Hadits Shahih Al-Bukhari No. 90 – Kitab Ilmu

Pecihitam.org – Hadits Shahih Al-Bukhari No. 90 – Kitab Ilmu ini,mengemukakan pertanyaan yang ditanyakan oleh orang-orang kepada Rasulullah, adalah pertanyaan tentang hari kiamat dan yang semacam itu dari berbagai masalah. Keterangan hadist dikutip dan diterjemahkan dari Kitab Fathul Bari Jilid 1 Kitab Ilmu. Halaman 361-362.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَشْيَاءَ كَرِهَهَا فَلَمَّا أُكْثِرَ عَلَيْهِ غَضِبَ ثُمَّ قَالَ لِلنَّاسِ سَلُونِي عَمَّا شِئْتُمْ قَالَ رَجُلٌ مَنْ أَبِي قَالَ أَبُوكَ حُذَافَةُ فَقَامَ آخَرُ فَقَالَ مَنْ أَبِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُوكَ سَالِمٌ مَوْلَى شَيْبَةَ فَلَمَّا رَأَى عُمَرُ مَا فِي وَجْهِهِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَتُوبُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al ‘Ala`] berkata, Telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] dari [Buraid] dari [Abu Burdah] dari [Abu Musa] berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang sesuatu yang Beliau tidak suka, ketika terus ditanya, Beliau marah lalu berkata kepada orang-orang: “Bertanyalah kepadaku sesuka kalian”. Maka seseorang bertanya: “Siapakah bapakku?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bapakmu adalah Hudzafah”. Yang lain bertanya: “Siapakah bapakku wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?: “Bapakmu Salim, sahaya Syaibah” Ketika Umar melihat apa yang ada pada wajah Beliau, dia berkata: “Wahai Rasulullah, kami bertaubat kepada Allah ‘azza wajalla”.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 415 – Kitab Shalat

Keterangan Hadis: Diantara pertanyaan yang ditanyakan oleh orang-orang kepada Rasulullah, adalah pertanyaan tentang hari kiamat dan yang semacam itu dari berbagai masalah, seperti akan dibahas pada hadits Ibnu Abbas dalam tafsir Surah Al Maa’idah.

Orang laki-laki tersebut adalah Abdullah bin Hudzafah Al Qurasy As-Sahmi seperti yang dijelaskan dalam hadits Anas. Begitu pula orang laki-laki yang lain, dia adalah Sa’ad bin Sahm, hamba sahaya Syaibah bin Rabi’ah, Tidak diragukan lagi bahwa dia adalah seorang sahabat berdasarkan perkataan dia sendiri, “Siapakah bapakku, hai Rasulullah?”

Dalam tafsir Muqatil terdapat kisah yang sama, di situ dijelaskan bahwa seorang dan Bani Abd Addar berkata. “Siapakah bapakku’!” Nabi menjawab, “Sa’ad” dimana beliau menisbatkannya kepada selain bapaknya, berbeda dengan Ibnu Hud/afah. Dalam tafsir Surat Al Maa’idah akan dijelaskan lebih lanjut tentang hal ini.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 2 - Kitab Permulaan Wahyu

 إِنَّا نَتُوبُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (Aku bertaubat kepada Allah) atau bertaubat dari hal-hal yang membuat engkau murka. Dalam hadits Anas dijelaskan bahwa Umar bin Khaththab bersimpuh di hadapan Nabi dan mengatakan, “Kami rela Allah sebagai Tuhan kami. Islam sebagai agama kami, dan Muhammad adalah Nabi kami.'” Untuk memadukan kedua lafazh hadits ini, bahwa semua itu diucapkan oleh Rasulullah, kemudian para sahabat meriwayatkan semua yang mereka hafal. Hal itu terbukti, keduanya (Abu Musa dan Ana.s) sama-sama menyampaikan kisah Abdullah bin Hudzafah.

Catatan
Penulis membatasi bentuk kemarahan hanya sebatas untuk memberi nasihat dan pengajaran, dan tidak dalam aspek hukum, karena seorang pemegang otoritas hukum tidak diperkenankan memutuskan sesuatu ketika dia lagi marah. Perbedaannya, bahwa orang yang memberi nasihat boleh menampakkan sikap marah, karena dia sebagai orang yang memberi peringatan. Begitu juga seorang guru, jika dia mencela kesalahan murid yang belajar kepadanya. Karena terkadang hal itu terpaksa dia lakukan agar si murid dapat menerima kebenaran darinya, akan tetapi hal itu harus disesuaikan dengan keadaan psikologi masingmasing murid.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 321 – Kitab Haid

Adapun seorang hakim tidak demikian, seperti yang akan dijelaskan pada pembahasan yang akan datang. Jika ada yang mengatakan, bahwa sesungguhnya Rasulullah telah memutuskan sesuatu di saat beliau marah, dimana beliau mengatakan, “Bapak kamu si fulan.” Maka jawabnya, bahwa hal itu tidak ada hubungannya dengan hukum, dan itu merupakan kekhususan Nabi dimana beliau selalu terjaga dari kesalahan.

Keadaan marah atau bukan, bagi Rasulullah adalah sama. Bahkan kemarahan Rasulullah terhadap sesuatu menunjukkan bahwa hal ini dilarang atau dibenci, berbeda dengan orang lain.

M Resky S