Mukhalafatuhu Lilhawadits, Sifat Wajib Ke-empat Bagi Allah SWT

Mukhalafatuhu Lilhawadits, Sifat Wajib Ke-empat Bagi Allah SWT

Pecihitam.org – Sifat Ke-Empat Yang Wajib Bagi Allah Swt adalah Mukhalafatuhu Lilhawadits ( مُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِث ), adapun sifat Mustahil Allah Bersifat Mumaatsalatuhu Lilhawadits ( مُمَاثَلَتُهُ لِلْحَوَادِث )

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Arti dari “mukhalafatuhu lilhawadits” adalah berbeda bagi segala yang baharu, lawan daripada sifat ini yaitu “mumatsalatuhu lilhawadits” yang berarti serupa bagi segala yang baharu.

Allah Ta’ala wajib berbeda dengan segala yang baharu, baik pada zat-Nya, sifat-Nya maupun perbuatan-Nya. Dia tidak serupa dengan makhluk dan apapun yang ada pada makhluk.

Oleh karena itu Allah Ta’ala tidaklah Ia bertubuh, bukanlah Allah itu sebuah sifat yang butuh kepada suatu zat untuk bertumpu, juga tidaklah Allah Ta’ala itu berada di atas tiap sesuatu yang baharu, tidak di bawah, di belakang, di kanan, di kiri dan di hadapannya.

Juga tidak ada arah bagi wujud zat-Nya, seperti arah hadapan, belakang, kanan, kiri, atas dan bawah. Tidak bergerak-gerak Ia dan juga tidak Diam, zat-Nya tidak memiliki juzuk atau bagian-bagian tertentu seperti tangan, mata, telinga dan lainnya daripada bagian-bagian tubuh yang terdapat pada setiap makhluk atau hawadits (sesuatu yang baharu).

Baca Juga:  Pentingnya Guru dan Sanad Yang Jelas Dalam Ilmu Agama

Berkata Syeikh H. Nek Abdullah Al-Jambawi di dalam kitabnya yang bernama “Pati Faridatul-Faraid” :

Lalu bagaimanakah kiranya jika terdapat ayat-ayat atau suatu hadits yang mutasyabihat (samar-samar), yang seolah olah seperti menyerupakan Allah dengan sesuatu yang ada bagi yang baharu misalkan seperti “tangan Allah berada di atas tangan-tangan mereka” dan “Tuhan Yang Maha Rahman di atas arasy tertinggi” dan lain sebagainya?

Maka Ulama-ulama Salaf berkomentar : Kami tidak tahu bagaimana maksud yang sebenarnya dari ayat tersebut,  maksud dari ayat yang semacam ini semuanya terserah kepada Allah Ta’ala. Sedangkan Ulama Khalaf menta’wil (memalingkan) makna dari lafadh samar-samar tersebut kepada makna yang munasabah atau yang layak baginya. (Pati Faridatul-Faraid)

Sifat Keilmuan Allah Ta’ala juga berbeda dengan keilmuan hawadits. Ilmu Allah Ta’ala tidak di upayakan atau di hasilkan dengan menilik atau mencari dalil-dalil. Tiada kelupaan, kelalain dan ketidak tahuan yang tiba-tiba datang pada ilmu-Nya, tidak seperti halnya ilmu atau pengetahuan yang ada pada kita manusia, kita bisa lalai, lupa dan jahil akan sesuatu perkara bahkan lebih.

Sifat Qudrah atau Kekuasaan Allah Ta’ala tiada berhajat kepada alat-alat tertentu, kepada pertolongan dari apapun dan siapapun.

Baca Juga:  Qiyamuhu Binafsih, Sifat Wajib Ke-Lima Bagi Allah SWT

Sifat Iradah atau kehendak-Nya tidak di karenakan dengan suatu tujuan dari berbagai tujuan pun. Maha Hidup Allah Ta’ala dengan tanpa ruh, berbeda dengan kehidupan kita yang membutuhkan ruh. Maha mendengar, Maha melihat dan Maha berkata-kata Allah Ta’ala dengan tanpa memerlukan anggota-anggota tertentu untuk setiap sifat tersebut.

Dan lagi Kalam Allah Ta’ala tidaklah dengan bersuara dan tidak berhuruf yang muncul daripada suara. Tiada diam yang muncul tiba-tiba pada-Nya, dan  Af’al atau perbuatan Allah Ta’ala tidaklah dengan anggota-anggota tertentu, juga tidak ada campur tangan sesuatu yang lain pada setiap perbuatan-Nya.

Semua yang baru saja di sebutkan diatas itu mustahil adanya pada zat-Allah Ta’ala, Maha Suci lagi Maha Tinggi Allah daripada Menyerupai  Makhluk-Nya dalam hal apapun.

Dalil ‘aqli (secara akal)

Cukuplah dengan wajibnya sifat Qidam bagi Allah Ta’ala itu menjadi dalil atau petunjuk bagi akal bahwa mustahil Allah Ta’ala serupa dengan segala yang baharu.

Dalam artian, jika Allah tidak berbeda dengan sesuatu yang baharu maka berarti Dia serupa dengannya, dan bila Allah Ta’ala serupa dengan yang baharu berarti Allah Ta’ala juga merupakan sesuatu yang baharu, dan ini -baharunya Allah-  tidak dapat di terima oleh akal karena akal sudah menetapkan Wajibnya sifat Qidam pada zat Allah Ta’ala berdasarkan dalil-dalil yang pernah kami bahas dalam artikel yang berkaitan dengan sifat qidam tersebut.

Baca Juga:  Mengucap Kalimat Tauhid Saja Tidaklah Cukup, 5 Hal Ini Juga Harus Dipenuhi

Dalil Naqli (Tertulis)

Berfirman Allah SWT dalam surat Asy-Syuura ayat 11 :

 لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”

Saya cukupkan disini saja pembahasan tentang sifat ke-empat yang wajib bagi Allah Ta’ala, yaitu Mukhalafatuhu Lilhawadits. Pada artikel berikutnya InsyaAllah akan kita lanjutkan pada sifat ke-lima yang wajb bagi Allah SWT dan juga lawannya yang mustahil beserta dalil-dalilnya baik secara akal maupun secara tertulis (Nash).

Wallahu A’lam Bisshawaab !

Muhammad Haekal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *