Miskin Bersabar atau Kaya Bersyukur, Mana yang lebih Utama?

miskin bersabar atau kaya bersyukur

Pecihitam.org – Saat ini banyak sekali orang yang berdo’a agar di berikan rezeki dan bisa memiliki banyak harta oleh Allah Swt. Semua orang terobsesi menjadi kaya. Bahkan mereka berpendapat bahwa orang yang sukses adalah orang yang kaya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Maka jika ada orang yang pintar sekalipun jika ia belum kaya maka orang tersebut belum bisa di katakan kaya. Orientasi kaya menurut kalangan masyarakat adalah kaya secara materi saja. Hal ini tentu saja bertolak belakang deng Rasulullah SAW, beliau selalu berdo’a kepada Allah Swt agar di hidupkan dan di wafatkan dalam keadaan yang miskin.

Dua hal yang sangat bertolak belakang tersebut menimbulkan pertanyaan sebenarnya manakah yang lebih utama, antara menjadi orang miskin bersabar atau kaya tapi bersyukur?

Do’a Rasulullah SAW agar di hidupkan dan di matikan dalam keadaan miskin telah di sebutkan dalam hadist yang di riwayatkan oleh At-Tirmidzi.

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا ، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا ، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkanlah aku pada hari kiamat bersama orang-orang miskin”. (HR. At-Tirmidzi).

Sedangkan jika dilihat dari sisi lain, hadits riwayat Imam Tirmidzi diatas juga bertentangan dengan hadits lainnya.

Baca Juga:  Kisah Hikmah Sufi, Jangan Mudah Berburuk Sangka!

كاد الفقر أن يكون كفرًا وكاد الحسد أن يغلب القدر

“Hampir saja kekemiskinan membuat orang kafir dan hampir kedengkian itu mendahului takdir Allah”.

Menurut Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad, kefakiran sebenarnyaa bukanlah sebuah hinaan, adzab ataupun sebuah laknat dari Allah Swt, melainkan suatu hiasan yang indah bagi hamba-Nya yang saleh. Bahkan apabila ia dapat menerima dengan ikhlas dan sabar kefakiran tersebut maka ia adalah termasuk orang yang beruntung.

Dalam kitabnya yaitu An-Nafais Al-Uluwiyah fi Masalis Shufiyyah, Bab Anit Tafdhil bainal Faqri wal Ghina, halaman 66 juga menjelaskan tentang fadhilah dari sebuah kefakiran sebagai berikut;

بسمالله الرحمان الرحيم الحمدلله الذي جعل الفقر زينة لعباده الصا لحين و حليية لخا صة المفلحين وذلك اذاقارنه منهم الرضا والتسليم والتسليم والشكر والصبر على ما ابتلا هم العزيز العليم

Artinya: “ Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kemiskinan sebagai hiasan bagi hamba-Nya yang beruntuk, dengan syarat bahwa ujian kefakiran dari Allah Yang Maha Mulia dan mengetahui di terimanya dengan ridha, tawakl, syukur dan sabar.”

Namun, menurut Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad, apabila ada orang yang tidak mau menerima kefakirannya, sering mengeluh dan bahkan sampai menyalahkan Allah Swt atas kefakiran dirinya, maka hal itu akan membawanya ke dalam siksa Allah Swt.

Baca Juga:  Cara Memperbaiki Kualitas Diri Menurut Para Ulama

فامااذ قارنه لجزع واضجر والاتراض على القضاء والقدر فهو من البلاءالعظيم المؤدي الى اااالعذب المقيم فالمدح الواقع على الفقر كتابا وسنة المرادبه الفقر المقرون بالصبر والرضا وحسن الدب مع الله تعلى

Artinya :” Aka tetapi jika kefakiran itu di terima dengan gelisah, sedih, dan tidak ridha terhadap qadha dan qadar Allah Swt, maka kefakirannya akan beralih menjadi anggaran yang dapat menyeretnya ke dalam siksa Allah Swt. Sementara menurut Al-Qur’an dan Sunnah, orang fakir yang terpuji dapat menerimanya dengan sabar, ridha dan adab yang baik untuk Allah Swt”. (Lihat An-Nafais Al-Uluwiyah fi Masalis Shufiyyah, Bab Anit Tafdhil bainal Faqri wal Ghina, halaman 66-67).

Jadi, pada hakekatnya menjadi orang yang miskin bukan berarti ia rendah di mata Allah Swt. Bahkan orang yang miskin bisa menjadi lebih mulia kedudukannya dari pada orang yang kaya apabila ia senantiasa menerima kefakirannya dengan kesabaran, keridhoan, tawakal dan selalu bersyukur kepada Allah Swt atas ketetapan-Nya.

Menjadi orang kaya pun tentu lebih banyak tanggungan yang ia milik, karena sebagian dari hartanya ada milik hak orang lain. Maka orang yang kaya di berikan amanah oleh Allah berupa harta dan kekayaan agar dapat selalu bersyukur dan bertakwa kepada Allah Swt dengan menyisihkan sebagian hartanya untuk saudara, kerabat atau tetangganya yang masih kekurangan.

Baca Juga:  Gus Baha: Alasan Mengapa Ulama Dahulu Wudhu Menggunakan Padasan

Maka miskin bersabar atau kaya tapi bersyukur kesimpulannya adalah, menjadi orang miskin bisa lebih utama daripada menjadi orang kaya dengan syarat kemiskinannya mampu mendorongnya lebih dekat kepada Allah dengan jalan kesabaran, keridhaan, tawakal, dan selalu bersyukur kepada-Nya.

Jika hal tersebut tidak terpenuhi, maka menjadi orang kaya akan lebih utama dengan syarat kekayaannya mampu mendorongnya lebih dekat kepada Allah SWT dengan jalan syukur dan ketakwaan kepada-Nya. Jadi intinya adalah miskin atau kaya tinggal mana yang lebih efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Demikian semoga bermanfaat. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik