Memahami Agama Dan Budaya Masyarakat Jawa (Bagian I)

Memahami Agama Dan Budaya Masyarakat Jawa (Bagian I)

Pecihitam.org – Dalam memahami Agama dan Budaya Masyarakat Jawa sudah pasti tak akan luput dengan pemahaman tentang segi geografis tanah jawa yang melatarbelakangi perkembangan tradisi didalamnya. Dari itu rasanya perlu untuk mendeskripsikan apa yang ada di jawa terlebih dahulu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Di Jawa selain berkembang masyarakat Jawa juga berkembang masyarakat Sunda, Madura, dan masyarakat-masyarakat lainnya. Pada perkembangannya, masyarakat Jawa tidak hanya mendiami Pulau Jawa, tetapi kemudian menyebar di hampir seluruh penjuru nusantara.

Program transmigrasi yang dicanangkan pemerintah mengakibatkan banyak ditemukannya komunitas Jawa di luar pulau Jawa. Masyarakat Jawa ini memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan masyarakat-masyarakat lainnya, seperti masyarakat Sunda, masyarakat Madura, masyarakat Minang, dan lain sebagainya.

Dengan perkembangan IPTEKS (ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni) yang semakin gencar seperti sekarang ini, masyarakat Jawa tetap eksis dengan berbagai keunikannya, baik dari segi budaya, agama maupun tata krama.

Namun demikian, pengaruh IPTEKS tersebut sedikit demi sedikit mulai menggerogoti keunikan masyarakat Jawa tersebut, terutama di kalangan generasi mudanya.

Baca Juga:  Meluruskan Ustadz Badrussalam Tentang Peran Walisongo di Indonesia, Makanya Baca Sejarah!

Di kota-kota besar seperti Yogyakarta sudah banyak ditemukan masyarakat Jawa yang tidak menunjukkan jati diri ke-Jawa-annya. Mereka lebih senang berpenampilan lebih modern yang tidak terikat oleh berbagai aturan atau tradisi-tradisi yang justru menghalangi mereka untuk maju (Marzuki, 2006: 3).

Begitu juga pengaruh keyakinan agama yang mereka anut ikut mewarnai tradisi dan budaya mereka sehari-hari. Masyarakat Jawa yang menganut Islam santri, misalnya, lebih banyak terikat dengan aturan Islamnya, meskipun bertentangan dengan budaya dan tradisi Jawanya.

Hal ini karena tidak sedikit tradisi-tradisi Jawa yang bertentangan dengan keyakinan atau ajaran Islam. Sebaliknya bagi yang menganut Islam abangan tradisi Jawa tetap dijunjung tinggi, meskipun bertentangan dengan keyakinan atau ajaran Islam.

Sebagian besar masyarakat Jawa sekarang ini menganut agama Islam. Di antara mereka masih banyak yang mewarisi agama nenek moyangnya, yakni beragama Hindu atau Budha, dan sebagian lain ada yang menganut agama Nasrani, baik Kristen maupun Katolik.

Baca Juga:  Warna Warni Masyarakat Islam di Indonesia Menurut Clifford Geertz

Khusus yang menganut agama Islam, masyarakat Jawa bisa dikelompokkan menjadi dua golongan besar, golongan yang menganut Islam murni (sering disebut Islam santri) dan golongan yang menganut Islam Kejawen (sering disebut Agama Jawi atau disebut juga Islam abangan).

Masyarakat Jawa yang menganut Islam santri biasanya tinggal di daerah pesisir, seperti Surabaya, Gresik, dan lain-lain, sedang yang menganut Islam Kejawen biasanya tinggal di Yogyakarta, Surakarta, dan Bagelen (Koentjaraningrat, 1995: 211).

Ketika Islam datang di daerah Jawa bagian selatan terjadi proses dialog dengan budaya lokal Jawa sehingga melahirkan model keberagamaan yang ‘sinkretis’ dengan menampilkan Islam yang berwatak dan bergaya Jawa yang sering disebut dengan Islam Abangan. Hal ini berbeda dengan watak Islam dari komunitas Jawa Tengah bagian utara (Pantura) yang dikenal dengan Islam Santri (Geertz, 1976: 14).

Hasil dari proses dialog dan dialektika antara Islam dengan budaya lokal Jawa, melahirkan perpaduan tata nilai Islam dan budaya Jawa dengan menampilkan dua model keagamaan, yaitu:

  1. Islam Jawa yang sinkretis dengan melahirkan perpaduan antara unsur Hindu-Budha dengan Islam.
  2. Islam yang Puritan atau model keagamaan dengan mengikuti ajaran agama secara ketat.
Baca Juga:  Adzan Pitu, Tradisi Masyarakat Cirebon dalam Menangkal Wabah Penyakit

Sinkretisme Islam berkembang di Indonesia, khususnya Jawa, karena Islam yang datang di Indonesia adalah Islam yang telah banyak terpengaruh oleh unsur-unsur mistik dari Persia dan India yang mengandung unsur-unsur yang cocok dengan pandangan hidup tradisional orang Jawa pada waktu itu (Partokusumo, 1995: 265; Ridhwan, 2008: 6).

Mochamad Ari Irawan