Mengatasi Krisis Kebahagiaan dengan Berdzikir

krisis kebahagiaan

Pecihitam.org – Kebahagiaan dalam hidup merupakan dambaan setiap manusia . Merasakan ketenagan dalam jiwanya , ketentraman dalam pikir, dan ketentraman dalam hidupnya, untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki adalah cita-cita hidup.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Menurut pendapat Ibnu Khaldun, “Bahagiaan adalah tunduk dan patuh mengikuti garis-garis yang ditentukan Allah Swt dan perikemanusiaan”, dan menurut Imam Al-Ghazali, “Bahagia dan kelezatan sejati ialah bilamana dapat mengingat Allah”.

Dengan demikian kebahagiaan sejati bagi manusia bukanlah kenikmatan yang bersifat inderawi, tetapi berupa kenikmatan yang bersifat ruhaniyah dan Ilahiyah. Kenikmatan ini bisa diraih jika manusia dekat dengan Tuhannya. Pada saat manusia merasakan kenikmatan hakiki diatas segala kenikmatan inderawi yang mudah terukur, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kebahagiaan pada diri seseorang sangat erat kaitannya dengan kondisi jiwa dan pikiran orang itu. Kemajuan yang dicapai atau kemunduran yang dialami, sangat tergantung bagaimana cara berpikir dan memahami sesuatu. Orang yang berpikir aktif dan positif akan memperoleh sumber material dan mengambil manfaat dari lingkungan dan apa yang ia kerjakan.

Begitu juga sebaliknya, orang yang berpikir pasif dan negative akan memandang sesuatu dengan rasa cemas dan berpandangan singkat untuk mencari sarana yang berada diluar dirinya sebagai perlindungan.

Untuk itu perlu diberikan informasi yang bermanfaat dan membantu dalam memahami pentingnya membebaskan diri dari perilaku buruk serta mempelajari dan mempraktikkan perilaku yang baik dan dapat diterima secara sosial.

Baca Juga:  Ratib al Haddad, Amalan Dzikir dan Doa Warisan Ulama

Harapan dan keinginan manusia berbeda-beda, masing-masing tertarik kepada apa yang diminatinya. Ada yang berminat menjadi orang besar atau berpangkat dalam masyarakat, ada yang ingin menjadi artis, pengusaha, menjadi aparat dalam pemerintahan karena suatu tujuan atau yang lainnya dan sebagainya. Sehingga mereka asyik dan sibuk dengan apa yang diminatinya sampai tercapai keinginannya.

Adapula orang yang suka menuruti hawa nafsunya, sehingga sampai-sampai menghambakan dirinyasampai tercapai apa yang diinginkannya. Padahal nafsu merupakan pengeras utama terhadap jiwa dan hati. Jika kita terlalu mengikutkan kehendaknya, akhirnya kita akan binasa, karena sekali saja nafsu dapat mengalahkan kita, makaia akan terus menuntut setiap waktu sehingga kita tidak berdaya lagi.

Seseorang mungkin akan merasa senang dan bahagia apabila harapan dan keinginannya yang bersifat duniawi tercapai, namun apabila tidak didiringi dengan ketaatan terhadap Allah SWT maka yang terjadi adalah kegersangan jiwa dan kehampaan jiwa.

Apalagi bila harapan dan keinginannya tidak tercapai, muncullah perasaan marah, dendam, gaduh, gelisah dan semua rasa yang membuat diri tidak tenang. Maka timbullah pemberontakan dalam jiwa untuk melawan perasaan ketidakbahagiaan.

Baca Juga:  Kisah Rasulullah Hormati Jenazah Yahudi, Simbol Ajaran Toleransi

Keadaan jiwa yang tidak nyaman menimbulkan suatu krisis kebahagiaan dalam diri seseorang. Uang banyak, harta berlimpah, pangkat jabatan dalam masyarakat punya dan apa yang diinginkannya terpenuhi, tapi jiwanya kosong, tidak menemui kepuasan hidup, maka sia-sialah hidupnya.

Jadi krisis kebahagiaan merupakan suatu kondisi ketidaknyamanan dan ketidaktenangan jiwa seseorang yang timbul dari pikiran atau persaan ketidakpuasan terhadap keadaan yang terjadi pada dirinya.

Dalam menghadapi musibah, sesungguhnya akan terlihat dengan nyata kualitas kepribadian seseorang, dengan cara apa dan bagaimanaia dalam menghadapi hidup dan menyikapinya.

Tidak semua orang dapat menghadapi bencana dan musibah dengan, bahkan seringkali justru menimbulkan kejatuhan beruntun, terpuruk di lembah keputusasaan, kehilangan cakrawala pandangan kedepan.

Dan bekal yang paling fundamental untuk menghadapi musibah adalah iman. Dan diaktualisasikan dengan kesalehan social dan kearifan budaya sebagai manifestasi dari penglihatan yang tajam dari kebenaran spiritual.

 Firman Allah SWT dalam surat Yunus ayat 57: Yang Artinya :

“Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.

Untuk mengatasi krisis kebahagiaan, maka dianjurkan untuk berzikir kepada Allah SWT atau mengingatkan diri kepada Allah SWT sebagai Tuhan yang patut disembah dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga:  Hukum Menggelengkan Kepala Saat Dzikir Dan Pelajaran Dari Secangkir Kopi

Allah SWT berfirman dalam surat An Nisa ayat 103: Yang Artinya:

 “Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.

Dan zikir-zikir yang bermanfaat ialah disertai dengan kehadiran hati, sedangkan yang selain itu sedikit manfaatnya. Karena yang dituju adalah kesenangan dengan Allah dan hal itu terwujud dengan selalu berzikir disertai hati yang hadir (khusyuk).

Sumber :

  • Imam Al-Ghazali, Mukhtasyar Ihya’ Ulumuddin, (Jakarta: Pustaka Amani, 2007)
  • Musa Asy’ari, Dialektika Untuk Pembebasan Spiritual, (Yogyakartat: LESFI,2002)