KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Cucu Mediator Terbentuknya NU yang Haus Akan Ilmu

KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Cucu Mediator Terbentuknya NU yang Haus Akan Ilmu

Pecihitam.org – KHR Ahmad Azaim Ibrahimy dilahirkan pada tanggal 25 Januari 1980. Awalnya janin dari bayi mulia ini sempat dianggap oleh ibundanya sebagai penyakit tumor, karena saat mengandung sang ibu tidak merasa lazimnya wanita hamil.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Selama mengandung putranya ini, Nyai Zainiyah tidak pernah merasa bahwa ia telah mengandung. Pasalnya, kandungan tersebut tidak pernah ia rasakan seperti yang ia rasakan saat mengandung anak-anak yang lain. Bentuk kandungannya pun seolah-olah di dalamnya tidak berisi bayi.

Namun, sang ibu tidak mau memeriksakannya. Khawatir nantinya divonis mengidap penyakit tumor. Sungguh kuasa Allah, yang awalnya dikira sebagai tumor itu ternyata adalah seorang bayi yang kelak menjadi pemuda yang haus ilmu, bahkan menjadi penerus estafet Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

Diceritakan, sebelum hamil sang ibunda bermimpi. Mimpi ini merupakan isyarat bahwa anak yang dikandung kelak akan menjadi seorang yang ilmunya tersebar luas dan manfaatnya dirasa oleh banyak orang.

Pada suatu malam sang ibunda bermimpi melihat seekor ayam berwarna kuning emas terbang dan mengelilingi pesantren. Kemudian ayam itu dengan berkokok dengam melafadzkan Subhanal Malikil Quddus. Pada pagi harinya, Nyai Zainiyah bercerita kepada suaminya Kyai Dhofier perihal mimpinya. Kemudian Kyai Dhofier berdoa agar dikarunia anak laki-laki.

Tak lama dari peristiwa itu Nyai Zainiyah mengandung dan tak lain yang ada di dalam kandungan adalah KHR Ahmad Azaim Ibrahimy.

Saat Ra Zaim berumur 20 hari, kakeknya, KHR As’ad Syamsul Arifin kedatangan tamu dari Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki yang berkunjung ke Pondok Pesantren Salafiyyah Syafiyyah atas nama utusan Kerjaan Arab Saudi.

Di tengah-tengah tamu kiyai Asad lagi berbincang bincang dengan asik, sosok bayi laki-laki mungil yang masih suci ini menyimak juga.

Usai membicarakan tema-tama penting, Kiyai As’ad berharap kepada Allah SWT agar bayi yang sedari tadi mengupingi isi pembicaraan itu menjadi anak yang sholeh, bermanfaat bagi umat. Beliau pun memohon kepada Abuya Sayyid Muhammad agar berkenan memangku anak itu walau sebentar.

Abuya Sayyid mengabulkan permintaan Kyai As’ad. Bayi mungil itu pun sudah ada di pelukan Sayyid. Ia merasa nyaman dan sayyid pun tanpa terasa telah terbuai dalam cinta sang bayi mungil itu.

Baca Juga:  As-Syekh Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husaini, Penyebar Islam di Sulawesi Selatan

Kemudian Sayyid merasa ingin memiliki bayi itu. Tanpa merasa ada beban, Sayyid mengutarakan keinginannya untuk segera memiliki sang bayi. “Jika anak ini sudah dewasa, biarkan ia bersama saya,” ungkap Sayyid Muhammad.

Nama Awal Ra Zaim adalah Muhammad Imdad, sebuah nama pemberian ibundanya, Nyai Zainiyah.
Bayi lelaki yang bernama Imdad diasuh oleh Nyi Siti. Bersama ibu asuh inilah, ia lebih banyak menghabiskan hari-harinya.

Pernah suatu ketika, Imdad melempari batu ke arah Madrasah Putri gegara Nyi Siti saat itu sedang mengajar di kelas. Muhammad Imdad meminta Nyi Siti untuk berhenti mengajar. Saat Imdad ngamuk, datanglah Kiyai As’ad.

Mengetahui cucunya ngamuk seperti itu, Kiyai As’ad bertanya kepada Nyi Siti kanapa Imdad ngamuk. Nyi Siti menjawab karena diketahui ngajar santri. Selepas itu, Kiyai As’ad dengan nada sambil bergurau meminta agar nama Muhammad Imdad dirubah.

Saat itu Kakek Imdad menjelaskan kepada Nyai Siti, kalau cucu itu masih bernama Imdad, ia akan nakal dan sulit diatur. Maka atas permitaan Kiyai As’ad, Nyai Zainiyah merubahnya menjadi Ahmad Azaim Ibrahimy.

Kesenangan Ra Zaim saat kecil adalah
main tembak-tembakan. Profesi yang sering dilakukan para tentara itu sangat digemari oleh Ra Zaim di kala kecil. Sehingga tidak jarang ia berlagak seperti tentara. Seperti memainkan tembak-tembakan sambil bersembunyi seolah-olah sedang mengintai atau menghindari musuh.

Penah suatu ketika Kiyai As’ad sedang menerima tamu negara, yaitu Mentri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam), LB. Moerdani. Ra Zaim mengetahui kalau yang menjadi tamu kakeknya itu adalah tentara, dengan sigap Ra Zaim berlari menuju Kiyai As’ad seraya berteriak “Pak tembak, Pak tembak” sebut Ra zaim kepada Pak LB Moerdani.

Ra Zaim yang ingin melihat Jendaral TNI tersebut, langsung duduk di pangkuan sang Kakek. LB. Moerdani yang belum mengetahui siapa bocah kecil itu langsung bertanya kepada Kiyai As’ad.” Siapa anak ini Kiyai?”

Kiyai As’ad menyampaikan kepada tamunya kalau anak yang duduk di pangkuannya itu adalah cucunya sendiri. “Doakan cucu saya ini ya pak, Insya Allah ini yang akan menjadi pengganti Sukorejo, yang akan meneruskan perjuangan saya” ujar Kiyai As’ad kepada LB. Moerdani.

Beliau dan Jendral TNI itu sedang berbicara empat mata, tidak ada seorangpun yang ikut berbicara selain mereka berdua. Tetapi tanpa sengaja, perbincangan itu kemudian didengar oleh Nyi Siti, ibu asuh Ra Zaim.

Baca Juga:  Mengenal Sayyid Qutb dan Sepak Terjangnya dalam Pemikiran Islam

Pada masa menempuh pendidikan dasarnya, Azaim kecil tidak jauh beda dengan teman-temanya yang lain. Ia bermain, gurau, nakal dan lain sebagainya. Azaim tidak jarang membuat mangkel ibu dan kaka-kakanya dikarenakan persoalan klasik bagi anak kebanyakan. Merengek-rengek, membanting sesuatu ketika merasa kecewa sampai urusan mandi.

Masa kanak-kanaknya tanpa terasa seiring berlalu dengan berlalunya sang waktu. Tahun 1992 iapun lulus SD. Karena belum siap pisah dengan teman-temanya iapun melanjutkan Pendidikan menengahnya di SMP Ibrahimy Sukorejo.

Pada masa pendidikan di lembaga milik keluarganya ini, ia tempuh sekira 1992-994. Di SMP Ibrahimy ini ia tidak sampai menyelesaikan pendidikan SMP-nya. Dengan berbagai pertimbangan, ia pindah ke Nurul Jadid Paiton sampai lulus SMP tahun 1995.

Kepindahan Ra Zaim dari SMP Ibrahimy ternyata atas inisiatif beliau sendiri. Alasannya untuk pindah dari sekolah yang notabene milik keluarganya sendiri sangat mencengangkan.

Di SMP Ibrahimy ini, Azaim ingin cepat-cepat pindah karena ia merasa guru-gurunya memperlakukan istimewa. Walau sebangai cucu Kiyai As’ad, Ra Zaim ternyata tidak nyaman dengan perlakuan gurunya terhadap Azaim.

Iapun mendesak sang ibu untuk mencarikan tempat mondok yang baru. Atas hasil itikhoroh sang ummi, Ra Zaim pun mantap mondok di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.
Tak ingin istimewa di tempat barunya ini, ia tidak pernah menampakkan sama sekali kalau ia putra KH.Dhofier
Munawar, telebih cucu KHR. As’ad Syamsul Arifin

Di pesantren inilah, ia tampil apa adanya. Ra Zaim sering menyapu dan mencuci piring di dapur. Usai menyapu dan cuci piring, ia langsung pergi tanpa mengambil upah yang ditawarkan kepadanya.

Sejak menyelesaikan pendidikan formalnya di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton (1994-1998), Ra Zaim menjadi santri perantau. Ia kerap pindah dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Ia mulai pindah dari pesantren yang satu menuju pesantren yang satunya pada kurun tahun 1998-2003.

Pernatauan imiyahnya terasa semakin lengkap ketika ia berangkat ke Ma’had Rushaifah pada tahun 2003. Dengan menggunakan Paspor TKI, ia berangkat ke Tanah Suci. Berbekal restu Sang Ummi, Ra Azim mantap menuju Ma’had yang saat ini diasuh oleh Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi Al-Maliki.

Baca Juga:  Sekilas Tentang Anregurutta Abunawas Bintang, Ulama Bugis Sulawesi Selatan

Sesampainya di Kota kelahiran Nabi Muhammad SAW itu, langsung menghadap Abuya Sayyid Muhammad. Saat itu orang yang pernah menggendongnya itu sudah sakit-sakitan. Baru bertemu dengan Sayyid, Azaim langsung diminta untuk membantu Sayyid. Ia tidak diberikan keluar oleh Sayyid.

Minggu-minggu pertama di Kota Mekkah, Ra Zaim sering diperintahkan Sayyid untuk mengantarkan makanan berbuka puasa ke Masjidil Haram. Mengantar berbuka puasa inilah yang dilakukan di bulan Ramadhan setiap harinya.

Sekitar satu tahun di Mekkah, Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki wafat. Otomatis ia diganti putranya yaitu Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi Al-Maliki.

Selain sebagai santri yang cerdas, Ra Zaim dikenal sangat dekat dengan Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi Al-Maliki. Ia sering diminta menjadi penerjemah isi pidato Sayyid Ahmad. Jika ada jamaah yang datang dari Indonesia ke Sayyid Ahmad, bisa dipastikan Ra Azaimlah yang ditunjuk sebagai penerjemah.

Kealiman KHR Ahmad Azaim Ibrahimy memang sudah tidak diragukan. Alim wajar saja sebagai cucu kiyai As’ad ini, abahnya Kiyai Dhofier Munawar siapa yang tidak tahu kealimannya. Cucu Kiyai Ruham yang wafat tahun 1985 dikenal sebagai kamus berjalan.

Sehingga besar kemungkinan kealiman abahnya berpindah kepada putranya yang tidak lain adalah Ahmad Azaim Ibrahimy yang kini menjadi Pengasuh IV Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

KHR Ahmad Azaim Ibrahimy merupakan pengasuh keempat yang didaulat jadi pimpinan pesantren sejak tahun 2012. Sebelum beliau telah ada tiga pengasuh. Mereka adalah KHR. Syamsul Arifin (1908 – 1951), KHR. As’ad Syamsul Arifin (1951 – 1990), dan KHR. Fawaid As’ad (1990 – 2012).

Faisol Abdurrahman