah Penciptanya yaitu Allah Rabbul Alamin.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi Ayat 37-41

Surah Al-Kahfi ayat 37
قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا

Terjemahan: Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya — sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?

Tafsir Jalalain: قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ (Kawannya yang Mukmin berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya) seraya menjawab apa yang telah dikatakannya tadi, أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ (“Apakah kamu ingkar terhadap Rabb yang telah menciptakan kamu dari tanah) karena Nabi Adam diciptakan dari tanah dan dia sebagai anak cucunya

ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ (kemudian dari setetes air mani) setetes sperma ثُمَّ سَوَّاكَ (lalu Dia menyempurnakan bentukmu) merampungkan bentukmu dan menjadikanmu رَجُلًا (sebagai seorang laki-laki)”.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman dalam menceritakan jawaban yang diberikan kawannya, seorang yang beriman, seraya memberikan nasihat kepadanya serta mengecam kekafiran dan kesombongannya kepada Allah.

أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ (“Apakah kamu kafir kepada Rabb yang menciptakanmu dari tanah?”) Yang demikian ini merupakan penolakan terhadap temannya sekaligus sebagai pengagungan terhadap Allah Ketika terjadi pengingkaran dalam dirinya terhadap Rabbnya yang telah menciptakannya dan memulai penciptaan manusia dari tanah, yaitu Adam, lalu Dia ciptakan keturunannya dari setetes air yang hina (jijik).

Sesungguhnya tidak ada satu pun makhluk melainkan mengetahui bahwa sebelumnya ia tidak ada dan kemudian ada. Keberadaannya bukan oleh dirinya sendiri, dan juga bukan disandarkan kepada makhluk lainnya, karena segala sesuatu itu sama kedudukannya seperti dirinya. Maka ia mengetahui, bahwa keberadaannya itu harus ia sandarkan kepada yang mengadakannya, yaitu Allah yang tiada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia, pencipta segala sesuatu.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan jawaban Yahuza untuk membantah pemikiran saudaranya itu. Qurthus, pemilik kebun yang kaya itu, memandang Yahuza rendah karena kemiskinannya. Sebaliknya, Yahuza memandang Qurthus rendah karena kekafirannya.

Dalam percakapannya dengan Qurthus, dia menyatakan bahwa tidak patut dia mengingkari kekuasaan Allah yang menciptakan dirinya dari tanah? Bukankah makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau hewan itu dari tanah juga? Dari makanan dan minuman itu terbentuk sel-sel yang akhirnya menjadi nuthfah.

Nuthfah berkembang tahap demi tahap karena mendapat makanan, baik dari protein nabati ataupun hewani, sehingga menjadi seorang laki-laki seperti Qurthus. Bagaimana seseorang dapat mengingkari kekuasaan Allah, sedangkan kejadiannya menunjukkan dengan jelas akan adanya kekuasaan itu.

Setiap insan sadar akan dirinya, bahwa pada mulanya dia tidak ada, kemudian menjadi ada. Tidak mungkin kehadirannya ke alam wujud ini dihubungkan oleh dirinya sendiri. Satu-satunya Zat yang bisa menghubungkan kejadiannya itu ialah Penciptanya yaitu Allah Rabbul Alamin.

Untuk meyakinkan adanya hari kebangkitan, Allah menjelaskan proses kejadian manusia, sebagaimana firman-Nya: Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani. (al-hajj/22: 5)

Surah Al-Kahfi Ayat 38
لَّكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 21; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.

Tafsir Jalalain: لَّكِنَّا (Tetapi aku) lafal Laakinna asalnya merupakan gabungan antara lafal لَّكِنَّ dan Anaa, kemudian harakat huruf Hamzah Anaa dipindahkan kepada نَّ lafal Laakin; atau huruf Hamzah Anaa dibuang kemudian huruf نَّ lafal Laakin diidgamkan kepada Na, sehingga jadilah Laakinna هُو (mengatakan) lafal هُوَ mengandung dhamir Sya’an yang dijelaskan oleh kalimat sesudahnya; artinya, aku mengatakan,

اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا (“Allah adalah Rabbku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku)”.

Tafsir Ibnu katsir: orang yang beriman itu berkata: لَّكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي (“Tetapi aku percaya bahwa) Dialah Allah, Rabbku.”) Maksudnya, tetapi aku tidak mengatakan seperti perkataanmu, aku mengakui keesaan dan ke-Rububiyyah-an Allah. Walaa usyriku birabbii ahadan

وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا (“Dan aku tidak menyekutukan seorang pun dengan Rabbku.”) Maksudnya, tetapi Dia adalah Allah, satu-satunya sembahan, yang tiada sekutu bagi-Nya.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan pernyataan Yahuza kepada saudaranya yang kafir itu bahwa dia tidak sependapat dengannya. Dia berkeyakinan tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah yang memelihara makhluk, Yang Maha Esa, dan Mahakuasa. Yahuza juga mengatakan bahwa dia tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.

Pendirian saudaranya bahwa Allah tidak kuasa membangkitkannya dari kubur sama sekali tidak dapat diterima Yahuza karena menganggap Allah lemah dan sama dengan makhluk. Hal demikian, menurutnya, sama dengan syirik.

Sikap Yahuza yang tegas di hadapan saudaranya yang kaya itu sangat terpuji, meskipun dia dalam keadaan fakir yang berkedudukan sebagai seorang yang meminta pekerjaan, namun dengan penuh keberanian, dia menyatakan perbedaan identitas (hakikat) pribadinya, yaitu perbedaan yang menyangkut akidah atau keimanan kepada Tuhan.

Surah Al-Kahfi Ayat 39
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا

Terjemahan: Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,

Tafsir Jalalain: وَلَوْلَا (Mengapa tidak) إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ (kamu katakan sewaktu kamu memasuki kebunmu) sewaktu kamu merasa takjub dengan kebunmu itu, مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ (“Ini adalah apa yang telah dikehendaki oleh Allah; tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah?)” di dalam sebuah hadis telah disebutkan, “Barang siapa yang diberi kebaikan (nikmat), baik berupa istri yang cantik lagi saleh atau pun harta benda yang banyak, lalu ia mengatakan,

مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ (Ini adalah apa yang dikehendaki oleh Allah, dan tiada kekuatan melainkan berkat pertolongan Allah), niscaya ia tidak akan melihat hal-hal yang tidak disukai akan menimpa kebaikan tersebut.

إِن تَرَنِ أَنَا (Jika kamu anggap aku ini) lafal Anaa merupakan dhamir Fashl yang memisahkan antara kedua Maf’u أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا (lebih sedikit daripada kamu dalam hal harta dan anak).

Tafsir ibnu katsir: Allah Ta’ala berfirman: وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا (“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu: ‘Maa syaa Allah, laa quwwata illaa billaah’ [sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah]. Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.’”)

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 52-53; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Yang demikian itu merupakan anjuran dan dorongan untuk mengucapkan hal tersebut. Artinya, jika kebun itu membuatmu bangga ketika kamu memasukinya dan kamu melihatnya, maka panjatkanlah pujian kepada Allah atas nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepadamu dan Dia telah memberimu harta kekayaan dan juga keturunan yang tidak diberikan kepada selain dirimu. Dan hendaknya kamu mengucapkan: مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.

Oleh karena itu, sebagian ulama Salaf mengemukakan: “Barangsiapa yang merasa bangga atas keadaan, kekayaan, atau keturunannya sendiri, maka hendaklah ia mengucapkan:

مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّه.” Kalimat tersebut diambil dari ayat di atas, dan dalam hadits shahih juga telah ditegaskan, dari Abu Musa, bahwa Rasulullah pernah bersabda kepadanya: “Maukah kamu aku tunjukkan salah satu dari beberapa perbendaharaan surga? Yaitu kalimat, لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّه [tiada daya dan tiada upaya melainkan hanya dengan (pertolongan) Allah].”

Tafsir Kemenag: Yahuza lalu meneruskan kata-katanya kepada Qurthus, “Seharusnya kamu mengucapkan syukur kepada Allah ketika memasuki kebun-kebunmu dan merasakan kagum terhadap keindahannya. Mengapa kamu tidak mengucapkan pujian kepada Allah atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepadamu, berupa harta dan anak yang banyak yang belum pernah diberikan-Nya kepada orang lain.”

“Katakanlah “masya Allah” ketika itu, sebagai tanda pengakuan atas kelemahanmu di hadapan-Nya, dan bahwa segala yang ada itu tidak mungkin terwujud tanpa izin dan kemurahan-Nya. Di tangan-Nya nasib kebun-kebun itu, disuburkan menurut kehendak-Nya ataupun dihancurkan menurut kehendak-Nya pula.

Mengapa kamu tidak mengucapkan la quwwata illa billahi (tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) sebagai tanda pengakuan bahwa tidak ada kekuatan yang dapat memakmurkan dan mengurusnya kecuali dengan pertolongan Allah swt.” Ayat ini mengandung pelajaran tentang zikir yang baik diamalkan. Nabi Muhammad saw berkata kepada sahabatnya, Abu Hurairah:

Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu perbendaharaan surga yang terletak di bawah Arasy? Aku menjawab, “Ya, saya mau.” Rasul berkata, “Kamu membaca la quwwata illa billahi.” (Riwayat Imam Ahmad dari Abu Hurairah)

Demikian pula banyak hadis-hadis Rasul saw yang mengajarkan kepada umatnya sewaktu mendapat nikmat dari Allah supaya dia mengucapkan bacaan itu, Rasulullah saw bersabda:

Setiap Allah swt memberikan kepada seorang hamba nikmat pada keluarga, harta, atau anak lalu dia mengucapkan “masya’ Allah, la quwwata illa billah”, tentu Allah menghindarkan dia dari segala bencana sampai kematiannya, lalu Rasulullah membaca ayat 39 Surah al-Kahf ini. (Riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Mardawaih dari Anas r.a.)

Setelah Yahuza selesai menasehati saudaranya supaya beriman, dan sudah menjelaskan tentang kekuasaan Allah swt, mulailah dia menanggapi perkataan saudaranya yang membanggakan harta dan orang-orangnya. Yahuza berkata, “Jika kamu memandang aku lebih miskin daripada kamu, baik mengenai harta kekayaan, maupun mengenai anak buah, maka tidaklah mengapa bagiku.”.

Surah Al-Kahfi Ayat 40
فَعَسَى رَبِّي أَن يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا

Terjemahan: maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin;

Tafsir Jalalain: فَعَسَى رَبِّي أَن يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّن جَنَّتِكَ (Maka mudah-mudahan Rabbku, akan memberi kepadaku kebun yang lebih baik daripada kebunmu ini) jumlah kalimat ayat ini menjadi Jawab daripada Syarat pada ayat sebelumnya

وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا (dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan kepada kebunmu) lafal حُسْبَانًا adalah bentuk jamak dari kata Husbanah artinya petir مِّنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا (dan langit, hingga kebun itu menjadi tanah yang licin) tanah yang sangat licin sehingga telapak kaki tidak dapat berpijak padanya.

Baca Juga:  Surah An Nas; Terjemahan, Tafsir dan Keistimewaannya

Tafsir ibnu katsir: Firman-Nya: َعَسَى رَبِّي أَن يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّن جَنَّتِكَ (“Maka mudah-mudahan Rabbku akan memberi kepadaku [kebun] yang lebih baik daripada kebunmu ini.”) Yakni, di alam akhirat. و

َيُرْسِلَ عَلَيْهَا (“Dan mudah-mudahan Dia mengirimkan kepadanya,”) yakni kepada kebunmu di dunia yang kamu kira tidak akan hancur dan binasa. حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاءِ (“Ketentuan dari langit.”)

Ibnu Abbas, adh-Dhahhak, Qatadah, dan Malik mengatakan, dari az-Zuhri, yakni, adzab dari langit. Secara lahiriyah ayat, ketentuan dari langit adalah hujan yang sangat lebat yang menumbangkan semua tanaman dan pepohonannya.

Oleh karena itu, ia berkata: فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا (“Sehingga [kebun itu] menjadi tanah yang licin.”) Maksudnya, menjadi tanah yang halus lagi licin, yang tidak ada satu kaki pun yang bisa berdiri tegak di sana. IbnuAbbas mengatakan, tanah lapang yang tidak tumbuh sesuatu apa pun.

Tafsir Kemenag: Namun aku mengharapkan agar Allah mengubah keadaanku, memberi aku kekayaan, dan menganugerahkan kepadaku kebun yang lebih baik daripada kebunmu karena imanku kepada-Nya. Sebaliknya, Allah swt akan melenyapkan kenikmatan yang diberikan-Nya kepadamu karena kekafiranmu, dan Dia akan menghancurkan kebun-kebunmu dengan mengirim petir dari langit yang membakar habis semuanya, sehingga menjadi tanah tandus yang licin.

Surah Al-Kahfi Ayat 41
أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا

Terjemahan: atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”.

Tafsir Jalalain: أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا (Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah) lafal Ghauran bermakna غَوْرًا, diathafkan kepada lafal Yursila, bukan kepada lafal يُصْبِحَ, karena pengertian Ghaural Mai atau kekeringan air tidak ada kaitannya dengan masalah petir

فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا (maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi)” kamu tidak akan menemukan upaya lagi untuk menjadikannya kembali.

Tafsir ibnu katsir: Dan firman-Nya: أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا (“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah,”) yakni, surut masuk ke dalam bumi, dan itu berlawanan dengan cumber yang mengeluarkan air. Di sini, orang itu berkata:

أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا (“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.”) Kata al-ghaur berkedudukan sebagai mashdar yang berarti ghaa-ir (surut), yang mana kata tersebut (al-ghaur) lebih tepat artinya.

Tafsir Kemenag: “Atau Allah menghancurkan kebun-kebun itu dengan bencana dari bumi dengan jalan menghisap air yang mengalirinya dan masuk ke dalam perut bumi, sehingga kamu tak dapat berbuat apa-apa untuk mencari air itu lagi.”

Demikianlah harapan Yahuza yang mukmin itu, agar Allah memperlihat-kan kekuasaan-Nya secara nyata kepada orang yang kafir dan sombong itu. Dengan turunnya hukuman itu, baik berupa bencana dari langit ataupun dari bumi, manusia yang kafir itu bisa menjadi sadar.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al- Isra’ ayat 37-41 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S