Bukan Jumat, Ternyata Inilah Hari yang Paling Utama bagi Seorang Muslim

Bukan Jumat, Ternyata Inilah Hari yang Paling Utama bagi Seorang Muslim

Pecihitam.org – Sebagaimana disebutkan di dalam banyak hadits dan kitab-kitab ulama, bahwa Jumat merupakan hari yang paling utama. Salah satu yang bisa dijadikan dalil dalam hal ini adalah hadis yang ditakhrij oleh Imam Al-Baihaqi di dalam Kitab Syu’abul Iman

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

أفضل الأيام عند الله يوم الجمعة وهو شاهد ومشهود يوم عرفة واليوم الموعود يوم القيامة

Hari yang paling utama di hadapan Allah adalah hari Jumat. Ia merupakan hari penyaksian, sedangkan hari yang disaksikan adalah Hari Arafah. Dan hari yang dijanjikan adalah Hari Kiamat.

Lebih lengkap, Ibnu Abbas di dalam satu riwayat mengatakan hari yang paling utama adalah hari Jumat, bulan yang paling mulia adalah bulan Ramadhn dan ibadah yang paling utama adalah shalat fardhu di awal waktu.

Akan tetapi, menurut pemahaman Ali bin Abi Thalib, hari yang paling utama bukanlah hari Jumat, bulan yang paling mulia bukanlah bulan Ramadhan, dan ibadah yang paling utama bukanlah shalat fardhu di awal waktu.

Namun sebelum menjelaskan alasan dibalik perkataan Ali bin Abi Thalib tersebut terlebih dahulu kita membahas tentang maksud perkataan Ibnu Abbas.

Suatu ketika Ibnu Abbas radhiallahu anhuma ditanya tentang hari yang paling utama, bulan yang paling mulai dan ibadah yang paling baik.

Beliau pun menjawab bahwa hari yang paling utama di sisi Allah adalah hari Jumat karena Ia merupakan hari yang Allah berikan kepada umat Nabi Muhammad.

Baca Juga:  Gagasan Mistik dan Filsafat dalam Pemikiran Ibn Arabi

Adapun alasan beliau mengatakan bahwa Ramadhan merupakan bulan yang paling mulia karena di dalamnya Allah menurunkan Al-Qur’an, terdapat Lailatul Qadar, diwajibkan berpuasa, dan ibadah-ibadah sunat setara dengan ibadah fardhu.

Jika demikian, lalu mengapa Ali bin Abi Thalib yang dikenal sebagai gerbang ilmu pengetahuan itu mengatakan hal yang berbeda dengan Ibnu Abbas yang masyhur sebagai ahli tafsir dari kalangan sahabat?

Ali bin Abi Thalib mengatakan hari yang paling utama adalah hari di mana kita mati dalam keadaan membawa Iman atau (husnul khatimah).

Bulan yang paling utama adalah bulan ketika kita melakukan taubat yang sungguh-sungguh (taubat nasuha). Dan ibadah yang paling utama adalah yang diterima oleh Allah SWT.

Perkataan Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah ini dinukil oleh Syaikh Nawawi Banten dalam salah satu kitab tasawufnya yang berjudul Nashaihul Ibad pada makalah ke-40 yang terdapat pada halaman 61

فقال على رضى الله عنه و كرم وجهه: لو سئل العلماء و الحكماء و الفقهاء من المشرق الى المغرب عن تلك المسائل الثلاث لاجابوا بمثل ما اجاب به ابن عباس

Maka Ali radhiallahu anhu wa karramallahu wajhah berkata: Jika seluruh ulama dan, ahli hikmah dan fuqaha dari Timur hingga Barat ditanya tentang tiga pertanyaan tersebut, maka mereka akan menjawab seperti jawaban Ibnu Abbas

الا انى اقول فى جواب ذلك: ان خير الاعمال ما يقبل الله تعالى منك سواء كانت قليلة او كثيرة و خير الشهور ما تتوب فيه الى الله توبة نصوحا و خير الايام مت تخرج فيه من الدنيا الى الله تعالى بالموت

Baca Juga:  Al-Hallaj: Biografi dan Pemikirannya Tentang Hulul

Kecuali aku, karena aku akan mengatakan: Sesungguhnya amal yang paling baik adalah yang diterima oleh Allah darimu, baik sedikit maupun banyak. Bulan yang paling baik adalah bulan di mana kamu bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha. Dan hari yang paling baik adalah hari ketika kamu mati dalam keadaan iman.

Jadi, dengan demikian antara perkataan Ibnu Abbas dan Ali Bin Abi Thalib sama sekali tidak bertentangan. Ibnu Abbas menyampaikan apa adanya tentang dzahirnya syariat. Adapun Ali bin Abi Thalib dalam hal ini memaknainya dari segi substansi atau hakikat.

Karena memang walaupun hari Jumat, tetapi ketika seseorang di dalamnya tidak mati dalam keadaan membawa iman, maka itu tidaklah menjadi hari yang terbaik baginya.

Begitu juga ketika kita memasuki bulan Ramadhan. Ketika seseorang tidak melakukan taubat nasuha di dalamnya, maka bulan Ramadhan pun baginya tidak bermakna apa-apa, apalagi menjadi bulan yang paling mulia.

Baca Juga:  Tasawuf Ala Umar Bin Khattab, Ambil yang Berat Tinggalkan yang Ringan

Termasuklah pula melakukan shalat lima waktu pada awal waktunya tidak lantas menjadi ibadah yang paling utama jika semua itu tidak diterima oleh Allah karena riya’, ujub, tidak khusyuk ataupun sebab-sebab lainnya.

Begitu dalam filosofi yang disampaikan Ali bin Abi Thalib. Hari Jumat, bulan Ramadhan dan shalat di awal waktu memang merupakan hal yang paling baik disisi Allah. Tapi bagi seorang muslim, itu semua bergantung pada bagaimana ia mengisi dan beribadah sepenuh hati.

Maka kami tegaskan sekali lagi, Hari Jumat sekalipun tidak akan menjadi hari yang paling utama bagi seorang muslim jika di dalamnya justru kita mati dalam keadaan su’ul khatimah. Wal ‘iyadzu billah!

Faisol Abdurrahman