Islam dan Kasih Sayang, Sebuah Cerita Sahabat Umar Ra dan Seekor Burung Pipit

islam dan kasih sayang

Pecihitam.org – Islam dan kasih sayang memang tidak pernah lepas menjadi pembahasan yang segar untuk dikonsumsi oleh para pemeluk agamanya, lalu bagaimana ajaran kasih sayang yang baik dan benar untuk di mafhum dikalangan kita? Disini Ahlussunnah wal Jamaah secara pandangan Nahdiyyin khusunya ingin mencoba berbagi sedikit cerita dan pemahaman yang insyaallah baik untuk kita semua.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عن عبد الله ابن عمر رضي الله تعالي عنهما قال : قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : اللراحمون يرحمهم الرحمن, ارحموا من في الاررض يرحمكم من في السماء.

Dari Abdullah bin Umar RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: Orang-orang yang pengasih akan dikasihi oleh sang Maha Pengasih. Kasihilah siapapun yang ada di bumi maka semua yang dilangit akan mengasihimu.

Ada cerita unik yang berhubungan dari hadits diatas bahwasanya sahabat Umar RA semasa hidup beliau pernah sesekali berjalan kaki dijalanan kota dan melihat seorang anak kecil sedang menggenggam serta memainkan seekor burung pipit ditanganya. Karena merasa kasihan  kemudian beliau membeli burung tersebut dan melepaskanya.

Baca Juga:  Shuhaib bin Sinan, Sahabat Nabi yang Rela Kehilangan Harta Ketika Hijrah

Setelah meninggalnya beliau diceritakan sebagian Jumhur Ulama bahwa mereka bertemu beliau dalam mimpi dan menanyakan perihal keadaan beliau, mereka bertanya “apa yang Allah lakukan terhadapmu ?” beliau menjawab, “Allah telah mengampuni dan memaafkanku” mereka bertanya lagi “dengan amal apa ? kedermawananmu atau keadilanmu atau kezuhudanmu ?”

Beliau menjawab “Ketika kalian meletakanku didalam kubur, memendamku dengan tanah dan meninggalkanku sendirian datanglah dua malaikat besar dan gagah hingga membuat akalku tak bisa berpikir serta persendianku bergetar karena kegagahan mereka.

Kedua malaikat tersebut membawaku kemudian menundukanku dan hendak menanyaiku, seketika itu aku mendengar suara berkata “Tinggalkan hamba-Ku dan jangan kalian menakutinya, sesungguhnya Aku menyayanginya dan memaafkanya karena dia telah menyayangi seekor burung di dunia maka Aku menyayanginya di akhirat.

Baca Juga:  Abu Ali al-Haddad dan Pengalaman Spiritual Bersama Gurunya

Dari cerita tersebut kita dapat memetik suatu hikmah bahwa islam benar-benar mengajarkan pentingnya sebuah kasih sayang dalam menjalani hidup entah itu kepada sesama manusia, hewan, tumbuhan dan alam semesta seisinya.

Kita tahu dan hafal betul ayat pertama dari surat Al-fatikhah   بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ disitu mengandung kata الرحمن   dan الرحيم yang memiliki arti kasih sayang serta tidak diragukan lagi bahwa dua kata tersebut menjadi nisbat dari Asmaul Husna Allah SWT, disitulah secara tidak langsung Tuhan sendiri yang mengajarkan hamba-Nya untuk selalu menjaga kasih sayang antar sesama atau dalam konteks social yang ada di lingkungan kita biasa kita sebut dengan menjaga silaturrahmi.

Jadi kita haruslah menyadari bahwa kasih sayang sangat penting dan kita senantiasa selalu harus menjaganya dimanapun, kapanpun dan kepada siapapun, karena Allah senantiasa akan menyayangi siapapun yang menyayangi hamba-Nya.

Baca Juga:  Kisah Umar Bin Khattab Melawan Malaikat Mungkar Nakir

Sebuah hadits menerangkan

عن جابر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف ، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس

Dari Jabir, ia berkata,”Rasulullah Saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Jika berkenan ini merupakan dalil acuan bagi kita untuk selalu mau menebar kasih sayang kepada siapapun ketika kita ingin maenjadi sosok khoirunnas yang disitu harus bisa mengaplikasikan anfa’uhum linnas, karena penulis beranggapan bawa menjaga dan menebar kasih sayang adalah sebuah contoh perbuatan yang amat sangat bermanfaat bagi orang lain khusunya diri sendiri. Wallahu a’lam bi muradihi.

Lukman Hakim Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published.