Gambar Angin dan Formalisme Simbol Agama

simbol agama

Pecihitam.org – Malam itu Kang Mistro seorang santri pondok yang di akui keilmuannya oleh masyarakat tak boleh pulang dari masjid sebelum dia memutuskan perkara gambar yang pas buat ambulans masjid. Ustadz yang mereka undang ceramah berpendapat, bahwa gambar Matahari di ambulans masjid harus dihapus karena tak sesuai ajaran syariat dan bukan simbol agama islam. Matahari identik dengan ”Ra”, Tuhan agama lain di Mesir, teriak sang ustadz di podium.

Semua pengurus masjid dan tokoh setempat duduk mengelilingi Kang Mistro. Biasanya masyarakat banyak yang meminta pendapat pemuda cerdas ini kalau sedang ditimpa masalah. Pengurus masjid mulai terbelah menjadi dua kubu. Sebagian setuju dengan ceramah sang ustadz, sebagian lain tidak setuju.

Kubu yang setuju logo ambulans diganti mengusulkan gambar bintang. Banyak masjid di negara Islam menggunakan gambar bintang sebagai simbol dan bendera. Tapi usul ini ditolak secara halus oleh Kang Mistro. Menurutnya kata bintang, yang dalam bahasa Inggris disebut ”star”, ternyata berasal dari nama Ishtar, Tuhan bangsa paganis dari Babylonia dan Assyria. Ishtar adalah dewi perang mereka yang juga dikenal sebagai dewi nafsu dan birahi alias dewi prostitusi alias Dewi Venus. Para pengurus masjid melongo mendengar penjelasan Kang Mistro.

Baca Juga:  Mahasiswi Ini Keluar dari Salafi Wahabi, Tak Tahan Dilarang Bershalawat Nariyah

Mereka lalu mengusulkan gambar bulan, tepatnya bulan sabit supaya menarik. Tapi ini juga buru-buru ditolak oleh Kang Mistro. Menurutnya juga, bulan itu adalah simbol dewa laki-laki dalam kepercayaan Yunani kuno atau Sumeria dan Babilonia dari Mesopotamia. Di Sumeria ia disebut Nanna, di Babylonia ia disebut Sin. Nanna inilah yang dikenal sebagai ayah Isthar alias Dewi Venus si bintang pagi dan sore. Para pengurus masjid melongo kembali dengan penjelasan itu.

Maka, mumpung semua pada melongo, Kang Mistro melanjutkan penjelasannya. Dalam kebudayaan Mesir, Dewa Bulan tak bisa sembarangan turun ke Bumi. Ia selalu diwakili oleh Thoth, Dewa Kebijakan dan Sihir yang kerap dilukiskan sebagai dewa berkepala burung Ibis.

”Jadi, selama ini kami salah kaprah?” tanya seorang pengurus tak sabar. ”Kalau begitu apa usul antum?”

Kang Mistro tak menjawab tapi langsung berdiri. Ia mengambil seember cat yang sudah tersedia lalu menorehkannya di ambulans milik masjid. Gambarnya tak karuan. Logo matahari yang semula artistik jadi acak-acakan. Tentu saja semua orang jadi marah.
”Gambar apa itu ya Kang?”
”Tenang, itu gambar angin,” jelas kang Mistro santai.
”Angin apaan? Memang angin bisa dilihat?” sergah mereka hampir marah.

Baca Juga:  Kisah Hatib Ibnu Balta'ah Seorang Sahabat Nabi yang Berkhianat

”Kalau angin tak terlihat, mengapa kalian tahu bahwa angin memang ada? Itulah angin, makhluk ikhlas yang tak merasa perlu terlihat oleh manusia tapi kebaikannya terasa. Angin tak perlu simbol angka, huruf, atau gambar apa pun. Buat dia, mewujudkan kebaikan sesuai ajaran agama akan lebih terasa lewat karya nyata ketimbang berbangga-bangga dengan simbol huruf apalagi angka. ”

Karena para pengurus masjid masih melongo, Kang Mistro melanjutkan: ”Percayalah, jika kalian bangga dengan logo Matahari, besok orang lain mengbanggakan bulan atau bintang. Jika kalian bangga dengan simbol 515, 717, atau lainnya, orang akan mencari angka tandingan 101, 999 atau 123 …”

”Bagi saya ingin selalu terbang bersama angin dan pikiran …, saya bukan Palang Merah atau Bulan Sabit dan Bintang apalagi simbol angka-angka …” jawab Kang Mistro sambil berlalu.

Cerita diatas boleh dianggap fiktif, namun bukan itu konteksnya. Dewasa ini kita sering di sibukkan dengan formalisme berbangga dengan simbol-simbol agama, yang pada hakikatnya itu tidak begitu penting. Seakan-akan keislaman harus ditunjukkan melalui simbol-simbol tersebut. Kemudian dengan simbol lain yang dianggap tidak islami merasa takut.

Baca Juga:  Wahabi Enggan Dialog Dengan Pakar, Tapi Tajam Menyerang Awam

Hanya karena simbol salib kita takut keimanan kita luntur, hanya karena gambar gereja takut iman kita runtuh. Ber-Tuhan dan beragama seakan-akan terasa begitu sulit tanpa simbol yang islami dan begitu menakutkan jika melihat simbol agama lain. Apakah dalam beragama kita tak bisa belajar ikhlas seperti layaknya angin yang tak terlihat?

Gus Dur pernah ditanya: Gus apa tanda-tandannya keras hati? Gus Dur menjawab “saat melihat gereja kau takut imanmu runtuh, tapi saat membaca al-Quran tak sedikitpun imanmu tersentuh.

Wallahua’lam Bisshawab
.

Arif Rahman Hakim

Santri, Penulis dan Wirausahawan at Afika Dewi Fashion
Santri mbeling di ponpes Miftahul Ulum Batang, Pengurus PWCINU dan LAZIZNU Okinawa - Jepang Tahun 2017
Arif Rahman Hakim
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG