Moderasi Pemikiran Kyai Ali Mustafa Yaqub Ditengah Umat

pemikiran ali mustafa yaqub

Pecihitam.org – Banyaknya jabatan dan penghargaan yang diraih oleh Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub menunjukkan bahwa kehadirannya diterima oleh masyarakat. Terpilihnya menjadi imam besar masjid Istiqlal selama dua periode merupakan bukti bahwa beliau diterima oleh pemerintah dan banyak kalangan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hal ini tentunya karena berangkat dari pola pemikiran Kyai Ali Mustafa Yaqub yang dapat kita lihat dari latar belakang pendidikannya. Sejak kecil beliau tumbuh di tengah-tengah masyarakat Jawa yang agamis, kental dengan tradisi NU.

Ayahnya yang merupakan tokoh agama telah mendidiknya dengan karakter Islam ala NU. ke-NU-an ya dikuatkan lagi dengan nyantri di Seblak Jombang, dan dilanjutkan di pesantren Tebuireng yang didirikan oleh pendiri NU.

Maka wajar jika pemikiran Kiai Ali Mustafa Yaqub sedikit banyak bercorak NU. Bahkan beliau juga pernah menjabat Rais Syuriah PBNU Bidang Fatwa. Beliau lahir dan tumbuh dari rahim NU dan mengabdi untuk NU.

Meskipun kyai Ali Mustafa pernah belajar 9 tahun di Saudi Arabia yang pemikiran keislamannya lebih identik dengan corak Wahabi atau salafi yang puritan, namun itu tidak banyak mempengaruhi pola pikirnya.

Baca Juga:  Kecintaan Habib Umar bin Hafidz kepada Nahdlatul Ulama

Hal ini ditambah dengan interaksi beliau dengan tokoh tokoh moderat, seperti syekh Hasan Hitou, syekh Wahbah Zuhaili, dan syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi. Dengan bergaul bersama mereka beliau semakin banyak belajar toleransi dalam perbedaan dan budaya menghargai dalam keberagaman.

Dalam menyikapi pendapat ulama-ulama Saudi Arabia dan komunitas Salafi di Indonesia yang cenderung kaku dan tekstual, kyai Ali Mustafa tidak menunjukkan sikap frontal dalam membantah dan mengomentari mereka. Sebab, dalam kacamata beliau, pendapat seperti ini adalah hal yang lumrah terjadi.

Perbedaan paham tak perlu berujung dengan permusuhan dan tindakan kekerasan. Pada tataran inilah, menurut Kiai Ali Mustafa cahaya kearifan dari setiap umat Islam untuk mengutamakan kemaslahatan bersama menjadi sangat penting. Boleh berbeda paham tapi jangan sampai bermusuhan apalagi saling mengkafirkan.

Baca Juga:  Biografi Syekh Ibnu Ajurrum Pengarang Kitab Jurrumiyah

Toleransi dan mendahulukan persatuan menjadi unsur penting bagi kyai Ali Mustafa dalam bergaul dengan orang yang beda pemahaman keislamannya. Bahkan dalam hal-hal yang bersifat diperselisihkan, Pak kyai rela mengorbankan pemahaman yang selama ini dipegang demi persatuan, selama hal yang diperselisihkan itu bukanlah sesuatu yang prinsipil.

Seperti contoh ketika beliau diminta untuk menjadi imam salat subuh bagi warga Muhammadiyah, maka beliau lebih memilih tidak berqunut untuk menjaga persatuan dan tidak menimbulkan kegaduhan. Menurutnya, qunut subuh hukumnya Sunnah menurut Mazhab Syafi’i, namun menjaga persatuan hukumnya wajib dan sudah tertulis dalam Alquran.

Kyai Ali Mustafa adalah sosok yang teguh pendirian, tidak terpengaruh oleh faktor apapun dan kukuh berpegang pada keyakinan serta keilmuannya.

Beliau hampir menerima pendidikan selama 20 tahun ditambah pengalaman menjadi anggota Komisi Fatwa MUI dan Rais Syuriah PBNU Bidang Fatwa, menjadikan dirinya berkarakter, teguh prinsip, dan kuat sandaran rujukan pemikiran keagamaannya.

Karena itu wajar jika di internal MUI, beliau memiliki julukan yang masyhur, yaitu “Rojulun ilahi Muntaha”. Sebab, jika hukum satu persoalan dimintakan pendapatnya, gugurlah pandangan yang lainnya dan perspektif hukum yang di sampaikan olehnya akan dipercaya dan menjadi pegangan. Demikianlah beberapa uraian tentang pemikiran Kyai Ali Mustafa Yaqub, sosok Ulama Nusantara di abab ke 20 ini.

Baca Juga:  Abu Aziz Samalanga, Mengenal Sosok Ulama Kharismatik Aceh

Semoga bermanfaat, Waalhu A’lam bisshowab

Biografi Prof. Dr. Ali Mustofa Yakub Meniti Dakwah di Jalan Sunnah, karya Ulin Nuha Mahfudhon

Nur Faricha