Hadits Shahih Al-Bukhari No. 56 – Kitab Iman

Pecihitam.org – Hadits Shahih Al-Bukhari No. 56 – Kitab Iman ini, menjelaskan tentang pidato Jarir bin Abdullah ketika wafatnya Mughirah bin Syu’bah Beliau wafat pada tahun ke 50 H. Kemudian dia mewakilkan tugasnya kepada anaknya yang bernama Urwah. Ada yang mengatakan dia mendelegasikan tugasnya kepada Jarir, karena peristiwa inilah dia menyampaikan khutbah di atas.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hal tersebut diceritakan oleh Al Ala’i, Didahulukannya perintah untuk bertakwa kepada Allah, karena biasanya kematian seorang penguasa dapat menimbulkan kekacauan dan fitnah, apalagi penduduk Kufah yang pada waktu itu menentang para wali dan pemimpin mereka. Keterangan hadist dikutip dan diterjemahkan dari Kitab Fathul Bari Jilid 1 Kitab Iman. Halaman 254-257.

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ قَالَ سَمِعْتُ جَرِيرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ يَوْمَ مَاتَ الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ قَامَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ عَلَيْكُمْ بِاتِّقَاءِ اللَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَالْوَقَارِ وَالسَّكِينَةِ حَتَّى يَأْتِيَكُمْ أَمِيرٌ فَإِنَّمَا يَأْتِيكُمْ الْآنَ ثُمَّ قَالَ اسْتَعْفُوا لِأَمِيرِكُمْ فَإِنَّهُ كَانَ يُحِبُّ الْعَفْوَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ أُبَايِعُكَ عَلَى الْإِسْلَامِ فَشَرَطَ عَلَيَّ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ فَبَايَعْتُهُ عَلَى هَذَا وَرَبِّ هَذَا الْمَسْجِدِ إِنِّي لَنَاصِحٌ لَكُمْ ثُمَّ اسْتَغْفَرَ وَنَزَلَ

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [Abu An Nu’man] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu ‘Awanah] dari [Ziyad bin ‘Alaqah] berkata; saya mendengar [Jarir bin Abdullah] berkata ketika Al Mughirah bin Syu’bah meninggal, sambil berdiri dia memuji Allah dan mensucikan-Nya, berkata: “Wajib atas kalian bertakwa kepada Allah satu-satunya dan tidak menyekutukannya, dan dengan penuh ketundukan dan ketenangan sampai datang pemimpin pengganti, dan sekarang datang penggantinya, ” kemudian dia berkata: “Mintakanlah maaf kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala buat pemimpin kalian ini (Al Mughirah), karena dia suka memberi maaf.” Lalu berkata: “Amma ba’du, sesungguhnya aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian aku berkata: “Aku membai’at engkau untuk Islam”.

Baca Juga:  Puasa Syawal: Puasa 6 Hari yang Menyamai Setahun, Kok Bisa?

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi syarat dan menasehati kepada setiap muslim, maka aku membai’at Beliau untuk perkara itu, dan demi Pemilik Masjid ini, sungguh aku akan selalu memberi nasihat kepada kalian” Kemudian dia beristighfar lalu turun dari mimbar.

Keterangan Hadis: يَوْم مَاتَ الْمُغِيرَة بْن شُعْبَة (Pada hari kematian Mughirah bin Syu’bah). Pada saat itu, Mughirah adalah gubenur Kufah pada masa kckhalifahan Muawiyah. Beliau wafat pada tahun ke 50 H. Kemudian dia mewakilkan tugasnya kepada anaknya yang bernama Urwah. Ada yang mengatakan dia mendelegasikan tugasnya kepada Jarir, karena peristiwa inilah dia menyampaikan khutbah di atas.

Hal tersebut diceritakan oleh Al Ala’i, Didahulukannya perintah untuk bertakwa kepada Allah, karena biasanya kematian seorang penguasa dapat menimbulkan kekacauan dan fitnah, apalagi penduduk Kufah yang pada waktu itu menentang para wali dan pemimpin mereka.

حَتَّى يَأْتِيكُمْ أَمِير (Hingga datang kepada kalian seorang amir), maksudnya adalah datang seorang amir sebagai ganti gubenur yang wafat. Untuk ini dapat dipahami, bahwa maksud ungkapan di alas tidak berarti bahwa perintah tersebut akan berakhir dengan datangnya seorang amir pengganti, tetapi konsistensi tersebut harus tetap dijaga setelah datangnya seorang amir.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 5 - Kitab Permulaan Wahyu

الْآن (Sekarang). Kalimat ini menunjukkan dekatnya waktu, karena ketika Muawiyah mengetahui kematian Mughirah, dia langsung menulis surat kepada wakilnya di Bashrah, yaitu Ziyad, untuk segera berangkat ke Kufah untuk menjadi gubenur di sana.

اِسْتَعْفُوا لِأَمِيرِكُمْ (Mohonkan kepada Allah ampunan bagi amir kalian). Demikian yang ditulis dalam sebagian besar riwayat. Akan tetapi dalam riwayat Ibnu Asakir dan Al Ismaili dalam Al Mustakhraj disebutkan dengan redaksi, اِسْتَغْفِرُوا.

فَإِنَّهُ كَانَ يُحِبّ الْعَفْو (Karena Dia senang memaafkan). Dalam redaksi tersebut terdapat petunjuk, bahwa pahala akan didapat dari apa yang dilakukan.

وَالنُّصْحِ (Dan ikhlas). Kata tersebut menunjukkan kelembutan Rasulullah SAW.

وَرَبّ هَذَا الْمَسْجِد (Dan Tuhan masjid ini) menunjukkan bahwa khutbahnya dilakukan di masjid. Bisa jadi kalimat tersebut mengisyaratkan kepada Baitul Haram berdasarkan riwayat Ath-Thabrani dengan redaksi, “Dan Tuhan Ka’bah.” Disebutkannya hal itu untuk menunjukkan kemuliaan sumpah tersebut agar dapat diterima.

لَنَاصِح (penasihat). Kalimat ini mengandung isyarat bahwa dia mematuhi apa yang disepakati dalam baiat dengan Rasulullah, dan apa yang diucapkannya tidak menyimpan maksud tertentu.

وَنَزَلَ (Kemudian turun) menunjukkan bahwa khutbah tersebut dilakukannya di atas mimbar atau dimaksudkan duduk, karena kalimat tersebut merupakan lawan dari berdiri.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 48 – Kitab Iman

Pelajaran yang dapat diambil: Kata النصح (nasihat) dalam hadits ini dikhususkan untuk orang Islam, karena memang yang mendominasi pertemuan tersebut adalah orang muslim. Jika tidak, maka nasihat tersebut ditujukan kepada orang kafir untuk menyeru mereka kepada Islam.

Imam Bukhari menutup pembahasan Iman dengan bab “Nasihat”, hal itu menunjukkan bahwa dia mengamalkan apa yang terkandung dalam hadits tersebut sebagai anjuran untuk mengamalkan hadits yang shahih. Kemudian dia menutupnya dengan khutbah Jarir yang menjelaskan kondisinya pada saat menyusun khutbah, maka redaksi “Sesungguhnya telah datang kepada kalian saat ini” menunjukkan kewajiban berpegang pada syariat yang ada hingga datang orang yang menegakkannya.

Lalu ucapan “Mohonkan kepada Allah untuk mengampuninya”, mengisyaratkan agar dia didoakan karena perbuatan baik yang pernah dilakukannya. Kemudian khutbah tersebut ditutup dengan perkataan, “Mohon ampunlah kalian! Kemudian dia turun” Dengan demikian, timbullah perasaan bahwa ini adalah akhir bab. Kemudian Imam Bukhari melanjutkan dengan bab “Ilmu”, sebagaimana yang terkandung dalam hadits nasihat bahwa sebagian besar didapat dengan belajar dan mengajar.

M Resky S