Bagaimanakah Hukum Memegang Al-Qur’an Terjemahan Tanpa Wudhu? Inilah Penjelasan Para Ulama

Hukum Memegang Al-Qur'an Terjemahan Tanpa Wudhu

Pecihitam.org – Sebagaimana maklum dijelaskan di dalam beberapa kitab fiqih baik yang dasar hingga lanjutan, dalam keadaan hadas seorang muslim diharamkan untuk menyentuh dan membawa Al-Quran. Lalu bagaimanakah pandangan mereka tentang hukum memegang dan membawa Al-Qur’an terjemahan ketika dalam keadaan hadas atau tanpa wudhu?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Waqiah

لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَۙ

tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan. (QS. Al-Waqi’ah ayat 79)

Ini merupakan dalil dasar tentang keharaman menyentuh atau memegang Al-Quran dalam keadaan tanpa wudhu. Dan diperkuat lagi kemudian dalam salah satu surat yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada Amr bin Hazm tentang larangan menyentuh Al-Quran kecuali dalam keadaan suci.

Mana riwayat ini disampaikan oleh Imam Malik dalam kitabnya, Al-Muwattha

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ : أَنَّ فِي الْكِتَابِ الَّذِي كَتَبَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ : أَلَّا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ

Baca Juga:  Dear Wahabi, Siapa Bilang Selamatan 4 dan 7 Bulanan Kehamilan Tak Ada Dalilnya


Dari Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin hazm sesungguhnya dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah SAWkepada Amr bin Hazm terdapat, “Hendaknya tidak menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci”

Namun penjelasan-penjelasan di atas adalah berkaitan dengan mushaf Al Quran dalam bentuk teks Arab, asli bukan terjemahan.

Walaupun secara substansi, Al-Quran terjemahan tidak ada bedanya dengan lafadz Al Quran yang teks Arab. Karena terjemah itu merupakan penjelasan dari lafadz Arabnya.

Namun dari segi hukum memegang atau membawanya, tidak bisa diingkari terdapat perbedaan hukum tentangnya.

Al-Quran terjemahan, di dalam khazanah Ilmu Al-Qur’an dan tafsir disebut dengan Tafsiriyah Ma’nawiyah. Karena penjelasan itu berupa tafsir Al-Quran berdasarkan beberapa pendapat ulama tafsir yang diikuti, maka Al-Qur’an terjemah ini disebut sebagai tafsir juga.

Penjelasan ini sebagaimana yang tertulis di dalam kitab tafsir Faidl al-Qadir halaman 23

Baca Juga:  Hukum Aqiqah dengan Sapi Menurut Pandangan Ulama

إعلم أن الترجمة لغة النقل وعرفا قسمان : ترجمة معنوية تفسيرية وهي عبارة عن بيان معنى الكلام وشرحه بلغة أخرى من غير تقييد بحرفية النظم ومراعاة أسلوب الأصل وترتيبه

Ketahuilah bahwa terjemah secara bahasa adalah memindah. Adapun secara istilah terbagi menjadi dua bagian. Pertama, terjemah maknawiyah tafsiriyah yakni yang berisi penjelasan dari makna Al Quran dan penjelasannya menggunakan bahasa selain bahasa Al-Quran (bahasa Arab) dengan tanpa terikat ketentuan huruf yang bernadzam dan menjaga metode asal serta susunannya.

Adapun mengenai hukum memegang Al-Qur’an Terjemahan atau Al-Quran yang berupa Tafsiriyah Ma’nawiyah ini dalam keadaan tanpa wudhu dijelaskan dalam I’anatut Thalibin sebagai berikut:

ولا يحرم حمل المصحف مع تفسيره ولا مسه زاد ولو احتمالا، قوله زاد أى على المصحف يقينا أما إذا كان التفسير أقل أو مساويا أو مشكوكا في قلته و كثرته فلا يحل

Tidak diharamkan membawa mushaf beserta tafsirnya, juga tidak diharamkan menyentuh Al-Quran yang tafsirnya melebihi Al-Qur’annya walaupun hanya kemungkinan.

Maksud perkataan “melebihi” adalah tafsirnya melebihi mushafnya secara yakin. Adapun jika tafsirnya lebih sedikit dari Al-Quran atau sama atau diragukan tentang sedikit dan banyaknya, maka tidak boleh menyentuhnya.

Demikianlah penjelasan kami dalam tulisan kali ini tentang hukum memegang Al-Qur’an terjemahan dalam keadaan tanpa wudhu. Wallahu a’lam bisshawab!

Faisol Abdurrahman