Menjawab Dugaan Miring Tradisi Berdiri Saat Pembacaan Maulid Nabi

Berdiri Saat Pembacaan Maulid Nabi

Pecihitam.org – Akhir-akhir ini banyak bermunculan dugaan-dugaan yang tidak benar dan tidak berdasar terhadap tradisi umat Islam yang berdiri saat pembacaan maulid Nabi Muhammad SAW. Parahnya lagi, ada yang menuding bahwa kemenyan, ukup atau wewangian, dan air dingin yang ada di tengah jamaah adalah air minum yang disediakan khusus untuk Rasulullah.

Sungguh Tudingan seperti itu adalah bentuk kebohongan yang sengaja diada-adakan, itu bentuk kekurang-ajaran dan kejahatan yang dimiliki oleh orang yang benci dan menentang Rasulullah SAW.

Pada Mayoritas Umat Islam meyakini, bahwa Nabi Muhammad SAW hidup di alam barzakh yang sempurna sesuai dengan kedudukan Beliau. Ruh (bukan jasad) beliau berkeliling di alam malakut Allah SWT, dapat pula menghadiri tempat-tempat yang penuh kebaikan dan tempat-tempat lain yang memancarkan cahaya ilmu pengetahuan. Begitu juga ruh-ruh para pengikut beliau, dan orang-orang Mu’min yang setia kepadanya.

Imam Malik r.a. mengatakan: ”Saya mendengar hadits Nabi SAW yang menyatakan, ‘Ruh adalah lepas bebas dapat bepergian kemana saja menurut kehendaknya’”.

Salman Al-Farisi r.a. (sahabat Nabi Saw) berkata, “Ia mendengar dari Rasulallah Saw; ‘Bahwa arwah (ruh-ruh) kaum mu’minin berada di alam barzakh (tidak jauh) dari bumi, dan dapat bepergian menurut keinginannya’”. Demikian itulah, menurut kitab Ar-Ruh yang ditulis oleh Ibnul Qayim, hal. 144.

Kalau seorang mu’min biasa, bisa bepergian kemana saja menurut keinginannya, apalagi ruh suci junjungan kita Muhamad SAW! Ini semua, tentunya tidak lain adalah kenikmatan dan rahmat yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya yang beriman.

Memang soal alam ruh itu repot dijangkau oleh akal manusia yang terbatas ini, sebagaimana firman Allah Swt, “Mereka bertanya kepadamu (hai Muhamad) tentang ruh, jawablah: ‘Itu termasuk urusan Tuhanku’, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit“. (Al-Isra [17]: 85)

Soal berdiri saat pembacaan maulid Nabi bukan soal wajib dan bukan soal sunnah. Itu hanya suatu gerakan yang mengekspresikan kebahagiaan dan kegembiraan Umat Islam ketika peringatan maulid. Pada saat jamaah mendengar kisah Nabi SAW dibacakan, tiap pendengarnya (yang memahami maknanya) membayangkan seolah-olah pada detik-detik itu seluruh alam bergembira menyambut nikmat besar yang dikaruniakan Allah SwT.

Persoalan kegembiraan adalah persoalan biasa, ia bukan wilayah keagamaan, bukan wilayah ibadah, bukan syariat dan bukan sunnah.

Hal itu, dikatakan sendiri oleh pengarang kitab maulid terkenal yaitu Syaikh Al-Barzanji. Beliau mengatakan, “Para Imam ahli riwayat dan ahli rawiyah (ahli pikir) memandang baik orang berdiri saat pembacaan maulid Nabi SAW disebut. Bahagialah orang yang memuliakan Rasulullah dengan segenap pikiran dan perasaannya”.

Baca Juga:  Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW Telah Dilaksanakan Dari Abad ke Abad

Dalam sebuah syairnya beliau menyatakan, “Para ahli ilmu, ahlul-fadhl (orang-orang utama) dan ahli taqwa mensunnahkan berdiri di atas kaki sambil merenung sebaik-baiknya. Membayangkan pribadi Al-Mustofa (Rasul SAW), karena beliau senantiasa hadir di tempat mana pun beliau disebut, bahkan beliau mendekatinya”.

Syaikh Al-Barzanji berkata, “Soal berdiri itu hanya untuk membayangkan pribadi Al-Mustofa (Rasul SAW). Membayangkan pribadi Rasulullah adalah suatu yang terpuji, diminta dari setiap muslim, bahkan perlu sering di lakukan oleh setiap muslim yang muhlis. Sering membayangkan pribadi Rasulullah akan menambah kepatuhan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Ini hanya sebagai upaya untuk mengingat tentang kepatuhan dan kecintaan Rasulullah kepada Allah SWT, dan kecintaan Allah SWT pada Rasulallah SAW, serta mengingat pula akhlak Rabbani yang beliau hayati sepenuhnya, maka dengan ruh beliau yang mulia dan agung itu beliau bisa selalu menghadiri ditempat mana saja beliau disebut.”

Hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah r.a. yang berkata, Rasulullah Saw. bersabda; “Tiada seorang yang mengucapkan salam kepadaku, melainkan Allah mengembalikan ruhku hingga dapat menjawab salam”.

“Jangan kamu jadikan kuburan (makam) saya sebagai tempat perayaan, dan bacakan shalawat untukku, maka bacaan selawatmu itu akan sampai kepadaku dimana saja kamu berada”.

Menurut pandangan ulama, antara lain Imam Malik bin Anas r.a, firman Ilahi ini berlaku pula baik dikala beliau Saw. masih hidup mau pun beliau setelah wafat.

Ada lagi, dari golongan pengingkar yang menafsirkan hadis riwayat Abu Daud terakhir diatas–‘Jangan kamu jadikan makam saya…..’,–secara keliru. Mereka berkata, ‘Kita tidak boleh (bid’ah sesat) ke Madinah dengan niat ziarah pada Rasul Saw., cukup dengan membaca salawat dan salam untuk beliau dimana saja akan sampai’.

Sebenarnya, hadis yang dimaksud adalah, ‘janganlah kita bersusah payah harus menempuh perjalanan jauh (ke Madinah) semata-mata hanya untuk mengucapkan shalawat dan salam didepan pusara Rasulullah SAW, karena membaca shalawat dan salam akan sampai pada beliau SAW dimana pun kita berada.’

Adapun, maksud kalimat hadis “sebagai tempat perayaan” ialah, agar kita tidak bicara keras, ramai-ramai (dihadapan pusara Rasulallah Saw.) seperti halnya orang pergi berpesta, tetapi, kita harus dengan tenang memberi salam dan shalawat di depan makam beliau dan berdoa pada Allah SWT. Tidak lain semuanya ini, termasuk tata krama umat Islam terhadap Nabi SAW.

Baca Juga:  Syeikh bin Baz: Perayaan Maulid Muhammad bin Abdul Wahab Itu Sunnah

Allah SWT berfirman, ’Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi ….sampai akhir ayat’. (Al-Hujurat [49]:2/3/4).

Dengan adanya hadis-hadis di atas, para ulama menganjurkan untuk membiasakan berdiri saat pembacan maulid Nabi terutama pada bagian membaca kisah kelahiran Rasulallah SAW, memberi salam serta shalawat kepadanya.

Fatwa Ulama Tentang Berdiri Saat Pembacaan Maulid

Dalam kitab Insanul-Uyun Fi Siratil-Amin Al-Ma’mum bab 1, Imam Ali bin Burhanuddin Al-Halabi mengatakan, “Kebiasaan berdiri pada saat orang mendengar pembaca riwayat maulid menyebut detik-detik kelahiran Nabi SAW, merupakan bid‘ah hasanah/baik, bid‘ah mahmudah/terpuji, sama sekali bukan bid‘ah dhalalah atau bid‘ah madzmumah/tercela atau munkarah (bid‘ah buruk yang tercela).

Khalifah Umar Ibnul Khatab r.a. sendiri menamakan shalat tarawih berjamaah sebagai bid‘ah hasanah. Dengan demikian, orang berdiri sebagai tanda penghormatan pada saat mendengar detik-detik kelahiran Nabi SAW disebut, apalagi jika peringatan maulid itu dibarengi dengan kegiatan infak dan sedekah, semuanya itu jelas merupakan kegiatan terpuji.”

Sayid Ahmad Zaini Dahlan dalam Siratun Nabi mengatakan, “Telah berlaku kebiasaan, apabila mendengar kisah Nabi dilahirkan, mereka berdiri bersama-sama untuk menghormat dan membesarkan Beliau SAW. Berdiri adalah suatu hal yang mustahsan (baik), karena dasarnya ialah menghormati (ta’zhim) Nabi Saw. dan sesungguhnya banyak ulama panutan umat yang telah mengamalkan hal serupa itu,” (I’anah at-Thalibin, jilid 3,hal. 363).

Dalam kitab I’anah at-Thalibin jilid 3, hal.364 tertulis, “Berkata Al-Halabi dalam kitab Sirah, dikabarkan bahwa di hadapan Imam Subki pada suatu kali berkumpul banyak ulama pada zaman itu. Kemudian, salah seorang dari mereka membaca perkataan Sharshari dalam memuji Nabi SAW. Seketika Imam Subki dan sekalian ulama yang hadir berdiri serempak (menghormat Nabi).”

Para ulama berpendapat, Berdiri Saat Pembacaan Maulid Nabi adalah perbuatan yang baik, sebagai penghormatan kepada Nabi SAW. Hal ini, masih diamalkan sampai sekarang baik oleh para ulama maupun kaum muslimin lainnya di setiap negeri.

Walaupun, beliau SAW tidak berada di tengah para hadirin, orang yang membaca kisah maulid Nabi SAW membayangkan kehadiran beliau dalam imajinasinya, sebagaimana yang telah kami kemukakan.

Baca Juga:  Kekeliruan Salafi Wahabi Dibalik Slogan "Kembali Ke Qur'an dan Sunnah"

Meng-imajinasikan kehadiran beliau, jelas akan menambah penghormatan dan pemuliaan orang kepada beliau. Beliau datang di tengah alam jasmani dari alam nurani jauh sebelum waktu kelahirannya. Meng-imajinasikan kehadiran beliau berupa kehadiran nurani (ruhani) beralasan kuat, karena beliau SAW seorang Nabi dan Rasul yang menghayati sepenuhnya akhlak Robbani.

Dalam hadis Qudsi beliau Saw. bersabda:

اَنَا جَلِيْسُ مَنْ ذَكَرَنِي

“Aku duduk menyertai orang yang menyebutku”.

Menurut sumber riwayat lain:

اَنَا مَعَ مَنْ ذَكَرَنِي

“Aku bersama orang yang menyebutku”.

Mengingat kepatuhan dan kecintaan Rasulullah kepada Allah SWT. dan kecintaan Allah kepada Rasulnya serta mengingat pula akhlak Rabbani yang beliau hayati sepenuhnya, maka dengan ruh beliau yang mulia dan agung itu Rasulullah bisa selalu hadir di tempat mana saja beliau disebut.

Hadis riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dari Abdullah bin Mas’ud r.a. mengatakan, “Rasulullah SAW bersabda: ‘Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, baik dalam pandangan Allah SWT dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, buruk dalam pandangan Allah’”.

Hadis ini, memperkuat fatwa jumhurul ulama (pada umumnya ulama) yang menganjurkan kaum muslimin supaya melaksanakan peringatan maulid Nabi SAW, membaca uraian riwayat kehidupan Nabi Muhamad SAW, Berdiri Saat Pembacaan Maulid khususnya ketika pembacaan kisah kelahiran Nabi SAW disebut, ucapan sholawat dan acara-acara keagamaan yang sudah lazim berlaku. Semuanya ini disunnahkan oleh syari’at, mathlub syar’i (tuntutan syari’at).

Demikianlah, sebagian uraian para pakar Islam mengenai peringatan maulid Nabi SAW. Sekaligus mennggapi tuduhan miring terhadap tradisi Berdiri Saat Pembacaan Maulid. Hanya orang-orang yang egois, fanatik sajalah yang melarang hal-hal tersebut sampai berani mensesatkan, membid’ahkan munkar dan lain sebagainya, dengan memasukkan dalil-dalil yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah peringatan keagamaan tersebut.

Wallahu a’lam bishshawab

Source

Muhammad Ali

Santri Aswaja An Nahdliyyah at Pecihitam Store
Hanya seorang santri yang ingin mengambil peran dalam menebarkan Nilai-nilai Islam Rahmatan lil Alamin ala Aswaja Annahdliyyah
Muhammad Ali