Hadits Shahih Al-Bukhari No. 428 – Kitab Shalat

Pecihitam.org – Hadits Shahih Al-Bukhari No. 428 – Kitab Shalat ini, Imam Bukhari memulai hadis ini dengan judul “Saling Membantu Dalam Membangun Masjid” hadis ini menjelaskan tentang para sahabat yang bahu membahu membangun masjid dan ramalan Rasulullah saw kepada Ammar bahwa dia akan dibunuh oleh kelompok pemberontak. Keterangan hadist dikutip dan diterjemahkan dari Kitab Fathul Bari Jilid 3 Kitab Shalat. Halaman 192-198.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ وَلِابْنِهِ عَلِيٍّ انْطَلِقَا إِلَى أَبِي سَعِيدٍ فَاسْمَعَا مِنْ حَدِيثِهِ فَانْطَلَقْنَا فَإِذَا هُوَ فِي حَائِطٍ يُصْلِحُهُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَاحْتَبَى ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى أَتَى ذِكْرُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ كُنَّا نَحْمِلُ لَبِنَةً لَبِنَةً وَعَمَّارٌ لَبِنَتَيْنِ لَبِنَتَيْنِ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْفُضُ التُّرَابَ عَنْهُ وَيَقُولُ وَيْحَ عَمَّارٍ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَيَدْعُونَهُ إِلَى النَّارِ قَالَ يَقُولُ عَمَّارٌ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata, telah menceritakan kepada kami [‘Abdul ‘Aziz bin Mukhtar] berkata, telah menceritakan kepada kami [Khalid Al Hadza’] dari [‘Ikrimah], Ibnu ‘Abbas kepadaku dan kepada Ali, anaknya, “Pergilah kalian bedua menemui [Abu Sa’id] dan dengarlah hadits darinya!” Maka kami pun berangkat. Dan kami dapati dia sedang membetulkan dinding miliknya, ia mengambil kain selendangnya dan duduk ihtiba`. Kemudian ia mulai berbicara hingga menyebutkan tentang pembangunan masjid. Ia mengkisahkan, “Masing-masing kami membawa bata satu persatu, sedangkan ‘Ammar membawa dua bata dua bata sekaligus. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliau berkata sambil meniup debu yang ada padanya: “Kasihan ‘Ammar, dia akan dibunuh oleh golongan durjana. Dia mengajak mereka ke surga sedangkan mereka mengajaknya ke neraka.” Ibnu ‘Abbas berkata, “‘Ammar lantas berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari fitnah tersebut.”

Keterangan Hadis: (Bab saling membantu dalam membangun masjid. tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah) Demikian yang terdapat dalam riwayat Abu Dzar. Sementara perawi lainnya menambahkan kalimat “Dan firman Allah SWT’, sebelum kalimat “Tidaklah pantas”. Lalu di bagian akhir mereka menambahkan kalimat, “Hingga firmannya, ‘Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ‘.”

Sikap Imam Bukhari menyebutkan ayat ini merupakan pernyataan pandangan beliau yang cenderung mendukung salah satu kemungkinan dari dua makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Hal itu memiliki kemungkinan bahwa maksud firman-Nya “Masjid-masjid Allah” adalah tempat-tempat sujud, atau mungkin juga tempat-tempat yang disiapkan untuk mendirikan shalat. Atas dasar kemungkinan kedua inilah maka lafazh “memakmurkan” dalam ayat itu bisa diartikan “membangunnya”, namun mungkin juga yang dimaksud adalah selalu menjadikan tempat tersebut untuk berdzikir kepada Allah.

يُصْلِحهُ (memeliharanya) Dalam kitab “Al Jihad” Imam Bukhari menyebutkan dengan lafazh ”Keduanya sedang menyiramnya“. Orang yang bersama Abu Sa’id menurut sebagian pensyarah Shahih Bukhari adalah Qatadah bin Nu’man saudara seibu Abu Sa’id. Akan tetapi pernyataan ini tidak tepat, sebab Ali bin Abdullah bin Abbas lahir pada akhir pemerintahan Ali, sedangkan Qatadah bin Nu’man meninggal sebelum itu. pada akhir pemerintahan Umar bin Khaththab. Selain itu, Abu Sa’id tidak memiliki saudara kandung serta saudara sebapak dan tidak pula saudara seibu selain Qatadah. Dari sini maka ada kemungkinan orang yang dimaksud adalah saudara sesusuannya, tetapi saya belum menemukan namanya.

Dalam hadits di atas terdapat keterangan bahwa seseorang tidak mungkin untuk menguasai seluruh ilmu yang ada. Karena meskipun Ibnu Abbas memiliki ilmu yang luas, tetapi dia tetap memerintahkan kepada anaknya untuk menuntut ilmu kepada Abu Sa’id Al Khudri. Sikap lbnu Abbas ini mengandung kemungkinan bahwa ia mengetahui kalau Abu Sa’id memiliki ilmu yang tidak ia ketahui. Namun ada pula kemungkinan bahwa tujuan mengutus anaknya adalah untuk mendapatkan silsilah periwayatan yang lebih tinggi, sebab Abu Sa’id lebih senior dan lebih banyak mendengar hadits dari Nabi SAW daripada Ibnu Abbas.

Hadits ini menerangkan juga tentang akhlak kaum salaf yang rendah hati (tawadhu’) dan tidak menyombongkan diri, memenuhi kebutuhan hidup dengan usaha sendiri, mengakui keutamaan orang-orang yang memilikinya, memuliakan para penuntut ilmu serta lebih mengedepankan kebutuhan mereka daripada kebutuhan dirinya sendiri.

فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَاحْتَبَى (maka beliau mengambil selendangnya lalu menyelempangkan di kakinya) Lafazh ini memberi keterangan untuk melakukan persiapan dalam rangka menyampaikan ilmu serta tidak memperbincangkan hadits saat melakukan pekerjaan demi mengagungkan hadits Nabi SAW.

حَتَّى أَتَى عَلَى ذِكْرِ بِنَاءِ الْمَسْجِد (hingga sampai pada pembicaraan tentang pembangunan masjid) maksudnya Masjid Nabawi. Dalam riwayat Karimah dikatakan, “Hingga ketika sampai pada … ” dan seterusnya.

وَعَمَّارٌ لَبِنَتَيْنِ (dan Ammar dua batu bata sekaligus). Ditambahkan oleh Ma’mar dalam kitab Jami’-nya, “Satu bata untuk dirinya sendiri dan satu bata untuk Rasulullah SAW”. Lafazh ini memberi keterangan bolehnya membebani diri untuk berbuat kebaikan, menghormati pemimpin serta menggantikannya dalam melakukan suatu kemaslahatan, dan keutamaan membangun masjid.

يَدْعُوهُمْ (ia mengajak mereka) Jika dikatakan bahwa Ammar terbunuh pada perang Shiffin sedang ia bersama Ali, dan orang-orang yang membunuhnya bersama Mu’awiyah sementara dalam pasukannya terdapat sejumlah sahabat, maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa mereka itu mengajak ke neraka?

Jawabannya, para sahabat menduga bahwa mereka juga mengajak ke surga, sedang mereka berijtihad dalam hal itu sehingga tidak ada celaan bagi mereka karena mengikuti ijtihadnya sendiri. Yang dimaksud mengajak ke surga adalah mengajak kepada apa yang menyebabkan masuk surga, yaitu menaati dan mematuhi imam (pemimpin). Demikian juga Ammar, mengajak mereka untuk menaati Ali sebagai imam yang wajib ditaati saat itu. Sementara para sahabat bersama Mu’awiyah mengajak kepada perkara yang berbeda dengan ajakan Ammar, akan tetapi mereka memiliki udzur (alasan yang diterima syara’) karena penafsiran yang tampak bagi mereka.

Ibnu Baththal berkata mengikuti perkataan Al Muhallab, “Sesungguhnya yang demikian ini hanya pantas bagi kaum Khawarij, suatu golongan dimana Ali telah mengutus Ammar untuk mengajak mereka kepada jamaah kaum muslimin, dan tidak pantas diperuntukkan bagi seorang pun di antara sahabat.” Kemudian sejumlah pensyarah Shahih Bukhari menyetujui beliau dalam hal itu. Akan tetapi perkataan tersebut memiliki kelemahan ditinjau dari berbagai segi; pertama, sesungguhnya golongan Khawarij muncul dan melakukan pemberontakan terhadap Ali setelah terbunuhnya Ammar. Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hal ini, sebab awal mula masalah Khawarij timbul setelah masalah “tahkim” (penyerahan keputusan kedua pihak pada utusan masing-masing, -penerj) pasca perang Shiffin, sementara pembunuhan Ammar secara pasti terjadi sebelumnya. Lalu, bagaimana mungkin Ali mengutus Ammar kepada mereka sementara dia telah meninggal sebelumnya. Kedua, sesungguhnya orang-orang yang kepada mereka Ali mengutus Ammar adalah penduduk Kufah. Tujuannya adalah mengajak mereka untuk berjuang bersama Ali dalam melawan Aisyah serta pengikutnya, dan ini terjadi sebelum perang Jamal. Bersama kelompok Aisyah terdapat pula sejumlah sahabat sebagaimana yang ikut bersama Mu’awiyah, dan bahkan lebih utama lagi dibandingkan pengikut Mu’awiyah.

Pernyataan tegas mengenai hal ini akan disebutkan oleh Imam Bukhari dalam kitab ·’Al Fitan (tentang fitnah)”. Maka, apa yang hendak dihindari oleh Al Muhallab justru dia sendiri terjerumus ke dalamnya bahkan lebih buruk lagi. yaitu menamakan pengikut kelompok Aisyah sebagai golongan Khawarij. Ketiga, bahwasanya penjelasan tersebut didasarkan pada riwayat yang tidak lengkap seperti di sini. Padahal mungkin untuk dipahami bahwa yang dimaksud dengan “orang­-orang yang mengajaknya ke neraka” adalah orang-orang kafir Quraisy, sebagaimana dinyatakan secara tegas oleh sebagian pensyarah kitab Shahih Bukhari. Akan tetapi dalam riwayat Ibnu Sakan dan Karimah serta selain keduanya telah disebutkan, demikian pula tersebut dalam naskah Ash-Shaghani, dimana ia mengatakan telah membandingkannya dengan naskah Al Firabri yang masih dalam bentuk tulisan tangannya. Ternyata terdapat tambahan yang memperjelas maksud sekaligus mempertegas bahwa kata ganti pada lafazh “mereka mengajaknya” adalah kelompok yang membunuhnya, yaitu penduduk Syam. Adapun lafazhnya adalah, “Kasihan Ammar, ia dibunuh oleh kelompok pemberontak, dimana ia mengajak mereka … ” (Al Hadits).

Akan tetapi perlu diketahui bahwasanya keterangan tambahan ini tidak disebutkan oleh Al Humaidi dalam kitab Al Jami’, dia berkata, “Sesungguhnya Imam Bukhari tidak menyebutkannya sama sekali.” Demikian pula yang dikatakan oleh lbnu Mas’ud. Al Humaidi berkata, “Barangkali tambahan tersebut tidak sampai kepada Imam Bukhari, atau telah sampai namun beliau sengaja menghapusnya.” Lalu Al Humaidi menambahkan, “Tambahan tersebut dikutip oleh Al Ismaili dan Al Barqani sehubungan dengan hadits di atas.”

Saya (Ibnu Hajar) katakan, saya melihat bahwa Imam Bukhari sengaja menghapus kalimat tersebut karena hal yang belum jelas, yaitu bahwasanya Abu Sa’id telah mengakui sendiri tidak mendengar tambahan tersebut langsung dari Nabi SAW. Hal ini menunjukkan bahwa tambahan tersebut masuk kategori mudarraj (disisipkan oleh perawi). Akan tetapi riwayat yang menerangkan Abu Sa’ id tidak mendengarnya langsung dari Rasulullah SAW tidak memenuhi persyaratan Shahih Bukhari.

Adapun riwayat yang dimaksud telah dinukil oleh Al Bazzar dari jalur Abu Daud bin Abi Hind dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id, lalu dia menyebutkan had its tentang pembangunan masjid serta perbuatan mereka yang mengangkat batu satu-persatu, dimana di dalamnya disebutkan bahwa Abu Sa’id berkata, “Maka para sahabatku bercerita kepadaku – namun aku tidak mendengarnya langsung dari Rasulullah SAW­bahwasanya beliau SAW bersabda, ‘Wahai putra Sumayyah, engkau akan dibunuh oleh kelompok pemberontak.” Yang dimaksud dengan putra Sumayyah adalah Ammar, karena Sumayyah adalah ibunya.”

Jalur riwayat hadits ini memenuhi syarat Imam Muslim, dan Abu Sa’id telah menjelaskan nama orang yang menceritakan hal itu kepadanya. Dalam riwayat Imam Muslim dan An-Nasa’i melalui jalur Abu Salamah dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id, dia berkata, “Telah menceritakan kepadaku orang yang lebih baik daripada aku, (yaitu) Abu Qatadah,” lalu dia menyebutkan kalimat tambahan seperti di atas.

Maka Imam Bukhari hanya menyebutkan lafazh yang didengar oleh Abu Sa’id Al Khudri langsung dari Nabi SAW tanpa menyertakan lafazh yang didengamya dari selain beliau SAW. Ini merupakan bukti ketelitian dan kedalaman pemahaman beliau dalam mengenal illat (cacat) hadits.

Riwayat dalam bab ini terdapat pula tambahan lain yang tidak disebutkan oleh Imam Bukhari. Tambahan tersebut dinukil oleh Al Ismaili dan Abu Nu’aim dalam kitab Al Mustakhraj melalui jalur Khalid Al Wasithi dari Khalid Al Hadzdza, yaitu, “Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Wahai Ammar, mengapa engkau tidak membawa (batu itu) sebagaimana halnya sahabat-sahabatmu?‘ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya aku menginginkan balasan dari Allah’.” Dalam penjelasan terdahulu telah disebutkan tambahan yang berasal dari Ma’mar sehubungan dengan riwayat ini.

Pelajaran yang dapat diambil:

1. Hadits yang berbunyi, “Ammar akan dibunuh oleh kelompok pemberontak” telah diriwayatkan oleh sejumlah sahabat, di antaranya; Qatadah bin Nu’man seperti terdahulu, Ummu Salamah yang dikutip oleh Imam Muslim, Abu Hurairah yang dikutip oleh Imam Tirmidzi, Abdullah bin Amru bin Al Ash yang dikutip oleh An-Nasa’i, Utsman bin Affan, Hudzaifah, Abu Ayyub, Abu Rafi’, Khuzaimah bin Tsabit, Amr bin Al Ash, Abu Yasr dan Ammar sendiri, semuanya dinukil oleh Imam Ath-Thabrani dan selainnya. Kebanyakan jalur periwayatannya shahih atau hasan. Di samping itu, riwayat tersebut dinukil pula dari sejumlah sahabat lainnya yang akan berkepanjangan bila disebutkan satu persatu.

2. Dalam hadits ini terdapat salah satu bukti kenabian, keutamaan Ali dan Ammar, dan bantahan terhadap golongan Nashibah yang menyatakan bahwa tindakan Ali dalam memerangi Muawiyah tidak dapat dibenarkan.

3. Kalimat di bagian akhir hadits, “Ammar berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah’,” merupakan dalil disukainya berlindung kepada Allah dari fitnah dan bencana, meskipun seseorang mengetahui dirinya komitmen dalam kebenaran. Karena, fitnah bisa saja menimbulkan perkara yang tidak diduga sebelumnya.

Ibnu Baththal berkata, “Hadits ini merupakan bantahan terhadap hadits yang sangat memasyarakat, “Janganlah kalian berlindung kepada Allah dari fitnah, karena di dalamnya terdapat panen orang-orang munafik.” Saya (lbnu Hajar) katakan, dahulu lbnu Wahab telah ditanya tentang hadits ini dan dia menjawab, “Hadits itu batil”.

Pembahasan tentang hukum-hukum fitnah serta apa yang mesti dilakukan bila terjadi akan dijelaskan secara mendetail dalam kitab “Al Fitan (tentang fitnah)”. Semoga Allah melindungi kita dari fitnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

M Resky Syafri
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG