Doa Melihat Ka’bah, Yang Hendak Umrah Wajib Tahu

Doa Melihat Ka’bah, Yang Hendak Umrah Wajib Tahu

PeciHitam.org – Ka’bah adalah tempat yang sakral bagi orang Islam, karena Ka’bah menjadi qiblat bagi orang yang hendak melakukan rukun islam kedua dan terakhir. Tertentu bagi orang yang mampu melakukan ibadah haji dan umrah, mengunjungi ka’bah pastilah menjadi keberuntungan tersendiri. Maka dari itu, sebagai perwujudan rasa pengaguman dan pengagungan terhadap ka’bah, terdapat riwayat khusus terkait teks doa melihat ka’bah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Seperti yang disampaikan Imam Abdurrahman al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatu al-Ahwadziy bi Syarh Jami’ at-Tirmidzi :

روى الشافعي في مسنده عن ابن جريج أنّ النبيّ صلى الله عليه وسلم كان إذا رأى البيت رفع يديه، وقال:

اللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ شَرّفَهُ وَكَرّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ وَاعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتَكْرِيمًا وَتَعْظِيمًا وَبِرًّا

Artinya:

Imam Syafi’i meriwayatkan dalam musnadnya dari Ibnu Juraij, bahwa Nabi Muhammad SAW jika melihat Ka’bah maka Beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa:

Ya Allah, tambahkan lah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya diantara mereka yang berhaji atau yang berumroh padanya dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran dan kebaikan.”

Baca Juga:  Begini Doa Masuk Istana ala Ketua BPIP Prof Yudian Wahyudi

Imam Syafi’i mengatakan setelah meriwayatkan hadits tersebut:

ليس في رفع اليدين عند رؤية البيت شيء فلا أكرهه ولا أستحبّه

Artinya: “Mengangkat tangan ketika melihat Ka’bah bukanlah apa-apa maka aku tidak memakruhkannya juga tidak mensunnahkannya.” (Lihat: Tuhfatu al-Ahwadziy bi Syarh Jami’ at-Tirmidzi, cet.2, Imam Abdurrahman al-Mubarakfuri, Kairo, 2013)

Dalam beberapa riwayat ada yang menyebutkan doa tersebut tetapi semuanya dhaif atau lemah sehingga tidak bisa diyakini sebagai bagian dari sunah Rasulullah SAW dan beberapa riwayat tersebut diantaranya:

  • Riwayat Makhul dari Rasulullah SAW (Mushanaf Ibnu Abi Syaibah, 6:71).

Riwayat ini dhaif karena Makhul ialah seorang tabi’in sementara dia membawakan riwayat dari Rasulullah SAW sehingga termasuk hadits mursal dan hadits mursal termasuk hadits dhaif.

Serta disamping itu perawi di bawah Makhul ialah Abu Said as-Syami yang mana al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Abu Said as-Syami ialah seorang pendusta. (at-Talkhis al-Habir, 2:242)

  • Riwayat Ibnu Juraij dari Rasulullah SAW.
Baca Juga:  Kumpulan Dzikir Petang Lengkap dengan Latin, Arti dan Fadhilahnya

Riwayat tersebut disebutkan oleh Syafi’i dalam musnadnya dari Said bin Salim dari Ibnu Juraij, yang mana Ibnu Juraij termasuk tabi’in Junior sehingga riwayatnya dari Rasulullah SAW termasuk riwayat mu’dhal atau ada 2 generasi perawi yang hilang dan hadits mu’dhal tidak bisa dijadikan dalil.

Hadits yang berisi doa tersebut oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dijelaskan dalam kitab al-Talkhis:

وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم

Maknanya: “Ini termasuk riwayat mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi SAW.” (Lihat: Tuhfatu al-Ahwadziy bi Syarh Jami’ at-Tirmidzi, cet.2, Imam Abdurrahman al-Mubarakfuri, Kairo, 2013)

  • Riwayat Hudzaifah bin Usaid dari Rasulullah SAW.

Riwayat tersebut disebutkan at-Thabrani dalam al-Kabir dan dalam sanadnya ada Ashim bin Salman al-Kauzi yang dinyatakan para ulama sebagai pendusta. (Mizan al-I’tidal, 2:351)

Baca Juga:  Amalan Doa Sapu Jagad: Doa dari Al Quran untuk Segala Hajat

Semua riwayat yang menyebutkan doa ini ialah riwayat yang dhaif sehingga tidak dijumpai adanya dalil yang cukup kuat bahwa Rasulullah SAW yang mengajarkan doa khusus ketika melihat Ka’bah, maka dapat diambil kesimpulan sesuai perkataan Imam Syafi’i bahwa mengangkat tangan saat melihat Ka’bah bukanlah suatu hal yang makruh dan bukan juga sunnah.

Maka kembali ditegaskan bahwa doa di atas tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan tata cara haji ataupun umrah serta ada sebagian ulama ada yang sama sekali tidak mengamalkannya seperti misalnya Imam Malik.

Demikian penjelasan doa ketika seseorang melihat Ka’bah, dan adapun doa melihat Ka’bah cukup dari kandungannya saja dapat diketahui bahwa doa tersebut baik untuk diamalkan karena berdoa ketika melihat suatu hal yang indah dianjurkan dalam Islam.

Mochamad Ari Irawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *