Integrasi Ajaran Islam dengan Bidang Keilmuan Lain

Integrasi Ajaran Islam dengan Bidang Keilmuan Lain

PeciHitam.org Islam merupakan ajaran agama yang sempurna. Kemampuannya dapat tergambar dalam keutuhan inti ajarannya. Ada tiga inti ajaran Islam, yaitu iman, Islam dan ihsan. Ketiga inti ajaran itu terintegrasi dalam sebuah sistem ajaran yang disebut Dinul Islam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Iman, ilmu dan amal merupakan satu kesatuan yang utuh, tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Iman diidentikkan dengan akar dari sebuah pohon yang menopang tegaknya ajaran Islam. Ilmu bagaikan batang dan dahan pohon itu yang mengeluarkan cabang-cabang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

Anjuran Mengembangkan Keilmuan

Sedangkan amal ibarat buah dari pohon. Ipteks yang dikembangkan di atas nilai-nilai iman dan takwa akan menghasilkan amal saleh bukan kerusakan alam. Perbuatan baik seseorang tidak akan bernilai amal saleh apabila perbuatan tersebut tidak dibangun di atas nilai-nilai iman dan takwa.

Sama halnya pengembangan ipteks yang lepas dari keimanan dan ketakwaan, tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi umat manusia dan alam lingkungannya apabila tidak dikembangkan atas dasar nilai-nilai iman dan takwa.

Banyak ayat Alquran dan hadis Nabi yang mengajak manusia untuk berpikir (QS. al-Baqarah:242; Q.S. al-Ankabut:43), akan tetapi dalam kenyataannya tidak semua orang-mampu dan mau menggunakan akalnya tersebut untuk berpikir.

Ajaran Islam menjadikan kita menyikapi hidup ini secara ikhtiari dan bukan fatalistik. Ajaran Islam cenderung mengajak pada pencarian hubungan sebab-akibat secara logis, serta mampu menyibak rahasia alam semesta melalui kajian mendalam, riset dan eksplorasi sehingga ditemukan sunnatullah yang merupakan bukti atas kekuasaan Tuhan.

Intergrasi Ajaran Islam dengan Berbagai Bidang

Ajaran Islam juga berupaya memadukan hal-hal yang sampai saat ini masih diperlakukan secara dikotomi dalam pendidikan Islam, yakni relasi antara Tuhan alam, Tuhan-manusia, iman-ilmu, jasmasi-rohani (material-spiritual), duniawi- ukhrowi, wahyu-akal, dimana implikasinya mengakibatkan terpisahnya pengetahuan agama (religious sciences) dengan pengetahuan umum (modern sciences).

Baca Juga:  Tradisi Sedekah Bumi dan Laut Menurut Pandangan Agama Islam

Jadi, ajaran Islam menjalin hubungan yang integralistik. Berikut ini rinciannya.

Pertama. Mengintegrasikan kembali ayat-ayat llahiyah (ketuhanan) dengan ayat-ayat kauniyah (alam semesta), sebab alam merupakan ayat-ayat dan manifestasi sifat-sifat Tuhan.

Ayat-ayat llahiyah dipelajari dalam religious scienses sebagaimana yang telah berjalan selama ini, akan tetapi tidak boleh dipisahkan dengan ayat-ayat kauniyah sebagaimana terungkap dalam ilmu-ilmu modern.

Sebaliknya, pengetahuan yang dicapai melalui ilmu-ilmu modern tidaklah boleh menjadikan kita semakin jauh dengan keyakinan kepada Allah. Justru, semakin tersingkap tabir rahasia alam semesta semakin terbuka lebar tanda-tanda kekuasaan Tuhan dan keberadanya.

Ini sejalan dengan harapan Nabi saw., agar kita tidak tambah ilmu pengetahuan kita kecuali makin mendapat petunjuk atas kebenaran nilai-nilai ketuhanan atau teologis.

Kedua. Mengintegrasikan kembali relasi Tuhan-manusia dalam bentuk pendidikan yang teo-antropo-sentris dengan titik tekan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang paling mulia (Q.S. al-Isra:70), terlahir di dunia dalam keadaan fithrah (Q.S. ar-Rum:30), dan selain manusia berfungsi sebagai hamba Allah juga bertugas sebagai khalifah fi al-ardi (QS. al-An’am:165).

Sebagai khalifah, maka pendidikan Islam hendaknya mampu mengarahkan tujuan, materi, metode, proses dan seluruh kegiatannya pada pembentukan manusia muslim yang taat pada Allah sekaligus mampu menjadi pemimpin, pengelola dan pemakmur di bumi.

Selain itu dapat menguak rahasia alam dan memanfaatkannya untuk kehidupan manusia tanpa merusak, eksploitatif atau menyebabkan ketidak seimbangan ekosistem, sampai di sini dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam hendaknya dapat mengharmoniskan hubungan tripartit antara Tuhan, alam dan manusia.

Baca Juga:  Nilai-Nilai Pendidikan Moral Dalam Sholat

Ketiga. Mengintegrasikan antara iman dengan ilmu. Ibarat koin, iman dan ilmu merupakan dua perkara yang tak boleh dipisahkan.

Dalam Alquran telah dinyatakan bahwa Allah swt. mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat. Nabi saw. juga bersabda bahwa orang yang berjalan menuju ke suatu tempat untuk menuntut ilmu, maka akan dimudahkan jalan baginya menuju ke surga.

Iman seseorang hendaknya didasari oleh ilmu, sehingga keyakinannya tidaklah atas dasar ikut-ikutan (taqlid), melainkan penuh kesadaran dan pemahaman yang mendalam melalui proses belajar.

Keempat. Mengintegrasikan antara pemenuhan kebutuhan rohani (spitual-ukhrawi) dengan jasmani (material-duniawi).

Pendidikan Islam hendaknya tidak dimaksudkan untuk mengisi mental-spiritual anak dengan pembinaan rohaniah semata, melainkan juga penguatan unsur jasmaniah sehingga tercapai kebahagian utuh jasmani-rohani dan dunia akhirat.

Berbeda dengan aliran serba zat atau materialisme yang memandang bahwa manusia itu tersusun dari unsur kimiawi dan materi yang begitu ia mati akan terurai kembali ke dalam materi bentuk lain, dan tidak ada alam non-materi.

Di sisi lain atau aliran serba roh (spiritualisme) yang memandang manusia sebatas jiwa atau idea, sedang badan yang melekat adalah bayangan Islam memadukan kedua sisi manusia tersebut dalam bentuk totalitas, antara roh-jasad, material-spiritual dan dunia akhirat.

Dalam pandangan Islam, begitu manusia mati, tidaklah berarti punah atau akhir dari segala-galanya, melainkan pindah alam, dari alam dunia ke alam kubur, alam barzah dan alam akhirat. Ibarat air, bila dipanaskan terus-menerus, bukanlah berarti airnya yang menjadi berkurang atau bahkan habis atau hilang, melainkan berubah bentuk, dari bentuk zat cair menjadi zat gas.

Baca Juga:  Belajar Memahami Ilmu Agama dari Buah Manggis

Hukum-hukum yang berlaku seperti air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, dan bentuk air sesuai dengan wadahnya, segera berubah hukum kausalitas nya setelah air menjadi uap, seperti berat jenis, tekanan, bentuk, warna dan lain sebagainya.

Kelima. Mengintegrasikan antara tuntunan wahyu dengan daya intelek.

Pemberdayaan intelek membuat kita tetap berpikir kritis dan rasional. Potensi akal bila dikaitkan kedudukannya dengan wahyu ini cukup intens.

Hal ini dapat dilihat dari banyaknya wahyu yang menyuruh manusia menggunakan akal pikiran. Selain itu, untuk memahami kedalaman makna wahyu itu sendiri jelas membutuhkan nalar yang kuat dan cerdas.

Melalui integrasi antara iman, ilmu dan teknologi, diharapkan berbagai kelemahan dan kemunduran yang dialami oleh umat Islam dapat terpecahkan, sehingga umat Islam kembali mengalami kemajuan dan kejayaannya sebagaimana hal itu pernah diraihnya sejak masa Nabi saw. sampai beberapa abad sesudahnya.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan