Surah Muhammad Ayat 16-19; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Muhammad Ayat 16-19

Pecihitam.org – Kandungan Surah Muhammad Ayat 16-19 ini, menjelaskan bahwa ketika Nabi Muhammad membacakan Al-Qur’an, di antara yang mendengar terdapat orang-orang munafik, namun mereka tidak memahami bacaan beliau.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Setelah mereka pergi meninggalkan Nabi, mereka bertanya kepada sahabat-sahabat Nabi yang berilmu dan memahami semua perkataannya, “Apakah yang dikatakan Muhammad dalam pertemuan tadi?” Pertanyaan ini adalah sesuatu yang tidak ada faedahnya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Muhammad Ayat 16-19

Surah Muhammad Ayat 16
وَمِنۡهُم مَّن يَسۡتَمِعُ إِلَيۡكَ حَتَّىٰٓ إِذَا خَرَجُواْ مِنۡ عِندِكَ قَالُواْ لِلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ مَاذَا قَالَ ءَانِفًا أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَٱتَّبَعُوٓاْ أَهۡوَآءَهُمۡ

Terjemahan: Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu orang-orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka.

Tafsir Jalalain: وَمِنۡهُم (Dan di antara mereka) orang-orang kafir itu مَّن يَسۡتَمِعُ إِلَيۡكَ (ada orang yang mendengarkan perkataanmu) sewaktu kamu berkhutbah Jumat, mereka adalah orang-orang munafik حَتَّىٰٓ إِذَا خَرَجُواْ مِنۡ عِندِكَ قَالُواْ لِلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ (sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang-orang yang telah diberi ilmu pengetahuan) dari kalangan sahabat Nabi saw. antara lain adalah Ibnu Masud dan Ibnu Abbas r.a.

mereka mengatakan kepadanya dengan nada sinis dan mengejek, مَاذَا قَالَ ءَانِفًا (“Apakah yang dikatakannya tadi?”) dapat dibaca Aanifan atau Anifan, maksudnya kami kurang jelas. أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ (Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah) dengan kekafiran وَٱتَّبَعُوٓاْ أَهۡوَآءَهُمۡ (dan mengikuti hawa nafsu mereka) dalam kemunafikan.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman seraya menceritakan tentang orang-orang munafik di negeri mereka dan minimnya pemahaman mereka, dimana mereka duduk bersama Rasulullah saw. dan mendengar ucapan beliau, namun mereka tidak memahami sedikitpun apa yang beliau sampaikan. Dan jika mereka keluar dari sisi beliau,

قَالُواْ لِلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ (“Mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan.”) yakni para sahabat Nabi, مَاذَا قَالَ ءَانِفًا (“Apa yang dikatakannya tad?”) yaitu, pada waktu tersebut. Maksudnya, mereka sama sekali tidak mengerti apa yang beliau sampaikan dan tidak pula mereka berkonsentrasi mendengarnya.

Allah berfirman: أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَٱتَّبَعُوٓاْ أَهۡوَآءَهُمۡ (“Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka.”) artinya mereka sama sekali tidak mendapatkan pemahaman yang benar dan tujuan yang tidak menyimpang.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa ketika Nabi Muhammad membacakan Al-Qur’an, di antara yang mendengar terdapat orang-orang munafik, namun mereka tidak memahami bacaan beliau. Setelah mereka pergi meninggalkan Nabi, mereka bertanya kepada sahabat-sahabat Nabi yang berilmu dan memahami semua perkataannya, “Apakah yang dikatakan Muhammad dalam pertemuan tadi?” Pertanyaan ini adalah sesuatu yang tidak ada faedahnya.

Tujuan mereka melakukan yang demikian tidak lain hanyalah untuk memperolok-olok ucapan Rasulullah. Mereka seakan-akan memahami ucapan beliau, sehingga mereka bertanya dan memberikan tanggapan, dengan mengatakan bahwa yang diucapkan Rasulullah itu tidak ada artinya sedikit pun bagi mereka.

Diriwayatkan oleh Muqatil bahwa Nabi Muhammad berkhutbah dan menerangkan keburukan budi pekerti orang munafik dan di antara yang mendengar khutbah itu ada pula orang munafik. Setelah khutbah selesai, orang munafik itu keluar dan bertanya kepada ‘Abdullah bin Mas’ud dengan maksud memperolok-olok dan merendahkan Rasulullah. Di antaranya mereka mengatakan, “Apa yang dikatakan Muhammad tadi?” Ibnu ‘Abbas berkata, “Saya pun pernah ditanya dengan pertanyaan seperti itu.”

Kemudian ayat itu menerangkan apa sebab kaum munafik melakukan yang demikian. Orang-orang yang telah diterangkan sifat-sifatnya itu adalah mereka yang telah dicap dan dikunci mati hatinya, sehingga mereka tidak dapat lagi menerima petunjuk dan kebenaran yang telah disampaikan kepada mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Di antara orang-orang kafir ada golongan yang mendengar ucapanmu, wahai Muhammad, tetapi tidak mau beriman kepadamu dan tidak pula mengambil manfaat dari ucapanmu. Apabila mereka keluar dari tempatmu, mereka berkata kepada orang-orang yang diberi ilmu dengan nada mengejek, “Apa lagi yang akan diucapkan Muhammad sekarang?”

Mereka adalah orang-orang yang hatinya telah ditutup oleh Allah dengan kekafiran sehingga mereka menolak kebenaran dan mengikuti hawa nafsu mereka.

Surah Muhammad Ayat 17
وَٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡاْ زَادَهُمۡ هُدًى وَءَاتَىٰهُمۡ تَقۡوَىٰهُمۡ

Terjemahan: Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.

Tafsir Jalalain: وَٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡاْ (Dan orang-orang yang mendapat petunjuk) mereka adalah orang-orang mukmin زَادَهُمۡ (Dia menambah kepada mereka) yakni Allah swt. هُدًى وَءَاتَىٰهُمۡ تَقۡوَىٰهُمۡ (petunjuk dan memberikan kepada mereka -balasan- ketakwaannya) maksudnya, Allah memberikan ilham kepada mereka untuk mengamalkan hal-hal yang dapat memelihara diri mereka dari neraka.

Baca Juga:  Surah An Nisa Ayat 38-39; Seri Tadabbur Al Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: وَٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡاْ زَادَهُمۡ هُدًى (“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambahkan petunjuk kepada mereka.”) maksudnya orang-orang yang bertujuan mencari petunjuk, maka Allah memberikan taufiq kepada mereka sehingga mereka mendapatkan jalan kepadanya serta meneguhkannya pada petunjuk tersebut bahkan mendapatkan tambahan.

وَءَاتَىٰهُمۡ تَقۡوَىٰهُمۡ (“Dan memberikan kepada mereka [balasan] ketakwaannya.”) maksudnya, Dia mengilhamkan kepada mereka petunuk mereka.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini diterangkan keadaan orang yang berlawanan sifatnya dengan orang munafik. Mereka adalah orang yang telah mendapat petunjuk, beriman, mendengar, memperhatikan, dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Dada mereka dilapangkan Allah, hati mereka menjadi tenteram bila mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an atau bila mereka membacanya, pengetahuannya semakin bertambah tentang agama Allah.

Allah menambah petunjuk lagi bagi mereka dengan jalan ilham dan membimbing mereka untuk mengerjakan amal saleh serta memberi kesanggupan kepada mereka untuk menambah ketaatan dan ketakwaan mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang mendapat petunjuk ke jalan yang benar, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan akan memberi mereka ketakwaan yang dapat menjauhkan mereka dari api neraka.

Surah Muhammad Ayat 18
فَهَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّا ٱلسَّاعَةَ أَن تَأۡتِيَهُم بَغۡتَةً فَقَدۡ جَآءَ أَشۡرَاطُهَا فَأَنَّىٰ لَهُمۡ إِذَا جَآءَتۡهُمۡ ذِكۡرَىٰهُمۡ

Terjemahan: Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang?

Tafsir Jalalain: فَهَلۡ يَنظُرُونَ (Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu) maksudnya tiadalah yang ditunggu-tunggu, oleh orang-orang kafir Mekah إِلَّا ٱلسَّاعَةَ أَن تَأۡتِيَهُم (melainkan hari kiamat yaitu kedatangannya kepada mereka) lafal An Ta’tiyahum menjadi Badal Isytimal dari lafal As-Saa’ah; yakni, perkaranya tiada lain hanyalah menunggu kedatangan kiamat kepada mereka بَغۡتَةً (dengan tiba-tiba) atau secara sekonyong-konyong فَقَدۡ جَآءَ أَشۡرَاطُهَا (karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya) alamat-alamatnya, antara lain diutusnya Nabi saw., terbelahnya bulan dan munculnya Ad-Dukhaan.

فَأَنَّىٰ لَهُمۡ إِذَا جَآءَتۡهُمۡ (Maka apabila ia datang kepada mereka apakah faedahnya) yang dimaksud adalah kedatangan hari kiamat ذِكۡرَىٰهُمۡ (kesadaran mereka) keinsafan mereka, tidak ada manfaatnya lagi buat mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَهَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّا ٱلسَّاعَةَ أَن تَأۡتِيَهُم بَغۡتَةً (“Maka tidaklah mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat, [yaitu] kedatangannya kepada mereka secara tiba-tiba.”) pada saat itu mereka dalam keadaan lengah terhadapnya.

فَقَدۡ جَآءَ أَشۡرَاطُهَا (“Karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya.”) yakni tanda-tanda kedekatannya. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah telah berfirman: ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِى غَفۡلَةٍ مُّعۡرِضُونَ (“Telah dekat kepada manusia hari penghisaban segala amal mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling.”)(al-Anbiyaa’: 1)

Dengan demikian, diutusnya Rasulullah saw. merupakan salah satu tanda dekatnya hari kiamat, karena beliau adalah penutup para Rasul, dengan beliaulah Allah menyempurnakan agama dan menegakkan hujjah atas alam semesta.

Rasulullah saw. sendiri telah memberitahukan tanda-tanda hari kiamat, menjelaskan sekaligus menguraikannya secara gamblang yang belum pernah disampaikan oleh seorang nabipun sebelumnya, sebagaimana yang dijelaskan dalam pembahasannya masing-masing.

Al-Hasan al-Bashri mengemukakan: “Pengutusan Muhammad saw. merupakan salah satu tanda dekatnya hari kiamat, dan benar apa yang beliau katakan. Oleh karena itu sebutan Nabi saw. adalah Nabiyyut Taubah (Nabi yang menyerukan taubat), Nabi MalhamaH (Nabi yang berperang) dan al-Hasyir (yaitu yang menggiring manusia atas kedua kakinya ke alam Mahsyar), serta al-‘Aqib, yaitu seorang Nabi yang tidak ada lagi Nabi setelahnya.”

Imam al-Bukhari meriwayatkan, Ahmad bin al-Miqdam memberitahu kami, dari Fudhail bin Sulaiman, dari Abu Raja’, dari Sahl bin Sa’ad, ia bercerita: Aku pernah menyaksikan Rasulullah saw. bersabda dengan mengisyaratkan jari-jemarinya seperti ini, yaitu dengan jari tengah dan jari telunjuk [bersamaan]: “Jarak antara diutusku dengan hari kiamat seperti jarak antara dua jari ini [jari telunjuk dan jari tengah].”(HR al-Bukhari)

Firman Allah: فَأَنَّىٰ لَهُمۡ إِذَا جَآءَتۡهُمۡ ذِكۡرَىٰهُمۡ (“Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?”) maksudnya, apalah artinya peringatan bagi orang-orang kafir jika hari kiamat telah datang kepada mereka, dimana peringatan itu sama sekali tidak berarti bagi mereka. Hal itu sama dengan firman-Nya:

يَوۡمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ (“Dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.”)(al-Fajr: 23)

Tafsir Kemenag: Orang-orang yang telah dicap dan dikunci mati hatinya sehingga tidak dapat lagi menerima kebenaran dan petunjuk adalah orang yang hidupnya sudah tidak lagi berfaedah. Mereka hanya menunggu-nunggu kematian dan kedatangan hari Kiamat yang datang secara tiba-tiba.

Baca Juga:  Surah Yunus Ayat 46-47; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Apabila hari Kiamat itu telah datang, dan memang telah kelihatan tanda-tandanya, maka tidak ada lagi gunanya peringatan bagi mereka, dan Allah tidak akan menerima tobat mereka, bahkan tidak ada lagi gunanya iman dan amal bagi mereka. Allah berfirman:

Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. (al-Fajr/89: 23)

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang mendustakan itu tidak mengambil pelajaran dari keadaan umat-umat terdahulu. Bukankah mereka hanya menunggu kedatangan hari kiamat yang akan datang secara tiba-tiba? Sesungguhnya tanda-tanda hari kiamat itu telah tampak namun mereka tidak memikirkan kedatangannya. Maka, dari mana akan timbul kesadaran mereka jika hari kiamat telah datang secara tiba-tiba?

Surah Muhammad Ayat 19
فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوَىٰكُمۡ

Terjemahan: Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

Tafsir Jalalain: فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ (Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah) maksudnya, tetaplah engkau hai Muhammad pada prinsipmu yang demikian itu, karena itu bermanfaat kelak di hari kiamat وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ (dan mohonlah ampunan bagi dosamu) yakni demi dosamu.

Menurut suatu pendapat disebutkan, bahwa dikatakan demikian kepada Nabi Muhammad saw. dimaksud sebagai pelajaran buat umatnya, supaya mereka meniru jejaknya. Sedangkan bagi nabi dima’shum atau terpelihara dari perbuatan dosa. Memang Nabi saw. telah mengerjakan hal ini sebagaimana yang diungkapkan di dalam salah satu sabdanya yang mengatakan, “Sesungguhnya aku selalu memohon ampun kepada Allah sebanyak seratus kali untuk setiap harinya.”

وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ (dan bagi dosa orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan) di dalam ungkapan ayat ini terkandung penghormatan buat mereka, karena Allah swt. memerintahkan kepada nabi supaya memintakan ampun buat mereka.

وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ (Dan Allah mengetahui tempat kalian berusaha) tempat kalian bergerak di siang hari dalam rangka mencari upaya penghidupan وَمَثۡوَىٰكُمۡ (dan tempat tinggal kalian) maksudnya, tempat kalian beristirahat di tempat tidur kalian pada malam hari.

Makna yang dimaksud ialah bahwa Allah swt. mengetahui semua hal ikhwal kalian, tiada sesuatu pun yang samar bagi-Nya, maka berhati-hatilah kalian kepada-Nya. Khitab dalam ayat ini ditujukan kepada orang-orang mukmin dan lain-lainnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ (“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah [yang haq] melainkan Allah.”) ini merupakan pemberitahuan bahwasannya tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah. Dan Dia tidak meminta untuk mengetahui wujud-Nya. Oleh karena itu, Dia menghubungkan firman-Nya itu dengan firman-Nya:

وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ (“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi [dosa] orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.”)

Di dalam hadits shahih disebutkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Ya Allah, ampunilah kesalahan dan kebodohanku serta sikap berlebihanku dalam urusanku dan segala apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Allah, ampunilah candaku, seriusku, ketidaksengajaan, dan kesengajaanku, semua itu ada padaku.”

Dan dalam hadits lain disebutkan, bahwa beliau pernah memanjatkan doa pada akhir shalat yang beliau kerjakan: “Ya Allah ampunilah dosa-dosa yang telah aku kerjakan dan yang akan aku kerjakan, yang kusembunyikan dan yang aku tampakkan serta yang aku berlebihan padanya, dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Engkau Rabb-ku, tidak ada yang berhak diibadahi kecuali hanya Engkau.”

Selain itu Rasulullah saw. bersabda: “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Rabb kalian, sesungguhnya aku senantiasa memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.”

Imam Ahmad meriwayatkan, Muhammad bin Ja’far memberitahu kami, Syu’bah memberitahu kami, dari ‘Ashim al-Ahwal, ia bercerita: Aku pernah mendengar ‘Abdullah bin Sarkhas berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah saw, lalu aku makan makanan beliau bersama beliau. Kemudian kukatakan:

“Mudah-mudahan Allah memberikan ampunan kepadamu ya Rasulallah.” Maka beliau bersabda: “Juga kepadamu.” Selanjutnya aku katakan: “Bolehkah aku memohonkan ampunan untukmu?” maka beliau bersabda: “Ya boleh, dan juga untuk kalian.” Dan setelah itu beliau membacakan firman Allah:

وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ (“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi [dosa] orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.”) setelah itu aku melihat ke tulang pipih pada pundak beliau sebelah kanan atau pundak sebelah kiri –Syu’bah ragu-ragu- ternyata ia sebesar genggaman tangan yang di atasnya terdapat butiran-butiran.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim melalui beberapa jalan, dari ‘Ashim al-Ahwal.

Baca Juga:  Surah Fatir Ayat 32; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Firman Allah: وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوَىٰكُمۡ (“Dan Allah mengetahui tempatmu berusaha dan tempat tinggalmu.”) maksudnya, Dia mengetahui tindak tanduk kalian pada siang hari dan tempat menetapmu di malam hari. Pendapat seperti ini dikemukakan oleh Ibnu Juraij yang juga merupakan pilihan Ibnu Jarir.

Dan dari Ibnu ‘Abbas, yakni tempat usaha kalian di dunia dan tempat tinggal kalian di akhirat. Sedangkan as-Suddi mengemukakan: “Yaitu tempat usaha kalian di dunia dan tempat tinggal kalian di kuburan kalian.” Tetapi pendapat pertama adalah lebih tepat dan jelas. WallaHu a’lam.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad, apabila ia telah yakin dan mengetahui pahala yang akan diperoleh oleh orang-orang yang beriman, serta azab yang akan diperoleh oleh orang-orang kafir di akhirat, untuk berpegang teguh kepada agama Allah yang dapat mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Beliau juga diperintahkan untuk memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosanya dan dosa-dosa orang beriman, selalu berdoa dan berzikir kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali memberi kesempatan kepada setan untuk melaksanakan maksud buruknya kepada beliau.

Sebuah hadis sahih mengatakan, Rasulullah saw selalu berdoa:

Wahai Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, dan perbuatanku yang berlebih-lebihan, dan dosaku yang lebih Engkau ketahui daripadaku. Wahai Allah, ampunilah dosa perkataanku yang tidak serius dan perkataanku yang sungguh-sungguh, kesalahanku, kesengajaanku, dan semua yang ada padaku.” (Riwayat al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari)

Rasulullah sering berdoa pada akhir salatnya, sebelum mengucapkan salam: Ya Allah, ampunilah dosaku yang terdahulu dan yang terkemudian, yang tersembunyi dan yang tampak, serta perbuatanku yang berlebihan dan dosaku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku, Engkau Tuhanku, tak ada tuhan selain Engkau.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas)

Hai manusia, bertobatlah kamu kepada Tuhanmu maka sesungguhnya aku pun mohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari lebih dari tujuh puluh kali. (Riwayat Muslim)

Abu Bakar as-shiddiq berkata, “Hendaklah kamu membaca, “La ilaha illallah dan istigfar.” Bacalah keduanya berulang kali, maka sesungguhnya Iblis berkata, “Aku membinasakan manusia dengan perbuatan dosanya, dan mereka membinasakanku dengan membaca La ilaha illallah dan istigfar, maka ketika aku mengetahui yang demikian, mereka aku hancurkan dengan hawa nafsunya, mereka mengira mendapat petunjuk.” (Riwayat Abu Ya’la).

Dalam satu atsar diterangkan perkataan Iblis, “Demi keperkasaan dan keagungan-Mu, wahai Tuhan, aku senantiasa memperdaya mereka selama nyawa mereka dikandung badan.” Lalu Allah berfirman, “Demi keperkasaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa mengampuni dosa mereka, selama mereka tetap memohon ampunan kepada-Ku.”

Selanjutnya Allah mendorong manusia melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan agar selalu berusaha untuk mencari rezeki dan kebahagiaan hidupnya. Allah berfirman, “Dia mengetahui segala usaha, perilaku, dan tindak-tanduk mereka di siang hari, begitu pula tempat mereka berada di malam hari. Oleh karena itu, bertakwa dan meminta ampunlah kepada-Nya.” Dalam ayat lain, Allah berfirman:

Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya.) Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (Hud/11: 6)

Dan Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umurmu yang telah ditetapkan. Kemudian kepada-Nya tempat kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (al-An’am/6: 60)

Tafsir Quraish Shihab: Yakinlah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Mohonlah ampunan atas dosamu dan dosa orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tempat pergi dan tempat tinggalmu.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Muhammad Ayat 16-19 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S