Keutamaan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Berdasarkan Hadits Nabi Saw

keutamaan ali bin abi thalib

Pecihitam.org – Pada tanggal 13 bulan Rajab 15 abad yang lalu, lahirlah seorang Putra Ka’bah. Ia lahir di tempat terbaik yaitu di Ka’bah, di hari terbaik dari hari hari yang lain yaitu hari jumat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bukan hanya lahirnya, wafatnya juga di bulan terbaik yaitu bulan Ramadhan, di malam terbaik yaitu lailatul Qadr, ditempat terbaik yaitu Masjid, dalam waktu yang terbaik ketika sedang shalat, dalam posisi terbaik saat ia sedang sujud.

Dalam hidupnya ia pun memilih guru, ayah angkat dan mertua terbaik yaitu Rasulullah saw, menikah dengan wanita terbaik dari seluruh alam yaitu Fathimah az-Zahra, memiliki putra terbaik yakni Hasan dan Husain. Siapakah dia? Ialah Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Nama ayahnya adalah Abu Thalib bin Abdul Mutthalib bersaudara dengan dengan ayah Nabi saw yaitu Abdullah bin Abdul Mutthalib. Nama ibunya adalah Fathimah binti Asad, kelak nama istrinya juga bernama Fathimah binti Muhammad. Ia lahir dari rahim Fathimah dan menikah dengan nama Fathimah pula. Kehadirannya di dunia karena Fathimah, hidupnya ia abdi bagi Fathimah az-Zahra.

Imam Ali dijuluki sebagai Putra Ka’bah karena lahir di dalam Ka’bah. Ketika ia lahir kondisi ekonomi ayahnya kurang baik sehingga Nabi saw bernisiatif memelihara Ali sampai ia besar. Sebagaimana Muhammad bin Abdullah dipelihara oleh pamannya Abu Thalib maka ketika Ali lahir Nabi saw membalas jasa pamannya dengan memelihara anaknya yaitu Ali.

Baca Juga:  Subhanallah! Baru Tahu, Ternyata Garam Berasal dari Surga, Begini Ceritanya

Dari kecil hingga dewasa Ali dibawa asuhan Nabi Muhammad saw, dialah murid, kader, madrasah nubuwah Nabi saw. Maka tidaklah berlebihan jika Nabi Muhammad saw bersabda,

“Saya kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya, siapa yang menginginkan kotanya maka hendaklah ia mendatangi pintunya (HR. Al-Hakim 3:137).

Dalam tarekat mu’tabar di Sunni nama Imam Ali selalu menjadi teratas dalam rentetan para mursyid, ia menjadi mursyid tertinggi dikalangan tarekat setelah Nabi saw mungkin karena para mursyid tahu bahwa Ali adalah babul ilmi-nya  Nabi Muhammad saw.

Di hadis lain Nabi saw bersabda,

مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ

Artinya: Barang siapa yang menjadikan aku sebagai maula pemimpinnya, maka hendaklah ia menjadikan Ali sebagai maula pemimpinnya. (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat Ibn Majah menambahkan setelah kalimat hadis di atas bahwa Nabi saw bersabda:

أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

Artinya: Engkau disisiku seperti kedudukan Harun dari Musa kecuali bahwa sesungguhnya tidak ada nabi setelahku (HR. Ibn Majah)

Dalam riwayat Imam Ahmad bin Hambal, menyebutkan bahwa Nabi saw bersabda pada Ghadir Khum

اللَّهُمَّ مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالَاهُ وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ

Artinya: Ya Allah, siapa yang menjadikan aku sebagai maula-nya maka Ali (juga) maula-nya. Ya Allah, lindungilah siapa yang melindunginya dan musuhilah siapa yang memusuhinya.

Imam al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak ala Shahihain meriwayatkan bahwa nabi saw bersabda:

Baca Juga:  Mengenal Jasser Auda, Intelektual Muslim di Era Kontemporer

أنت ولي كل مؤمن بعدي و مؤمنة

Artinya: engkau Wali setiap mu’min dan mu’minat setelahku

Walaupun hadis ini tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tetapi menurut al-Hakim ini sesuai syarat kesahihan yang ditetapkan oleh Bukhari dan Muslim. Imam Turmidzi, Ibn Majah, Ahmad bin Hambal dan al-Hakim meriwayatkan mengenai Imam Ali.

Imam Ahmad bin Hambal pernah dipersekusi karena dituduh sebagai Syiah, begitu juga dengan Imam Turmidzi karena terlalu sering meriwayatkan tentang keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib. Imam Syafi’i pun demikian.

Pembencinya tidak meriwayatkan keutamaannya karena kebencian terhadap Imam Ali kw, pecintanya tidak meriwayatkannya karena takut dipersekusi, hanya sebagian ulama yang berani menyebutkan keutamaannya tentu dengan resiko yang akan ditanggungnya.

Imam Tirmidzi salah seorang ulama yang sangat rajin mengumpulkan hadis tentang keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib ketika berada di Kufah. Sehingga orang bertanya kepadanya,

“Anda selalu meriwayatkan tentang keutamaan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, tetapi tidak meriwayatkan keutamaan Muawiyah bin Abi Sofyan. Tirmidzi menjawab, “tidak apa-apa. Karena saya tidak menemukan satu hadis pun yang sahih tentang keutamaan Muawiyah kecuali satu.

Imam Tirmidzi kemudian mengatakan, Rasulullah saw pernah menyuruh Ibnu Abbas untuk memanggil Mu’awiyah. Pada panggilan pertama, Ibnu Abbas melaporkan bahwa Mu’awiyah sedang makan dan tidak bisa memenuhi panggilan Rasulullah. Pada panggilan kedua, Mu’awiyah sedang makan. Kemudian waktu itu Rasulullah saw mendoakannya. Doa ini diriwayatkan oleh Bukhari sebagai berikut, ‘mudah-mudahan Allah tidak mengenyangkan perutnya (Mu’awiyah).

Baca Juga:  Kyai Penggemar Sepak Bola; Dari Gus Dur Hingga Quraish Shihab

Dan hanya itu, kata Tirmidzi, tentang keutamaan Mu’awiyah. Doa Nabi itu pun di ijabah. Ketika Mu’awiyah menjadi penguasa, dia hampir tidak bisa berhenti makan. Bahkan ketika perutnya sudah besar dia masih terus ingin makan.

Pada waktu ini, marahlah orang-orang yang mendengar Tirmidzi menyatakan hal itu. Akhirnya Imam Tirmdizi dipukuli, kemudian diangkut ke daerah Rayy dan meninggal di tengah perjalanan[1]

Sebagai pengikut terhadap Imam Syafii, Ahmad, al-Hakim, Ibn Majah, Tirmidzi dan para Imam lainnya dan karya-karya mereka kita baca sampai saat ini. Kita memiliki kewajiban untuk mengungkap keutamaan para sahabat selain Ali, sebagaimana yang dilakukan para Imam.

Karena bulan Rajab ini berkenaan dengan bulan kelahiran Imam Ali bin Abi Thalib maka kita ceritakan agar umat Islam tahu tentang kemuliaan beliau. kita lakukan itu sebagai amanah ilmiah. Kata Habib Quraish Shihab. Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq


[1] Jalaluddin Rakhmat, Membuka Tirai Kegaiban: Renungan-Renungan Sufistik (Cet.I; Bandung: Mizan, 1994), h.150.

Muhammad Tahir A.