Diam Itu Emas; Perhiasan bagi Orang Alim dan Tirai Penutup Kebodohan

Diam Itu Emas; Perhiasan bagi Orang Alim dan Tirai Penutup Kebodohan

Pecihitam.org – Sering kali kita dengar perkataan “Diam itu Emas”,
dan ternyata dalam ungkapan itu banyak hikmah yang harus kita ambil. Dari pada berbicara ngawur tanpa tujuan lebih baik diam. Sederhana nya seperti itu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dari sinilah, diam ia akan menjadi perhiasan bagi orang alim dan penutup akan ketidaktahuan atau kebodohan.

Rasulullah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, “Diam itu ibadah yang paling tinggi” (HR. Ad-Dailami) 

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Abu Syaikh, Rasulullah bersabda, “Diam adalah perhiasan bagi orang alim dan penutup bagi orang bodoh”. (HR. Abu asy-Syaikh) 

Namun diam yang dimaksud di sini adalah diam dari membicarakan hal yang tidak bermanfaat atau hanya oborolan sia-sia, terlebih jika pembicaraan yang mengandung dosa.

Sudah sepatutnya bagi orang berakal untuk berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan pembicaraan, salah satunya agar diselamatkan dari pertikaian dan permusuhan.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Baca Juga:  Bahasa Arab; Asal-Usul, Ragam Dialek Hingga Hubungannya dengan al Quran

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِى بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِى النَّارِ

Sesungguhnya seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa, padahal dia akan dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan karenanya. (HR. Tirmidzi)

Suatu ketika nabi sedang berada dalam majlis bersama para sahabatnya, beliau menyinggung mengenai orang yang tidak menjaga lisannya, sebagaimana riwayat Imam Bukhari

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ

Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam. (HR. Bukhari)

Banyak permasalahan yang berawal dari ucapan. Oleh karena itu, diam merupakan ibadah yang paling tinggi tingkatannya.

Baca Juga:  Azazil, Dari Langit ke 7 Allah Jatuhkan Makhluk Ini, Siapakah Dia?

Diam itu adalah emas. Diam akan mengantarkan kewibawaan, dan menjadi simbol seseorang yang dalam akan keilmuannya. Begitupun orang yang bodoh selama orang itu diam, maka kebodohannya akan tertutupi.

Ternyata diam itu menjadi tingkah laku yang paling utama dengan menghindari pembicaraan yang tidak menghasilkan pahala.

Sehingga akan diselamatkan dari permushan atara satu orang dan orang yang lainnya. Namun, hanya segelintir orang saja yang mau menahan diri dari pembicaraan yang tidak bermakna tersebut.

Mereka sering kali mengedepankan egonya dan akhirnya membawa kepada permusuhan.

Dari Ibn Umar ra, bahwa Rasulullah bersabda, “Diam itu himkah namun sedikit sekali yang melakukannya”. (HR.Qadha’i) 

Diam yang dimaksud di sini dapat mengandung unsur kebaikan dan menghantarkan ketenangan jiwa bagi pelakunya, sehingga terhindar dari pembicaraan orang lain yang ingin menjatuhkan harkat dan martabat seseorang.

Ada kisah menarik tentang kehidupan Abu Bakar yang bisa kita jadikan teladan dalam hal istiqomah bersikap diam.

Baca Juga:  Dua Keistimewaan Hari Senin dan Kamis yang Jarang Diketahui

Diceritakan, Abu Bakar sering memasukkan batu kerikil ke dalam mulutnya. Ini beliau lakukan dengan tujuan agar lebih banyak diam dan tidak berbicara kecuali untuk hal-hal yang jelas ada manfaatnya.

Ada sebuah ungkapan penyair tentang diam,

Wahai orang yang banyak bicara, kurangilah sedikit, sungguh engkau telah bicara panjang-lebar.

Sungguh engkau telah andil dalam keburukan, sekarang diamlah jika engkau ingin kebaikan. 

Faisol Abdurrahman