Hikmah Khatib Memegang Tongkat dengan Tangan Kirinya Saat Khutbah

Khatib Memegang Tongkat

Pecihitam.org– Sebagaimana sering kita lihat, seorang khatib memegang tongkat ketika menyampaikan khutbahnya. Lalu apa hikmah atau rahasianya, dan apakah ini ada dasarnya dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam?

Tentang khatib memegang tongkat ketika menyampaikan khutbah ternyata memang ada dasarnya dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Adapun hikmahnya adalah agar hatinya konsentrasi ketika menyampaikan khutbah.

Disebutkan dalam kitab Sunan Abi Dawud hadits yang meriwayatkan bahwa nabi memegang tongkat ketika menyampaikan khutbah

عَنْ شُعَيْبِ بْنِ زُرَيْقٍ الطَائِفِيِّ قَالَ شَهِدْناَ فِيْهَا الجُمْعَةَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصَا أَوْقَوْسٍ

Dari Syu’aib bin Zuraidj at-Tha’ifi ia berkata ”Kami menghadiri shalat jum’at pada suatu tempat bersama Rasulullah SAW. Maka  Beliau berdiri berpegangan pada sebuah tongkat atau busur”. (Sunan Abi Dawud hal. 824)

Baca Juga:  Ketentuan Aurat dalam Shalat Menurut Keempat Imam Madzhab

Berdasarkan hadis ini, maka para ulama Fiqih menganjurkan khatib memegang tongkat, busur atau pedang, yang mana hal ini dalam rangka mengikuti Nabi.

Imam Al-Gahzali menjelaskan sebagai berikut dalam Ihya Ulum al-Din

فَإِذَا فَرَغَ المُؤَذِّّنُ قَامَ مُقْبِلاً عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ لاَ يَلْتَفِتُ يَمِيْنًا وَلاَشِمَالاً وَيُشْغِلُ يَدَيْهِ بِقَائِمِ السَّيْفِ أَوْ العُنْزَةِ وَالمِنْبَرِ كَيْ لاَ يَعْبَثَ بِهِمَا أَوْ يَضَعَ إِحْدَاهُمَا عَلَى الآخَرِ

Apabila muadzin telah selesai (adzan), maka khatib berdiri menghadap jama’ah dengan wajahnya. Tidak boleh menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan kedua tangannya memegang pedang yang ditegakkan atau tongkat pendek serta (tangan yang satunya memegang) mimbar. Supaya dia tidak mempermainkan kedua tangannya. (Kalau tidak begitu) atau dia menyatukan tangan yang satu dengan yang lain”. (Ihya’ ‘Ulum al-Din Juz I, halaman 180)

Baca Juga:  Hukum Bersiwak (Menggosok Gigi) dalam Islam

Sedangkan mengenai tangan yang memegang tongkat adalah tangan kiri sementara tangan kanan berada pada sisi mimbar jika memang padanya tidak terdapat najis.

ﻭَﺃﻥْ ﻳَﻌْﺘَﻤِﺪَ ﺍﻟﺨَﻄِﻴْﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﺤْﻮِ ﻋَﺼَﺎ ﺍﻭ ﺳَﻴْﻒٍ ﺍﻭ ﻗَﻮﺱٍ ﺑِﻴَﺴَﺎﺭِﻩِ ﻟِﻺِﺗِّﺒَﺎﻉِ, ﻭَﺣِﻜْﻤَﺘُﻪُ ﺃﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦَ, ﺑِﺎﻟﺴِّﻼَﺡِ, ﻭَﺗَﻜُﻮﻥُ ﻳُﻤْﻨَﺎﻩُ ﻣَﺸْﻐُﻮﻟَﺔَ ﺑِﺎﻟﻤِﻨْﺒَﺮِ ﺇﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻴْﻪِ ﻧَﺠَﺎﺳَﺔٌ ﻛَﻌَﺎﺝٍ ﺍﻭ ﺫَﺭْﻙِ ﻃَﻴْﺮٍ. ﻓَﺈﻥ ﻟَﻢ ﻳَﺠِﺪْ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻴُﻤْﻨَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻴُﺴْﺮَﻯ ﺗَﺤْﺖَ ﺻَﺪْﺭِﻩِ.

Dan hendaklah khatib memegang pada seumpama tongkat atau pedang atau busur dengan tangan kirinya karena mengikuti cara berkhutbah Nabi. Hikmahnya adalah sesungguhnya agama ini telah tegak dengan bantuan senjata. Sedangkan tangan kanannya hendaknya disibukkan (ditempatkan berada) pada sisi mimbar jika pada mimbar tersebut tidak terdapat najis seperti gading atau kotoran burung. Jika tidak mendapati tongkat, pedang atau busur, maka khatib meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri dibawah dadanya. (Al-Hawasyi Al-Madaniyah Juz II halaman 44)

Baca Juga:  Najis dalam Air dan Pakaian: Diampuni dan Tidak Diampuni serta Problematikanya

Demikian penjelasan tentang hikmah khatib memegang tongkat saat menyampaikan khutbah dan tata cara memegang tongkat tersebut berdasarkan yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Faisol Abdurrahman
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG