Idul Adha di Tengah Pandemi: Menyembelih Ego, Menjunjung Akal Sehat

idul adha di tengah pandemi

Pecihitam.orgBaru saja Idul Fitri berlalu, kaum muslimin kembali menyambut hari raya keagamaan lainnya, yaitu hari raya Idul Adha. Tidak sedikit di antara kita berkata: “tak terasa sudah Idul Adha lagi, seakan baru kemarin merayakan lebaran Idul Fitri.”

Begitulah seringkali ungkapan yang muncul ketika kita berada pada satu momen tertentu. Ungkapan tersebut seakan menegaskan waktu memang cepat sekali berlalu. Padahal, alam semesta berjalan seperti apa adanya, sesuai dengan kadar-kadar dan hitungan-hitungan yang sudah ditentukan Allah Swt (QS. al-Qamar: 49).

Apabila kita renungkan kalimat yang acapkali kita ungkapkan tadi, kita sebenarnya menghubungkan satu momen dengan momen lainnya, satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, satu pengalaman dengan pengalaman lainnya.

Di sana kita melewatkan segala kejadian di antara dua kejadian yang kita sebutkan, seakan apapun yang terjadi di antara dua kejadian tersebut kurang berarti. Jadi, waktu pada dasarnya adalah persepsi manusia terhadap pengalamannya.

Sebagai manusia kita memang telah dianugerahi akal, alat berfikir yang tidak diberikan kepada makhluk-makhluk lain. Akan tetapi, akal yang menjadikan kita lebih baik dari segala makhluk ini bahkan tak mampu menangkap atau mempersepsi semua kejadian dan menyimpannya sebagai pengalaman.

Itu karena akal sehat kita telah dikuasai oleh ego, sehingga kita memilah-memilah mana pengalaman yang perlu kita simpan dan mana yang tidak perlu kita resapkan.

Terbatasnya kemampuan persepsi kita tentang waktu ini menandakan betapa kecilnya kita dibandingkan keseluruhan alam semesta. Orang-orang bijak mengatakan kita hanyalah debu-debu kecil di tengah alam semesta yang maha luas. Jika kecilnya kita jauh tak sebanding dengan alam, apatah lagi dengan Allah sang Maha Pencipta.

Manusia memang diciptakan Tuhan dengan bentuk yang sebaik-baiknya, tapi kita jauh lebih kecil dari seluruh alam semesta, yang lebih kecil dari Sang Pencipta. Karena itu, pantaskah jika kita masih merasa jumawa, sombong dan membanggakan diri dengan kemampuan kita yang sebenarnya serba terbatas?

Demikianlah kiranya satu makna yang bisa ditarik dari perayaan Idul Adha yang secara rutin kita sambut setiap tahunnya. Allah yang mendatangkan hari raya ini seakan-akan tak bosan-bosannya memperingatkan kita akan kebesaran-Nya.

Karena itulah dalam setiap hari raya kita bertakbir, bertahlil dan bertahmid, memuji keagungan Allah, sembari meresapi betapa kecilnya diri kita sebagai makhluk-makhluk-Nya. Melalui Idul Adha Allah mengajari kita untuk mengesampingkan ego, merendahkan diri yang selama ini merasa tinggi, entah itu karena kekayaan, kehormatan maupun pengetahuan yang dimiliki.

Haji yang Tertunda

Hari raya Idul Adha menandai dua ibadah ritual penting dalam agama Islam, yaitu haji dan qurban. Haji adalah ibadah yang termasuk dalam rukun Islam. Sebagai pondasi agama, kemusliman seseorang takkan sempurna tanpa melaksanakan ibadah haji.

Meski demikian, kewajibannya hanyalah diperuntukkan kepada orang yang mampu. Mampu dimaksud adalah mampu secara lahir dan batin. Mampu lahir berarti punya ongkos untuk membiayai perjalanan ke tanah suci, punya ongkos sehari-hari buat keluarga yang ditinggalkan dan punya badan yang sehat.

Adapun mampu secara batin berarti memiliki niat yang kuat dan tulus, siap meninggalkan larangan-larangan berhaji dan merasa aman dalam beribadah.

Mewabahnya Covid-19 yang sampai saat ini tak kunjung jua berakhir tidak memungkinkan sebagian besar muslim untuk melaksanakan ibadah haji. Hal itu karena sebagian syarat mampu tidak terpenuhi, yakni rasa aman dari ancaman wabah penyakit, yang tentu pula mengancam kesehatan badan. Karena syarat yang tak terpenuhi inilah maka kewajiban belum dikenakan kepada kita.

Keadaan ini menjadi kesempatan emas bagi kita untuk membuang ego, menjunjung akal sehat kita. Toh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ia takkan membebani hamba-Nya, jika sang hamba tidak mampu melaksakan kewajibannya.

Karena itu, bagi yang pada tahun ini terpaksa menunda rencana berangkat ke tanah suci demi menemui Allah di bait-Nya, tidak perlu risau dan galau. Ada sebuah puisi yang ditulis oleh Hamzah Fansuri, seorang sufi asal Aceh, berbunyi: Hamzah Fansuri di dalam Mekah, mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah, dari Barus terlalu payah, akhirnya dijumpa di dalam rumah.

Menyembelih Ego

Hari raya Idul Adha juga dirayakan dalam bentuk ibadah Qurban. Ibadah ini merujuk kepada riwayat Nabi Ibrahim yang menyembelih putranya, Nabi Ismail As, sebagaimana dicatat di dalam al-Quran. Di sana Nabi Ibrahim melepaskan kepemilikannya, melepaskan egonya, merendahkan dirinya di hadapan Sang Penguasa Alam Semesta.

Adapun kaum muslimin menyembelih hewan Qurban, kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada saudara-saudari seiman dan semua kawan-kawan. Hewan Qurban biasanya disediakan oleh orang-orang yang memiliki harta berlebih, baik berkelompok maupun perseorangan.

Ketika mereka menyembelih hewan itu itu sama saja mereka menyembelih ego, ke-aku-an dan rasa tinggi diri mereka. Dengan menyembelih ego dan ke-aku-an itu, diri mereka merasakan kerendahan hati di hadapan sesama manusia dan kerendahan diri di hadapan Allah Swt.

Pada tahun ini ibadah Qurban kita laksanakan di tengah wabah pandemi. Sekali lagi, Allah seakan memberi pelajaran kepada kita semua, namun kali ini pelajarannya baru dan mengandung makna yang berbeda.

Kini kita berada di tengah suasana yang serba tak pasti. Wabah belum jua berhenti, upaya penanganan dan pemutusan sebaran penyakit belum memuaskan hati, berita-berita palsu tentang pandemi berseliweran di sana-sini, spekulasi dan teori-teori konspirasi tentang asal-muasal virus membuat hati hanya diisi benci.

Idul Adha mengajarikan kita untuk menyembelih ego kita, memotong leher ke-aku-an kita, yang seakan merasa tahu segalanya. Kemudian kita junjung tinggi akal sehat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita semua.

Mulailah dengan mempergunakan akal sehat itu untuk mencerna dan memilih kabar-kabar berita, tidak mudah meng-copy-paste dan menyebarkan postingan di WA, menghindari pikiran-pikiran yang isinya cuma spekulasi yang belum tentu benar adanya, meninggalkan jalan pintas pikiran berupa teori konspirasi yang hanya merusak hati dan membuang-buang waktu kita.

Tiada agama bagi yang tak berakal,” demikian Rasulullah bersabda. Ini berarti akal, yang juga disebut sebagian filsuf muslim dengan kata qalb atau hati, merupakan pondasi beragama. Banyak sekali ayat al-Quran yang mengajak pembacanya untuk memanfaat potensi akalnya. Bahkan, diberitakan di dalam kitab suci bahwa orang-orang yang menghuni neraka Sa’ir menyesal sejadi-jadinya, gegara tidak menggunakan akal sehat mereka (QS. al-Mulk:10).

Daripada membuang-buang waktu dan emosi, alangkah baiknya jika kita bahu-membahu memutus rantai penyebaran penyakit ini semampu kita. Dengan saling bekerja sama, saling percaya, menyerahkan urusan kepada ahlinya, pemerintah jujur dan terbuka, rakyat turut berupaya, kiranya kita dapat melewati wabah ini bersama-sama.

Bukankah ini merupakan Semangat ibadah Qurban, dimana kita semua menyantap daging hewan Qurban yang sama, sehingga terciptalah kebersamaan di antara kita?![]

Yunizar Ramadhani
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG