Ini Aturan Toleransi Dalam Islam, Baca Biar Paham!

Ini Aturan Toleransi Dalam Islam, Baca Biar Paham!

PeciHitam.org – Tidak diragukan lagi bahwa sikap toleransi dalam Islam sangat dianjurkan, tolong-menolong, hidup yang harmonis dan dinamis di antara umat manusia tanpa memandang agama, bahasa, dan ras mereka. Ayat (Q.S. al-Mumtahanah: 8-9) di atas menjadi bukti nyata akan hal itu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah SWT berfirman “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu, (yaitu) orang-orang yang memerangimu dalam urusan agama dan mengusirmu dari kampung halamanmu, serta membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Imam al-Syaukani menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung makna bahwa Allah tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik kepada kafir dhimmi yaitu orang-orang non Muslim yang mengadakan perjanjian dengan umat Islam dalam menghindari perperangan dan tidak membantu non-Muslim lainnya dalam memerangi umat Islam. Di samping itu, ayat di atas juga menunjukkan bahwa Allah tidak melarang kita untuk bersikap adil dalam bermuamalah dengan mereka. Hal senada juga diungkapkan oleh Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya, bahwa Allah tidak melarang umatnya untuk berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi mereka dalam masalah agama, seperti berbuat baik dalam persoalan perempuan dan orang lemah.

Berdasarkan hal itu, Ali Mustafa Yaqub dalam sebuah bukunya menegaskan bahwa ayat ini merupakan dalil yang mewajibkan umat Islam untuk berbuat baik kepada non Muslim, selama mereka tidak memerangi dan mengusir umat Islam dari negeri mereka serta tidak membantu orang lain untuk mengusir umat Islam dari negeri mereka. Bahkan Nabi Muhammad SAW mengancam umat Islam yang memerangi non Muslim yang seperti ini dengan peringatan keras dan tegas untuk tidak memasukkan mereka ke dalam sorga. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda:

Baca Juga:  6 Peristiwa Penting di Bulan Syawal dalam Kurun Waktu Sejarah Islam

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Barangsiapa yang membunuh non-Muslim yang terikat perjanjian dengan umat Islam, maka ia tidak akan mencium keharuman sorga. Sesungguhnya keharuman sorga itu bisa dicium dari jarak 40 tahun perjalanan di dunia.” (H.R. Bukhari)

Dalam catatan sejarah diceritakan juga bagaimana santunnya Nabi ketika bergaul dengan orang-orang Yahudi dan kaum munafik ketika berada di Kota Madinah pascahijrah. Rasulullah tetap menerima sikap lahiriah mereka dan membiarkan para ahli kitab untuk memeluk agamanya dengan bebas.

Bahkan beliau melarang para sahabatnya untuk memerangi dan menyakiti mereka. Banyak hadis-hadis sahih yang menjelaskan sikap toleransi yang dipegang teguh oleh Nabi ketika berinteraksi dengan orang-orang non Muslim di sekitarnya.

Misalnya saja kisah Nabi yang pernah menggadaikan baju perangnya kepada Abu Syahm, seorang Yahudi. Begitu pula dengan sikap beliau dalam bergaul dengan sebagian tamu-tamu perempuan Yahudi serta keramahan beliau ketika menyambut orang-orang Nasrani Najran di Masjid Nabawi sebagaimana tersebut dalam riwayat Ibn Ishak dan Ibn Sa’ad.

Baca Juga:  Tiga Fadilah Surat al Mulk, Salah Satunya Pemberi Syafaat Bagi Pembacanya

Namun Ali Mustafa menegaskan bahwa sikap toleransi yang dimaksud di sini hanyalah dalam masalah keduniaan yang tidak berhubungan dengan permasalahan akidah dan ibadah.

Adapun toleransi dalam masalah-masalah ini, yang menyebabkan seorang Muslim melaksanakan sebagian dari ritual non Muslim seperti Yahudi, Kristen, dan orang-orang musyrik lainnya, baik dalam perkataan, perbuatan, dan akidah adalah terlarang.

Kendati demikian, sebagian ulama kontemporer ada yang membolehkan hal-hal seperti mengucapkan selamat hari raya kepada non Muslim selama sang Muslim yang bersangkutan tidak meyakini kebenaran dari ajaran agama mereka.

Toleransi dalam Islam sangat dianjurkan khususnya toleransi antar umat beragama. Namun sebaliknya Islam sangat menentang keras ajaran pluralisme yang membawa kepada keyakinan bahwa semua agama adalah benar. Karena satu-satunya agama di sisi Allah itu hanyalah Islam semata. (Ali ‘Imran: 19)

“Dalam bahasa Arab toleransi itu tasamuh. Islam disebut juga sebagai al-hanifiyah as-samhah. Segala macam urusan, silakan bertoleransi, kerjasama dengan orang yang berbeda agama silakan,” ungkapnya.

Namun, imbuh Kiai Zamakhsyari, ada hal yang tidak bisa ditoleransi. Yaitu mengenai akidah dan ritual keagamaan. Setiap agama tentu punya teologi dan cara beribadahnya masing-masing.

“Makanya dalam Islam itu ada ayat ‘lakum diinukum wa liyadiin’, itu jadi dasar untuk Islam melakukan toleransi, dengan menyadari bahwa ada agama lain di luar Islam. Tapi jangan sampai kebablasan,” ungkap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi.

Baca Juga:  Tak Ada Gunanya Punya Fitrah Jika Tak Diasah

Pemilik Pondok Pesantren Darul Qur’an, Kabupaten Bekasi itu menyatakan bahwa setiap agama juga punya identitas, seperti simbol-simbol keagamaan dan salam. Hal itu jangan sampai dipergunakan oleh umat agama lain.

“Misalnya ritual, ibadah, dan identitas Kristen jangan digunakan Islam. Begitu pula sebaliknya. Untuk hal-hal seperti itu jangan dicampuradukkan. Assalamualaikum juga jangan diungkapkan oleh Kristen, karena itu doa, doa itu bagi Islam adalah ibadah, dan merupakan bagian dari akidah,” jelasnya.

Di akhir, ia mengajak umat beragama untuk sama-sama menjalin persaudaraan tanpa melihat perbedaan yang ada, sebagaimana para pendiri bangsa Indonesia yang tidak membesar-besarkan perbedaan, karena kepentingannya adalah untuk mempersatukan.

“Jadi, mari sama-sama membangun kerukunan, jangan memperlebar dan membesar-besarkan perbedaan,” pungkasnya.

Mohammad Mufid Muwaffaq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *