Konsep Keliru Hijrah Ala Milenial

hijrah milenial

Pecihitam.org – Hijrah secara bahasa adalah berpindah. Secara istilah adalah berpidah dari satu tempat ke tempat yang lain. kata hijrah pertama kali diperkenalkan Nabi saw ketika beliau hijrah dari Makkah ke Madinah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hijrahnya Nabi saw disebabkan oleh karena di Makkah keselamatannya terancam oleh Kafir Quraish. Berdasarkan perintah Allah swt pada tahun ke-13 kenabian ketika Nabi saw berumur 50 tahun.

Sebelumnya pada tahun ke-10 kenabian dua orang yang begitu beliau cintai, istri pertamanya Khadijah al-Kubra dan pamannya Abu Thalib meninggal. Sehingga pelindung dan pejuang sejati Nabi saw dalam menyampaikan dakwah telah tiada, maka pilihan untuk hijrah adalah pilihan yang tetap bagi Nabi saw.

Keinginan Nabi saw ke Madinah tercium oleh Kafir Quraish, maka Abu Jahal, Abu Sofyan dan lainnya ingin menggagalkan rencana hijrahnya Nabi saw, karena itu di malam hari mereka berencana membunuh Nabi saw.

Malam itu pula menjadi ujian terberat bagi Ali bin Abi Thalib, sebab Nabi saw meminta Ali menggantikan tidur ditempat Nabi saw. Ya  Allah, betapa bahagianya Ali tidur ditempat tidur kekasihmu yang karenanya alam engkau ciptakan.

Saat Nabi saw meminta Ali menggantikan Nabi tidur di tempat tidurnya. Ali hanya bertanya, Ya Rasulullah, sekiranya aku menggantikan engkau tidur apakah engkau selamat dari gangguan kaum kafir itu? Iya. Jawab Nabi saw.

Baca Juga:  Subhanallah! Ternyata Kriminalisasi Ulama Juga Banyak Terjadi di Masa Khilafah

Tanpa ada keraguan sedikitpun Ali menggantikan Nabi saw tidur tempat tidurnya. Malam itu Ali berselimut keberkahan dari Rasulullah, ia menyentuh, berbaring pada tempat Nabi saw.

Pada malam itu, Nabi saw selamat dari rencana pembunuhan dari kaum kafir Quraish dan selamat sampai Madinah. Jadi sekali lagi, hijrah adalah berpindah dari satu tempat yang tidak aman ke tempat yang aman untuk tujuan yang mulia.

Belakangan beberapa kalangan, memahami bahwa subtansi dari hijrah adalah berpindah dari sifat buruk ke sifat yang baik. Hijrah ditandai dengan meninggalkan sifat-sifat buruk ke sifat-sifat baik.

Hijrah dengan mengubah pakain dari ala Indonesia ke pakaian ala Arab, dari tidak berjenggot ke berjenggot, bukanlah hakikat hijrah. Lantas buat apa merubah style bila subtansinya tidak mengalami perubahan?

Fenomena hijrah hari ini, umumnya ditandai dengan merubah penampilan pakaian, tentu saja ini tidak keliru, sah-sah saja untuk dilakukan.Bahkan ada umat Islam yang terjebak dengan konsep hijrah. Sebagian orang mengaku hijrah dengan merubah penampilannya (tidak ada masalah), berjidat, berjenggot, bercadar , namun akhirnya terkesan berlebihan.

Bahkan ada fenomena hijrah yang keliru sekali, betul ia rajin shalat bahkan shalat berjamaah tidak terputus, rajin puasa, rajin membaca al-Qur’an namun rajin pula memelihara kebencian pada kelompok yang berbeda. Rajin mengkafirkan, rajin melakukan provokasi, rajin membid’ahkan pada amalan yang lainnya

Baca Juga:  Inilah Ungkapan Salafi Wahabi Yang Banyak Mengandung Tipu Daya

Dan anehnya semuanya itu dilakukan atas nama agama tanpa ada perasaan bersalah atau pun berdosa bahkan tindakannya dianggap sebagai bagian dari perintah agama. Hijrah yang demikian, memang berpindah tetapi ia berpindah dari satu kemaksiatan kepada kemaksiatan yang lain. naudzubillahi min dzalik.

Dulu ia murah senyum setelah hijrah ia sulit untuk tersenyum, dulu rajin bergaul setelah hijrah ia menutup diri dari pergaulan, dulu penuh persahabatan setelah hijrah ia menjadi pembenci, dulu ia ramah setelah hijrah suka marah.

Dalam hadis disebutkan bahwa hijrah itu ada dua. Pertama, hijrah atas dasar nama Allah dan Rasulullah; Kedua, hijrah karena mengejar kesenangan dunia.

Mereka yang hijrah atas nama Allah dan Rasul-Nya tentu ia akan bertindak, berperilaku atas nama petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Sementara yang hijrah karena mengejar kesenangan dunia tentu prilakunya didasarkan pada dunia tersebut.

Hijrah yang diinginkan Islam dan sesuai ajaran Islam adalah kelompok yang pertama, sementara yang kedua tidak sesuai dengan semangat Islam. Dalam al-Qur’an surah an-Nisa ayat 100 Allah swt berfirman:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (100)

Artinya: Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ii tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ulama tafsir menafsirkan bahwa kata wa man yakhruj min baitihi ‘keluar dari rumahnya. Kata baitihi adalah nafsu ammarah. Jiwa yang selalu melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, sekiranya kita ingin hijrah maka yang pertama kali kita tinggalkan adalah jiwa hewaniyah, jiwa amarah kita dan ini adalah pekerjaan setiap waktu.

Baca Juga:  Khilafah dalam Pandangan Habib Umar bin Hafidz

Maka Nabi saw setelah dari perang dan menang, Beliau saw lalu memberitahukan jihad paling besar adalah melawan nafsu yang setiap waktu bersama dengan kita.

Penampilan sebagai (maaf) ustadz, ulama, berjubah, bertasbih, berjenggot, berjidat, bercadar, cingkrang, dan lain sebagainya bukanlah ukuran hijrah tetapi ukuran hijrah adalah meninggalkan hawa nafsu.

Wallahu A’lam bis Shawaab.

Muhammad Tahir A.