Mengungkap Fakta Dibalik Mimpi Bertemu Rasulullah

Mengungkap Fakta Dibalik Mimpi Bertemu Rasulullah SAW

Pecihitam.org- Setiap orang pasti pernah merasakan bermimpi sesuatu dalam tidurnya, entah itu sesuai realiata atau hanya sebagai kembang tidur semata. Mimpi bertemu Rasulullah adalah sesuatu hal yang ajaib, dan tak kan pernah terlupakan. Lantas apakah hanya orang-orang tertentu saja yang bisa Mimpi Bertemu Rasulullah?  Mari kita bahas bersama-sama.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ta’thir al-Anam fi Tafsir Ahlam adalah kitab karangan  Salah seorang Ulama’ yang bernama Abdu al-Ghani bin Ismail yang lebih dikenal dengan Ibnu Nablusi. Dalam kitab itu, ia menjelaskan bahwa kedudukannya ilmu tentang tafsir mimpi merupakan disiplin ilmu yang cukup tinggi, karena mimpi para Nabi juga termasuk dari Wahyu kenabian.

Di dalam Fatawa al-Imam An-Nawawi termuat sebuah pertanyaan seputar mimpi bertemu Nabi Muhammad, apakah hanya terbatas kepada orang shaleh saja, atau untuk orang yang kurang baik akhlaknya, maupun prilakunya? Ia menjawab bahwa mimpi bertemu Rasulullah tidak terbatas kepada orang baik (shaleh) saja, namun semua kalangan bisa bermimpi bertemu Rasulullah. Mimpi ini sebagai kabar gembira terhadap seorang hamba yang dikehendaki-Nya, dan setan tak mampu menyerupai fisik atau penampilan Nabi.

Baca Juga:  Jangan Pelit Berbagi, Ini Keutamaan Sifat Dermawan yang Harus Kamu Tahu!

Jadi apabila seseorang bermimpi bertemu dengan Rasulullah, maka mimpinya itu pasti benar. Akan tetapi, Sebaiknya sebelum tidur seseorang berusaha dalam kondisi suci dari hadas dan najis, serta menghadap kiblat, kemudian membaca doa serta ditambah membaca surat al-Ikhlas, dan surat Muawwidzatain yaitu al-Falaq dan al-Nas agar terlindungi dari godaan Syaithan melalu mimpi.

orang-orang yang beruntung bisa memimpikan Rasululloh ini memiliki banyak keistimewaan, di antaranya bisa menjadi pertanda untuk menguatkan keimanan atau meningkatkan kualitas ibadahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ra’aytun Nabiyya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Mi’atu Qishshatin min Ru’an Nabiy (Aku bermimpi bertemu Rasulullah, Ratusan kisah orang-orang yang memimpikan Nabi), ini semua adalah buku karangan Abdul Aziz Ahmad bin Abdul Aziz. dalam bukunya Dia menjelaskan, ciri-ciri mimpi bertemu Rasulullah. Pertama, sosok dalam mimpi yang ditemuinya berkata, Aku adalah Rasulullah, atau Aku adalah Muhammad bin Abdullah, atau Aku adalah nabimu.

Kedua, si pemimpi melihat sosok yang diagungkan. Dia meyakini orang tersebut bukan orang sembarangan. Orang yang di lihat dalam mimpinya diyakininya sebagai Rasulullah meskipun tidak ada yang memberitahukan hal tersebut. Ketiga, pemimpi melihat sosok orang yang dihormati, Kemudian, ada orang lain yang memberitahukan, orang sosok tersebut adalah Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga:  Saat Ulama Salafi Wahabi Berdusta Atas Nama Imam Abu Hanifah

Setan dan jin mampu menyerupai makhluk apa pun di alam ini. Keduanya bisa mewujud dalam bentuk manusia atau binatang, dan banyak lagi. Namun, dia tidak bisa menyerupai Rasulullah. Nabi bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari, Barang siapa melihatku, ia telah melihat kebenaran karena setan tidak bisa menjelma dalam rupaku.

Mimpi Bertemu Rasulullah merupakan ekspresi kerinduan dan kecintaan seseorang kepada Rasulullah. Umat saat ini memang tidak dapat bertatap muka langsung dengan Rasulullah. Namun, mereka dapat melihat sang Nabi dalam mimpi yang kerap menghadirkan isyarat atau petunjuk.

Para Ulama menjelaskan bahwa cinta kepada Nabi Muhammad SAW terbagi kepada dua tingkatan:


Tingkat Pertama : Cinta yang wajib terdapat pada setiap pribadi Muslim. Ia merupakan dasar keimanan seseorang. Yaitu keridhaan menerima dengan sepenuh hati ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dengan disertai rasa cinta dan pengagungan, serta tidak mencari petunjuk di luar petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam . Kemudian menta’ati perintahnya, meninggalkan larangannya, mempercayai segala beritanya dan membela agamanya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Tingkat Kedua : Cinta yang melebihi dari tingkat sebelumnya. Yaitu cinta yang membawa kepada sikap yang menjadikan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai satu-satunya figur atau qudwah dalam segala segi kehidupan. Mulai dari menghidupkan sunnah-sunnah beliau, baik dalam bentuk kualitas maupun kuantitas. Demikian pula, dalam berakhlak dan budi pekerti terhadap keluarga, karib-kerabat, tetangga dan masyarakat. Sampai dalam hal adab-adab sehari-hari lainnya seperti dalam berpakaian, makanan-minum, buang hajat dan tidur. (Lihat “Huqûqun Nabi Bainal Ijlâl Wal Ikhlâl”, Faishal al ‘Abdâny: 67).

Baca Juga:  Misteri Ainul Hayat, Sumber Mata Air Keabadian Nabi Khidir As
Mochamad Ari Irawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *