Ilmu Filsafat itu Haram, Tapi Berfilsafat Tidak!

haramnya ilmu filsafat

Pecihitam.org – Belakangan ini ramai pergunjingan soal ilmu filsafat haram. Datangnya tak lama setelah keharaman kue klepon. Rekan-rekan kerja saya mengatakan kalau isu klepon itu pengalihan dari isu politik dinasti yang sedang hangat.

Jangan-jangan soal ilmu filsafat haram ini juga pengalihan isu yang sama. Tapi kan dakwaan haram terhadap ilmu filsafat itu diumumkan pakai meme berlogo sebuah kelompok agama. Berarti serius, dong!

Sebenarnya, ujaran bahwa ilmu filsafat itu aneh, asing, tidak berguna, bisa membuat orang jadi gila, sesat dan menyesatkan, bid’ah, haram, bahkan para filsuf itu kafir, itu hal yang biasa saja. Wong Socrates, gurunya Plato, saja mati digantung.

Para filsuf muslim klasik juga divonis kafir oleh para teolog. Bukan cuma Imam Syafi’i yang bilang begitu, Imam al-Ghazali yang disebut Hujjatul Islam (sendi argumen Islam) malah sampai menulis buku untuk mengkafirkan para filsuf. Jadi, kalau cuma mengharamkan ilmu filsafat, apalagi cuma sebatas postingan di medsos, itu mah kurang ganas.

Tapi itu tidak menghalangi tidak sedikit orang untuk menanggapi. Ada bahkan tanggapan semacam ini: mungkin mereka yang mengharamkan ilmu filsafat itu kewalahan menghadapi tingkah kawan-kawannya yang sedang belajar filsafat. Saking gregetannya, ya sudah, divonis haram saja. Socrates digantung tadi kan gara-gara orang kesal karena dia banyak tanya.

Untungnya, mahasiswa dan orang-orang yang sedang belajar filsafat, baik di jurusan filsafat maupun otodidak, sendiri tidak terpancing bikin keributan. Saya yakin itu karena mereka sadar filsafat yang sedang dipelajari bukanlah pengetahuan biasa.

Filsafat itu tradisi berfikir yang melampaui pikiran umumnya manusia. Filsafat mencoba mengetahui dan mengungkap hakikat segala sesuatu yang biasanya dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan dan berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan lagi.

Karena itu, seorang yang menempuh jalan filsafat berfikirnya harus kritis, mendalam, universal dan mencari akar. Dengan memikirkan hakikat segala sesuatu tercapailah kebijaksanaan.

Jadi, tidak ada bijaknya menanggapi dakwaan haramnya ilmu filsafat itu. Apalagi dakwaan itu didasarkan pada argumen dangkal yang melihat segala hal secara hitam-putih alias halal-haram saja.

Kalau sampai ada pembelajar filsafat ikut-ikutan riuh, apalagi berupaya supaya ilmu filsafat dikasih label halal seperti merek minuman keras 0% alkohol, lebih baik belajarnya balik lagi saja ke bab Thales.

Lagipula, apalah kekuatan para pembelajar filsafat. Jumlahnya sedikit sekali. Tahun 2000-an, waktu saya kuliah di jurusan Aqidah-Filsafat, jumlah kami cuma lima orang dalam satu angkatan.

Mahasiswa jurusan lain bahkan menggelari kami dengan Power Rangers. Dekan Fakultas Ushuluddin waktu itu bilang (dengan suara pelan): “wajar saja mahasiswa jurusan filsafat sedikit. Kalau semua berpikir, siapa yang kerja?!”

Tapi postingan meme itu sebenarnya sungguh menarik. Karena meme juga bagian dari bentuk bahasa dan bahasa adalah penanda, maka kata Jacques Derrida, kita permainkan saja maknanya. Toh, pengarangnya sudah mati.

Coba perhatikan, orang yang membuat postingan itu menulis besar-besar: “Haramnya Ilmu Filsafat”. Itu berarti dia menyatakan ilmu filsafat haram. Tapi tidak mengatakan “haram berfilsafat”.

Ilmu filsafat dengan filsafat itu sendiri beda, lho! Yang satu filsafat sebagai suatu ilmu, sedangkan yang lain sebagai kebijaksaan.

Filsafat dapat disebut sebagai ilmu manakala kita mempelajari pemikiran-pemikiran para filsuf, entah dengan membaca buku-buku atau mendengarkan ceramah seorang yang ahli filsafat. Seseorang yang menguasai filsafat sebagai ilmu dapat disebut sebagai seorang ahli filsafat dan dapat mengajarkan ilmu filsafat kepada orang lain.

Sementara itu, filsafat disebut kebijaksanaan ketika kita menjalani hidup dengan tradisi berpikir secara filosofis dan berperilaku berdasarkan kebijaksanaan. Jadi, filsafat itu lebih berupa kata kerja aktif ketimbang kata benda.

Seseorang yang menguasai filsafat sebagai kebijaksanaan inilah yang dapat disebut sebagai filsuf atau orang yang berfilsafat. Baginya filsafat bukanlah sekedar ilmu, melainkan kegiatan, cara dan gaya hidupnya, hakikat dan eksistensi dirinya.

Memang mempelajari pemikiran para filsuf itu penting, tapi itu hanya sekedar contoh bagaimana berfilsafat. Pembelajar filsafat pada akhirnya harus berfikir secara filosofis dalam kesehariannya dan punya produk filsafat sendiri.

Bahkan, tidak belajar ilmu filsafat pun orang bisa berfilsafat, selama pemikirannya bersifat kritis, mendalam, universal dan mencari akar tadi. Sebab, filsafat pada hakikatnya adalah aktivitas, jalan (Arab: sabil,Inggris: path), bukan ilmu.

Kalau begitu, mahasiswa dan pembelajar filsafat mesti bilang syukron jazakallah khairan katsira pada kelompok yang logonya ada di postingan “Haramnya Ilmu Filsafat”. Dengan itu, ia bisa mengharamkan dirinya (hanya) belajar ilmu filsafat, tapi justru hidup berfilsafat. Soalnya, mereka cuma bilang ilmu filsafat haram, berfilsafat tidak!

Yunizar Ramadhani
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG