Manfaat Meminta Maaf dan Memaafkan, Salah Satunya Mendapat Kemuliaan

manfaat meminta maaf dan memaafkan

Pecihitam.org Sebagai manusia biasa tentu saja melakukan kesalahan adalah hal yang wajar, karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Yang terpenting adalah bagaimana caranya kita dapat menghapus kesalahan dan memperbaikinya.

Cara yaitu dengan meminta maaf, apalagi kita sebagai orang islam harus saling maaf dan memaafkan. Jika kesalahan terhadap Allah SWT sebagai orang yang beriman tentu diwajibkan untuk bertaubat, sementara jika bersalah kepada sesama manusia diwajibkan untuk meminta maaf, sementara jika orang lain yang bersalah maka kewajiban kita adalah memaafkan.

Banyak sekali manfaat dari saling meminta maaf dan memaafkan. Seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, sebagai teladan yang sempurna bagi kita, Aisyah ra pernah ditanya terkait watak pribadi Rasulullah, ia pun menjelaskan:

 كان أحسن الناس خلقا، لم يكن فاحشا ولا متفحشا، ولا سخابا في الأسواق، ولا يجزي بالسيئة السيئة، ولكن يعفو ويصفح

Artinya, “Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus akhlaknya: beliau tidak pernah kasar, berbuat keji, berteriak-teriak di pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Malahan beliau pemaaf dan mendamaikan,” (HR Ibnu Hibban).

Adapun manfaat dari meminta maaf dan memaafkan dalam islam yaitu:

1. Diampuni dosa

Meminta maaf jika mempunyai salah kepada sesama manusia adalah suatu kewajiban, dan memaafkan adalah kewajiban bagi orang yang dimintai maaf. Bahkan banyak orang yang mengatakan bahwa mempunyai kesalahan kepada manusia lebih sulit dibandingkan mempunyai salah kepada Allah (selain syirik), karena orang yang mempunyai salah kepada manusia harus melapangkan diri untuk meminta maaf.

Baca Juga:  Suami-Suami Takut Istri; Ternyata Dilarang dalam Agama

Dan juga orang yang mempunyai salah dan yang disalahi harus saling menghalalkan, ataupun ridha. Maka dari itu hendaknya kita slalu menjaga diri untuk tidak melukai perasaan sesama manusia, dan tetap menjaga silaturahmi.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan.

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin, dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nur: 22).

2. Diberikan pahala dan kemuliaan

فمن عفا وأصلح فأجره على الله

Baca Juga:  Meski Dosa Sebesar Gunung, Janganlah Putus Asa dari Rahmat Allah yang Melangit Luas

Artinya, “Barangsiapa yang memaafkan dan mendamaikan maka pahalanya dari Allah SWT” (QS: Asy-Syura: 40)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 وما زاد الله عبد بعفو إلا عزا

Artinya, “Tidaklah Allah SWT menambahkan sesuatu kepada orang yang memaafkan kecuali kemuliaan,” (Al-Muwatta’ karya Imam Malik).

3. Dibukakannya pintu surga

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

“Pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan kamis. Lalu diampuni selluruh hamba yang tidak berbuat syirik (menyekutukan) Allah dengan sesuatu apapun. Kecuali orang yang sedang ada permusuhan dengan saudaranya. Dikatakan: Tunda amal dua orang ini, sampai keduanya berdamai… tunda amal dua orang ini, sampai keduanya berdamai… tunda amal dua orang ini, sampai keduanya berdamai…” (HR. Imam Malik dalam Al-Muwatha’ 5/1334, Ahmad 9119, dan Muslim 2565).

Meminta maaf dan memaafkan adalah pangal dari perdamaian, karena diantara keduanya ada kehalalan dan keridhaan.

Baca Juga:  Inilah Keutamaan Menjadi Mak Comblang dalam Islam

Seperti yang telah dikatakan oleh Imam Syafi’i :

لَمَّا عَفَوْتُ وَلَمْ أَحْقِدْ عَلىَ أَحَدٍ *** أَرِحْتُ نَفْسِي مِنْ هـمِّ العَـدَاوَات

Kala mema’afkan saya (berupayaa untuk) tidak iri pada siapa pun *** saya tenangkan jiwa saya dari keinginan bermusuhan. (Lihat: Sahirul Layali Fi Riyadlil Jannah, Hal: 284-284).

Wallahua’lam.

Lukman Hakim Hidayat
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG