Inilah Kisah Awal dari Misi Kerasulan Nabi Muhammad SAW

Inilah Kisah Awal dari Misi Kerasulan Nabi Muhammad SAW

Pecihitam.org- Seringkali Nabi melakukan uzlah di salah satu gua yang bernama Hira dengan tujuan beribadah dan menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan di gua inilah misi kerasulan nabi dimulai atau, dalam konteks tulisan ini, gerakan reformasinya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hal ini dikarenakan Beliau diangkat menjadi Rasul Allah atau dikaruniai misi kerasulan saat nabi berumur 40 tahun di goa termpat beliau biasa beruzlah, Hira.

Berdasarkan catatan sejarah (Maliki, 1977: l0; Hamka, 1975: 7143), Nabi Muhammad SAW (lahir 570 M) dibesarkan sebagai yatim piatu. Pada saat ia masih dikandung ibunya, ayahnya yang bernama Abdullah meninggal dunia.

Ketika ia berusia enam tahun, ibunya yang bernama Aminah juga meninggal, sehingga ia dipelihara oleh kakeknya yang sudah tua yaitu Abdul Muthalib.

Sesudah kakeknya meninggal, Nabi diasuh oleh Abu Thalib, salah seorang pamannya yang tergolong miskin. Waktu itu, Nabi Muhammad baru berumur delapan tahun.

Kehidupan awal Nabi Muhammad secara umum dapat dibagi kepada tiga bagian, yaitu kehidupan keseharian, perdagangan, dan keagamaan. Kehidupan keseharian Nabi pada awalnya diuntungkan dengan keberadaan kakeknya Abdul Muthalib yang merupakan tokoh kepala kaum yang disegani dalam Bani Hasyim maupun kaum Quraisy pada umumnya.

Baca Juga:  Kisah Nabi Danial yang Jarang Orang Islam Ketahui

Ia pula yang dipercaya sebagai pengelola rumah suci Ka’bah. Menurut Ibn Ishak, sebagaimana dikutip oleh Hamka (L975: lI44), Abdul Muthalib memiliki suatu hamparan tempat duduk di bawah lindungan Ka’bah, di mana Nabi sering bermain bersama paman-pamannya.

Pernah juga Nabi membantu paman-pamannya ketika terjadi peperangan Fujjar antara kaum Quraisy dan kaum Qaisy di Makhlah, suatu wilayah antara Mekkah dan Thaif.

Adapun kehidupan perdagangan Nabi dimulai saat ia diasuh oleh Abu Thalib yang sering melakukan perjalanan dagang antara lain ke Syam (Syiria). Meskipun aktivitas perdagangannya mungkin lebih dominan, pada saat yang sama Nabi juga mengembala kambing.

Kehidupan perdagangan tersebut agaknya berkembang terus dan mulai mendapat perhatian dari seorang saudagar perempuan yang kayaraya, yaitu Khadijah binti Khuwailid yang kemudian menjadi isterinya.

Baca Juga:  Meski Dosa Sebesar Gunung, Janganlah Putus Asa dari Rahmat Allah yang Melangit Luas

Secara psikologis, umur 40 tahun mungkin merupakan usia yang relatif matang dalam menapaki kehidupan lebih lanjut. Namun secara metodologis, Nabi Muhammad belum pernah diserahi tugas dan tanggung jawab seberat tugas barunya sebagai Rasul di mana ia harus menyebarluaskan wahyu yang diterimanya dari Allah.

Di samping itu, substansi ajaran yang akan disampaikannya sangat bertentangan dengan yang selama ini dianut oleh masyarakatnya. Waraqah bin Naufal, saudara sepupu Khadij ah, pernah mengingatkan bahwa Nabi akan menerima sesuatu yang besar dan karena itu akan menghadapi tantangan yang besar pula (Haekal, 1992: 34-85).

Dengan kondisi permulaan (start) seperti itu, masalah pertama yang dihadapi Nabi adalah bagaimana menyampaikan ajaran (risalah) tersebut kepada kaumnya yang terkenal fanatik itu.

Masalah itu bertambah berat ketika wahyu lanjutan yang diharapkan Nabi sebagai petunjuk pelaksanaan dari Allah juga tidak kunjung turun. Sehingga, tulis Haekal (1992.86), Nabi merasa ketakutan seperti sebelum turunnya wahyu pertama.

Baca Juga:  Kisah Juwairiyah binti al-Harits, Ummul Mukminin yang Penuh Berkah

Rangkaian dari surat 93 (Adh-Dhuha) yang kemudian turun ternyata belum menjelaskan problem metodologis yang dihadapi Nabi Muhammad. Ayat-ayat tersebut pada dasarnya memberi konfirmasi kepada Nabi bahwa Allah yang telah mengutusnya tidak akan meninggalkannya apalagi menyia-nyiakannya.

Hanya pada ayat terakhir Allah memerintahkan agar Nabi menyebarkan nikmat (kurnia) Allah yang berupa ajaran-ajaranNya. Dan dengan ayat ini, muncullah dorongan yang lebih kuat untuk memulai misi kerasulan nabi mengajak para ummatnya ke jalan yang benar, yakni jalan Allah.

Mochamad Ari Irawan