Islam di Indonesia, Dari Membela Agama ke Membela Kemanusiaan

islam di Indonesia

Pecihitam.org – Kelahiran beberapa agama di Indonesia meliputi berbagai aspek perkembangan secara kultural serta mengakomodasi nilai-nilai dan spirit kebangsaan. Perkembangan islam di Indonesia banyak mengakomodir unsur-unsur kebudayaa yang harmonis dan tidak kaku.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Justru, ini yang menjadikan istimewa banyak orang belajar tentang islam di Indonesia. Namun, tak sedikit pula yang membela agama islam dengan habis-habisan, bahkan berjilid-jilid.

Nah, melihat pola keberagamaan masyarakat di Indonesia memiliki berbagai corak yang sangat beraneka ragam. Mulai masyarakat yang dibesarkan oleh narasi teologis yang kuat, hingga yang biasa saja (abangan).

Semenjak pola keberagamaan banyak digaungkan di atas podium dan meneriakkan takbir, seolah-olah membela agama adalah yang paling benar.

Banyak corak beragama yang lahir dengan berbagai macam kepentingan. Jika kita melihat kondisi saat ini, setelah aksi bela islam yang berjilid-jilid itu banyak yang melupakan sisi-sisi kemanusiaan dalam berislam.

Pola berislam seperti diatas sangat riskan sekali terjadi yang banyak dihimpit oleh kepentingan kelompok. Padahal, berislam ala Indonesia merupakan hal yang tidak dapat terelakkan bagi kita semua yang hidup di Indonesia.

Baca Juga:  Kekerasan Politik yang Berujung pada Politik Kekerasan

Sebagai masyarakat Indonesia dan sebagai Muslim Indonesia kita seharusnya, paham dengan corak keislaman yang sesuai konteksnya. Nah, kebanyakan narasi keislaman saat ini cenderung tidak menggambarkan islam ala Indonesia. Seharusnya, kita memiliki kewajiban untuk meng-counter bersama dengan paham keislaman yang lebih memanusiakan manusia.

Menjadi catatan kita bersama, narasi besar tentang islam itu sendiri banyak disalahgunakan oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab. Sehingga, yang terjadi adalah istilah intoleran menjadi isu dan sangat mudah untuk memutar balikkan kondisi atau citra Islam Indonesia di mata dunia.

Hal ini, dapat menyulut dan memperburuk prasangka terhadap islam yang semakin kesini semakin tidak karuan rasanya.

Kemunculan narasi yang tidak sesuai dengan Islam Indonesia membuat pengaruh terhadap wajah Islam sendiri. Munculnya beberapa kasus intoleransi yang terjadi atas nama kelompok maupun individu.

Kemunculan beberapa kepentingan yang bersifat politis selalu menjadi kepentingan mendasar. Tentu saja ini bersarang dan lahir dari dalam kelompok komunal.

Jika kita melihat rilis data yang dilakukan oleh Setara Institute pada tahun (2016) mencatat ada 208 peristiwa tentang pelanggaran kebebasan beragama. Dan pada tahun 2017, tercatat sebanyak 201 kasus yang sama.

Baca Juga:  Islam Nusantara; Konsep Pengamalan Beragama Untuk Indonesia dan Dunia

Dalam beberapa catatan kasus kebebasan beragama ini banyak aktor yang berperan, diantaranya negara, dan aktor non-negara atau kelompok warga. Belum lama ini di awal tahun 2019 terhadi penyerangan gereja atau tempat ibadah yang terjadi di Sleman, Yogyakarta.

Berbagai kasus penyerangan terhadap tempat ibadah ini tentu saja menghadirkan rasa kewaspadaan tersendiri bagi kita, terhadap kelompok luar.

Meminjam istilalah Aksin Wijaya (2018) dalam bukunya Dari Membela Tuhan, ke Membela Manusia ; Kritik Nalar Agamaisasi Kekerasan tentang kehadiran kelompok-kelompok yang memiliki pemahaman absolutis dan teosentris ini cenderung melahirkan cara beragama dengan menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Jika melihat situasi seperti yang ada di Indonesia saat ini bahwa dalam konteks pemikiran Islam, kelompok garis keras sering merepresentasikan pihak yang melakukan klaim terhadap dirinya sebagai yang paling autentik, paling benar, paling suci dan semacamnya.

Hal semacam ini seharusnya sangat kita hindari, karena berawal dari sinilah pemahaman yang bersifat eklusif dan kecenderungan manifestasinya terhadap perilaku intoleran sangat besar.

Baca Juga:  Urgensi Teologi Lingkungan di Masa Pandemi Corona

Perlunya kita memahami bersama persoalan bangsa ini tentang kasus kekerasan beragama yang seharusnya tidak terjadi. Justru, hal ini menjadi pekerjaan rumah, dan selalu menjadi tantangan tersendiri bagi kita bersama yang hidup ditengah paham keislaman dengan berbagai corak warna dan kepentingannya.

Perlunya, kita menanamkan kecintaan terhadap negara dan cinta kasih terhadap sesama dan memberikan pemahaman tentang kerukunan merupakan cara yang paling sederhana untuk memperbaiki itu semua.

Jika beberapa hal ini sudah tertanam dalam diri generasi saat ini, tentunya ini bagian dari membangun fondasi yang kuat untuk menjalin kerukunan dan memiliki paham kemanusiaan. Wallahu’alam bisshowab

Arief Azizy

Leave a Reply

Your email address will not be published.