Mbah Muqoyyim, Kyai Pejuang Pendiri Pesantren Buntet Cirebon

mbah muqoyyim cirebon

“Alam Pesantren adalah Duniaku, alam pesantren adalah alam yang menempa jiwa, melukis jalan pikiran dan memahat cita-cita” (KH. Syaifuddin Zuhri)

Pecihitam.orgPondok pesantren Buntet adalah salah satu pesantren yang ada di timur Cirebon. Buntet juga merupakan salah satu pesantren tertua di Cirebon sehingga sudah banyak mencetak ribuan santri dan alumni. Pendirian pesantren Buntet sendiri tidak lepas dari keadaan kesultanan dan pemerintahan Cirebon pada masa itu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pesantren Buntet Cirebon adalah pondok yang didirikan Oleh KH.Muqoyyim atau dikenal dengan nama Mbah Muqoyyim. Buntet pesantren sendiri didirikan bertujuan salah satunya untuk menghimpun kekuatan para ulama dalam melawan penjajah (Belanda) saat itu yang sudah banyak mempengaruhi dan menguasai Keraton Cirebon.

Mbah Muqoyyim membangun langgar kecil dan beberapa kamar untuk santri, tidak butuh waktu lama akhirnya banyak yang ikut mengaji kepada beliau, termasuk dari luar buntet sendiri.

Namun kabar perkembangan Pesantren yang dibangun mbah Muqoyim sampai ke telinga para penjajah. Karena dianggap melakukan perlawanan Sehingga kemudian penjajah berencana melakukan penyerangan dan penangkapan terhadap mbah muqoyim.

Baca Juga:  Ulama Teluk Sungka; Syekh Walid Thaib Saleh (1901-1976)

Namun entah bagaimana mbah Muqoyim mengetahui bocoran berita penyerangan tersebut hingga akhirnya beliau bisa menyelamatkan diri bersama dengan sahabat dekatnya yakni Kiai Ardi sela dan menuju ke Desa Paswahan Sindang laut yang berjarak sekitar 10 km dari Buntet.

Dari sinilah kemudian mbah Muqoyim melakukan perjalanan sampai ke daerah Pemalang. Selain untuk menghindari penangkapan penjajah sendiri mbah Muqoyim sembari melakukan dakwah pada tempat-tempat yang disinggahinya.

Meskipun dalam hal genting mbah Muqoyim tidak melupakan misi kemanusiaan dan keagamaannya. Menurut Kiai Mifatah Faqih Hal tersebut dilakukan juga sebagai bentuk mempertahankan ideologi bangsa agar tetap ada rasa untuk menolak para penjajah.

Dalam beberapa catatan salah satunya catatan dari bukunya Bintang Irianto yang berjudul Sang Kiyai Rakyat menceritakan, saat sedang berada di Pesawahan mbah Muqoyyim kedatangan tamu agung dari keraton yakni pangeran Muhammad putra dari sultan Chaeruddin keanoman (kemudian pangeran muhammad bergelar pangeran Sultan Chaeruddin II).

Baca Juga:  Ditawari Jadi Presiden, Kyai Hasyim Asy'ari Justru Serahkan Kepada Soekarno

Pangera Muhammad menceritakan tentang keadaan keraton atas campur tangan Belanda yang sudah sangat menghawatirkan. Pangeran Muhammad pun kemudian menyatakan diri menjadi santri mbah muqoyim.

Dari sini kemudian Pangeran Muhammad menjadi santri cerdas dan hebat. dan mendapat gelar Pangeran santri. Ia lalu banyak membantu perjuangan untuk melawan penjajah terutama perlawanan dari dalam baik secara politik maupun pengaruh kebijakan.

Namun karena hal tersebut akhirnya menjadi blunder bagi kalangam santri, sebab hubungan antara pangeran santri dan mbah Muqoyyim dijadikan kunci bagi belanda untuk bisa mengetahui keberadaan mbah Muqoyim. Sehingga belanda melakukan persiapan penyerangan ke pesantren mbah Muqoyim yang ada di pesawahan.

Namun bukan mbah muqoyim namanya kalau tidak lebih dulu dari belanda. Beliau kembali mengetahui penyerangan tersebut. Hingga akhirnya mbah Muqoyim bersama para santrinya dibantu kiai Ardi Sela melakukan perjalanan ke Pemalang.

Tak ayal saat belanda sampai di pesawahan pun tidak menemukam mbah Muqoyim dan para santrinya sehingga hanya memborbardir bangunannya saja sama seperti sebelumnya ketika di Buntet.

Baca Juga:  Syekh Junaid Al-Baghdadi, Kisah Waliyullah; Karomah dan Kalam Hikmahnya

Di pemalang mbah Muqoyim di kampung beji atau nama aslinya bernama kampung Kenanga. Dinamakan beji karena hanya punya satu lebe jadi beji adalah lebe siji. Mbah muqoyim tinggal dirumah Kiai Abdussalam sampai kemudian diangkat menjadi menantu.

Sampai keadaan dirasa membaik kemudian mbah Muqoyyim pulang kembali ke Buntet Cirebon dan membangun kembali pesantren yang sudah diporak-poeandakan oleh belanda.

Wallahu a’lam semoga bermanfaat. Tabik!

Fathur IM