Ketika Gus Dur Membincangkan Pergolakan Pemikiran Islam Ahmad Wahib

Ahmad Wahib

Pecihitam.org – Bagi yang belum tahu, ada seorang intelektual muslim yang bernama Ahmad Wahib. Ia lahir dari kultur keislaman Madura yang cukup kental dan semasa muda menjadi bagian lingkaran elit Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) wilayah Jogja.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Semasa itu, HMI Jogja kultur intelektualnya sangat hidup. Intelektual besar muslim banyak lahir dari sana, sebut saja: Dawam Rahardjo, Johan Effendi, dan tentu saja Ahmad Wahib.

Semasa kuliah di Fakultas Ilmu Pasti dan Alam (FIPA) UGM dan aktif di HMI tahun 60-an, Wahib sempat tinggal di asrama Realino, sebuah asrama di lingkungan Katolik di Jogja yang diasuh oleh romo-romo Jesuit.

Yang menarik, asrama Realino kultur intelektualismenya sangat hidup dan di sana Wahib (mungkin) memiliki pengalaman interaksi sosial yang lebih multikultur daripada lingkungan Madura, kampung halamannya yang kental Islam-NU sekali. Dari sana, mungkin cukup memengaruhi pandangan keislamannya.

Selain itu, Wahib juga terlibat –tentu saja bersama Dawam Rahardjo dan Johan Effendi- dalam sebuah kelompok diskusi keislaman di rumah Dr. Mukti Ali (Rektor IAIN Sunan Kalijaga) di komplek IAIN.

Baca Juga:  Ketika Gus Dur Mengaku Sebagai Keturunan Cina, Begini Ceritanya

Dalam kelompok diskusi yang dinamai “Lingkaran Diskusi Limited Group” itu, Wahib termasuk yang cukup punya banyak pergolakan dan keresahan pikiran keislaman yang dalam.

Menurut pengakuan Dr. Mukti Ali tak menyangka Wahib “diam-diam merekam dan mengawetkan pikiran-pikirannya dalam bentuk catatan harian.” Di kemudian hari, catatan harian itulah yang lalu diterbitkan menjadi buku Pergolakan Pemikiran Islam setelah Wahib wafat dalam usia muda setelah tertabrak sepeda motor di depan kantor Majalah Tempo, tempat ia menjadi calon reporternya.

Buku Wahib itu kemudian hari menuai pujian dan di sisi lain menuai cacian. Terkait perkara ini, Gus Dur pernah mengulasnya secara khusus di kolomnya di Tempo dengan judul Sekali Lagi Ahmad Wahib.

Dalam tulisan itu Gus Dur mula-mula menjelaskan konteks berbagai tanggapan publik terhadap kemunculan buku Ahmad Wahib itu. Menurut Gus Dur, buku itu semula banyak diapresiasi, bahkan dianggap sebagai buku pembaharuan pemikiran yang juga relevan untuk direfleksikan di kalangan di luar Islam.

Namun, di sisi lain buku itu kemudian hari mendapatkan berbagai kecaman. Wahib sampai dianggap menjadi bagian dari Zionis, antek Sekulerisme, Orientalis dan seabreg pelabelan yang bernada negatif. Tentu saja tuduhan itu sangatlah gegabah.

Baca Juga:  Fatwa Khalid Basalamah: Mengucapkan Kata Sayyidina Itu Menurunkan Derajat Nabi

Ada seorang akademisi muslim menulis di Panji Masyarakat menyebut gagasan Wahib itu sebagai sebuah “tragedi” dalam Islam. Bahkan, ada juga kalangan yang menuntut pelarangan terhadap peredaran buku Wahib itu di pasaran.

Terkait dengan berbagai tanggapan miring sebagian kalangan terhadap buku Wahib tersebut, Gus Dur memandang bahwa pembaharuan yang diusung Wahib dalam catatan hariannya itu tetaplah penting bagi kalangan muslim. Berabagi sikap kritis untuk meninjau ulang terhadap pemahaman keislaman yang mapan itu tetaplah penting.

Gus Dur mencontohkan bahwa upaya pembaharuan itu bukanlah barang asing dalam sejarah Islam. Tengok saja upaya kodifikasi al-Qur’an semasa sahabat Utsman bin Affan yang awalnya mendapat penolakan, akhirnya diterima sebagai sebuah kontribusi besar dalam sejarah Islam.

Gus Dur sendiri sebenarnya tidak menyamakan posisi pembaharuan Wahib secara setara dengan apa yang dilakukan sahabat Utsman bin Affan. Gus Dur tak sepenuhnya sepakat dengan gagasan Wahib, namun baginya sebuah usaha penyegaran pemikiran itu tetap penting, meski tak harus menerimanya secara penuh.

Baca Juga:  Kontroversi Fatwa Al-Bani, Setiap Orang yang Tinggal di Palestina adalah Kafir?

Gus Dur mengilustrasikan kalau ortodoksi keislaman yang dikritik Wahib itu laksana birokrasi pemerintahan. Meskipun ia perlu dikritik, namun birokrasi tersebut tetaplah punya peran sangat penting dan bermanfaat. Betapapun kerasnya kritik terhadap ortodoksi keislaman, tetap saja ia menjadi bagian penting dalam berislam kita.

Demikianlah berbagai pembahasan Gus Dur perihal polemik buku dan pemikiran seorang intelektual muslim yang wafat di usia muda itu. Meski Gus Dur tak sepakat dengan semua pembaharuan Wahib, tapi Gus Dur memangdang kebaruannya itu tetap penting dan bukunya tak sepatutnya dilarang. Biarkan umat membaca dan biarlah sejarah yang memutuskan. Wallahua’lam.