Darimana Asal Redaksi Adzan dan Doa Sesudah Adzan? Begini Penjelasannya

Darimana Asal Redaksi Adzan dan Doa Sesudah Adzan? Begini Penjelasannya

PeciHitam.org Adzan merupakan panggilan akan didirikannya shalat berjamaah. Corong-corong Masjid dan Mushalla akan selalu mengeraskan suara adzan sebagai pengingat dan seruan kepada kaum Muslimin untuk segera menanggalkan pekerjaan sementara dan memenuhi panggilan Allah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Adzan sebagai seruan untuk shalat menandakan bahwa ibadah shalat sangat-lah penting dan istimewa dalam Islam. Adzan sendiri sebagai seruan shalat tentu baru dibutuhkan setelah shalat diwajibkan dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Simak penjelasan sejarah Adzan dan Redaksi Adzan serta Doa setelah Adzan.

Sejarah Adzan

Kumandang Adzan terdengar oleh telinga umat Islam pertama kali pada tahun pertama Nabi pindah ke Yatsrib atau Madinah. Pada tahun pertama Nabi pindah ke Madinah, timbul berbagai tantangan tentang bagaimana cara mengingatkan orang Islam untuk pergi berjamaah shalat di Masjid.

Awal-awal syariat shalat ada, orang muslim sudah dengan sadar akan berkumpul menunaikan ibadah shalat bersama Rasulullah. Setelah pindah ke Madinah, orang Islam berkembang dan banyak, mengakibatkan banyak dari mereka terkadang lalai untuk melaksanakan shalat jika tidak diingatkan. Usulan para sahabat untuk penanda shalat bermacam-macam.

Beberapa Sahabat Rasul mengusulkan untuk menggunakan Lonceng sebagai penanda waktu shalat, akan tetapi tertolak karena menyamai dengan orang Nasrani/ Kristen. Usul lainnya yakni menggunakan terompet, ternyata juga tertolak karena menyerupai dengan orang Yahudi.

Sedangkan usul lainnya, yakni menyalakan obor api di menara supaya bisa terlihat orang-orang Madinah dari kejauhan sebagai penanda waktu shalat. Usul terakhir ini-pun tertolak karena menyamkan diri dengan orang-orang Majusi.

Seluruh usul pertama ini tertolak, kemudian Umat bin Khattab mengajukan usul kepada Nabi Muhammad SAW untuk menunjuk seorang petugas guna memanggil orang-orang untuk shalat berjamaah. Orang yang serahi tugas ini adalah Bilal bin Rabbah.

Pemilihan Bilal bin Rabbah sebagai muadzin berdasarkan kriteria bahwa suara lantang dan merdu dan berdedikasi tinggi dalam Islam. Bilal juga sangat menghayati kalimat-kalimat adzan, berdisiplin tinggi, dan berani.

Baca Juga:  Doa Masuk dan Keluar Kamar Mandi Beserta Adabnya

Cerita di atas sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Sahihnya;

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلَوَاتِ وَلَيْسَ يُنَادِى بِهَا أَحَدٌ فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِى ذَلِكَ فَقَالَ بَعْضُهُمُ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى وَقَالَ بَعْضُهُمْ قَرْنًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ فَقَالَ عُمَرُ أَوَلاَ تَبْعَثُونَ رَجُلاً يُنَادِى بِالصَّلاَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم « يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَة

Pada keadaan buntu seperti ini, Sahabat Abdullah bin Zaid menghadap Rasulullah dan bercerita tentang mimpi yang dialaminya. Abdullah bin Zaid bercerita bahwa dia mimpi melihat seruan untuk shalat/ adzan. Mimpi tersebut ia alami pada malam sebelumnya.

Dalam mimpi tersebut, dia didatangi oleh seseorang yang membawa lonceng berpakaian jubah Hijau. Abdullah dalam mimpinya berniat untuk membeli lonceng, akan tetapi pria berjubah Hijau menyarankan untuk membaca redaksi Adzan yang kita kenal sekarang ini.

Pembelajaran yang dialami oleh Abdullah bin Zaid diceritakan kepada Rasulullah SAW dengan lengkap. Nabi menyukai lafadz yang diucapkan oleh Abdullah bin Zaid. Beliau bersabda supaya Abdullah bin Zaid mengajari Bilal bin Rabbah lafadz Adzan dalam mimpinya.

قَالَ أَرَادَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِى الأَذَانِ أَشْيَاءَ لَمْ يَصْنَعْ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ فَأُرِىَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ الأَذَانَ فِى الْمَنَامِ فَأَتَى النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ أَلْقِهِ عَلَى بِلاَلٍ

Riwayat hadits ini berasal dari kitab Abu Dawud, bahwa Abdullah menceritakan mimpi berupa teks redaksi adzan untuk dijarkan kepada Bilal yang sudah ditunjuk sebagai petugas penyeru/ pemanggil orang-orang untuk shalat.

Redaksi Adzan

Adzan yang didapatkan dalam mimpi Abdullah bin Zaid disampaikan kepada Rasulullah SAW ternyata sesuai dengan wahyu yang didapatkan oleh beliau. Oleh karenanya Rasulullah langsung menyetujui dengan redaksi yang disampaikan oleh Abdullah bin Zaid sebagai berikut;

Baca Juga:  Doa Sesudah Adzan dan Iqamah serta Amalan Sunnahnya

اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ – أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ – اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ – حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ – حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ – اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ – لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ

Allahu Akbar Allahu Akbar

Asyhadu alla ilaha illallah

Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah

Hayya ‘alash sholah hayya ‘alash sholah

Hayya ‘alal falah hayya ‘alal falah

Allahu Akbar Allahu Akbar

La ilaha illallah

Masing-masing dari kalimat di atas diulang dua kali. Redaksi inilah yang diajarkan oleh Abdullah bin Zaid kepada Bilal bin Rabbah yang terkenal sebagai Muadzin pertama di dunia.

Pertama kali Adzan dikumandangkan oleh Bilal, sahabar senior seperti Umar bin Khattab sedang berada dirumah beliau. Umar segera menghadap Rasulullah SAW dan menceritakan bahwa ia juga memperoleh mimpi sebagaimana adzan tersebut.

Kesamaan mimpi Abdullah bin Zaid, dan Umar bin Khattab dengan wahyu yang diterima oleh Muhammad SAW menjadikan Adzan sebagai panggilan shalat sangat diberkahi. Maka siapa saja yang mendatangi adzan sangat disukai oleh Allah SWT.

Sejak saat itu, adzan menjadi panggilan resmi sebelum pelaksanaan Shalat dilakukan secara jamaah. Bahkan perkembangan ilmu fikih menyebutkan bahwa adzan juga sunnah dikumandangkan jika shalat sendirian bahkan dalam pelaksanaan shalat Qadha.

Bacaan Doa Sesudah Adzan

Adzan yang dilakukan oleh Bilal bin Rabbah merupakan hal sunnah, maka menjawab adzan dan berdoa setelah adzan selesai bernilai sunnah. Doa yang dipanjatkan setelah adzan bukan hanya dilakukan oleh orang-orang sekarang, akan tetapi sudah dilafadzkan oleh Ulama-ulama terdahulu.

Redaksi yang disepakati oleh Ulama setelah selesai pengumandangan Adzan adalah sebagai berikut;

اللهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّآمَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَآئِمَةِ، آتِ مُحَمَّدَانِ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَالشَّرَفَ وَالدَّرَجَةَ الْعَالِيَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًامَحْمُوْدَانِ الَّذِىْ وَعَدْتَهُ اِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيْعَادَ

Transliterasi; “Allaahumma Robba haadzihi ad-da’watit taammati, wa ash-sholaatil qooimah, Aati sayyidina muhammadanil wasiilata wal fadhiilata wa asy-syarofa wa ad-darajatal ‘aaliyatar raofii’ah, wa ab’atshu maqoomam mahmuudanil ladzii wa’adtahu, innaka laa tukhliful mii’aada”

Membaca doa sesudah Adzan bukan hanya sunnah bagi orang yang mengumandangkannya, akan tetapi bagi siapa saja yang mendengar panggilan shalat ini. Membaca doa sesudah adzan sekiranya menghayati maknanya sebagai berikut;

Baca Juga:  Doa, Amalan dan Anjuran Sebelum Tidur Menurut KH Sholeh Darat

Artinya; “Ya Allah, Tuhan yang mempunyai seruan yang sempurna, dan sholat yang tetap didirikan, karuniailah nabi Muhammad tempat yang luhur, kelebihan, kemuliaan, dan derajat yang tinggi. Tempatkanlah dia pada kedudukan yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tiada menyalahi janji. Wahai dzat yang Maha Penyayang”

Bacaan doa sesudah Adzan pernah hampir tidak terbaca ketika Bilal bin Rabbah menjadi Muadzin setelah kewafatan Rasulullah SAW. Karena catatan sejarah menyebutkan bahwa Bilal bin Rabbah menjadi Muadzin sampai Rasul wafat. Setelah Muhammad SAW wafat, dia hanya mengumandangkan Adzan sekali.

Karena pada lafadz “Asyhadu Anna Muhammadar-…..” beliau menangis dan tidak bisa menyelesaikan Adzan. Maka Umar melarang Bilal menjadi Muadzin karena dia selalu menangis dan mengeluarkan air mata yang tidak kunjung selesai.

Ketika pada sampai bait ketiga, Bilal selalu menangis dan tidak menyelesaikan Adzan. Umar merasa tidak tega kepada Bilal yang selalu dirundung sedih jika teringat Rasulullah SAW. Akan tetapi Umar, sebagai Khalifah pernah meminta Bilal bin Rabbah untuk Adzan sekali lagi saat Islam menguasai Yerusalem atau Baitul Maqdis.

Ash-shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan