Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah; Salah Satu Tempat Nyantrinya Mbah Hasyim Asy’ari

Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah; Salah Satu Tempat Nyantrinya Mbah Hasyim Asy'ari

PeciHitam.org – Penyebaran pesantren di Indonesia saat ini tergolong luar biasa, sebab tercatat telah mencapai hingga puluhan ribu pesantren jumlahnya. Salah satu pesantren yang memiliki andil besar dalam melahirkan tokoh-tokoh utama Nahdlatul Ulama, yaitu Pondok Pesantren al-Hamdaniyah Sidoarjo.

Keterangan foto: M Hasyim Fahrurozi menunjukkan lokasi kamar Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari di Pesantren al-Hamdaniyah.

Pesantren tersebut menjadi saksi sejarah di mana para ulama-ulama besar di Indonesia dilahirkan. Pesantren ini sudah ratusan tahun lalu didirikan dan tetap eksis hingga saat ini. Sejak abad ke-18, atau tepatnya pada tahun 1787 Masehi, pesantren ini didirikan oleh KH Hamdani. Beliau masih keturunan Rasulullah dari silsilah ke-27.

Nama pesantren al-Hamdaniyah ini dinisbatkan kepada tokoh pendirinya tersebut. Sebelum menjadi sebuah pondok, area tersebut merupakan daerah rawa. Terletak di Desa Siwalan Panji Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur.

Jika kita cermati, pesantren ini juga termasuk pesantren tertua di Jawa Timur. Bahkan di Indonesia pun termasuk salah satu pesantren tertua. Jika dihitung, usia pesantren ini hingga sekarang sudah mencapai usia 233 tahun.

Konon dalam pembangunan awal pesantren tersebut, KH. Hamdani mendatangkan kayu-kayu dari daerah Cepu Jawa Tengah. Kayu-kayu tersebut dinaikkan ke dalam kapal. Namun ditengah jalan kayu-kayu tersebut pecah berserakan. Akhirnya kayu-kayu tersebut dihanyutkan ke sungai hingga sampailah di depan area yang akan dibangun pondok tersebut.

Baca Juga:  Perbedaan Pesantren Salaf dan Salafi Wahabi, Hati-hati Jangan Salah Pilih!

Para alumninya tersebar di seluruh Indonesia, bahkan beberapa di antaranya merupakan tokoh penting dalam membidani lahirnya organisasi Islam terbesar di dunia, yaitu Nahdlatul ulama.

Tercatat antara lain, seperti KH M Hasyim Asy’ari, KH As’ad Samsul Arifin, KH Ridwan Abdullah (pencipta lambang NU), KH Alwi Abdul Aziz, KH Wahid Hasyim, KH. Cholil, KH. Nasir (Bangkalan) KH.Wahab Hasbullah, KH. Umar (Jember), KH. Usman Al Ishaqi, KH. Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), KH. Dimyati (Banten), dan lain-lain.

KH Hasyim Asy’ari sendiri pernah nyantri di Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah ini selama kurang lebih 5 tahun. Sekarang, kamar beliaupun diabadikan dan sengaja tidak pernah dipugar agar tetap dapat mengenang kesederhanaan beliau.

Bahkan beberapa bangunan di Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah ini masih mempertahankan bentuk awalnya hingga sekarang. Di antaranya masih berdindingkan anyaman bambu yang diberi jendela setiap kamarnya. Bentuknya sekarang seperti rumah Joglo yang ditopang oleh kaki-kaki beton.

Pada tiap asramanya, terdapat beberapa kamar yang berukuran 2×3 meter. Kamar ini digunakan oleh dua hingga tiga orang santri. Suasana kekeluargaan dan keakraban antar santri begitu terlihat. Hal ini mungkin disebabkan karena mereka berinteraksi dalam suatu ruangan yang tergolong sempit, baik itu belajar, lalaran, maupun beristirahat.

Baca Juga:  Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan; Salah Satu Pesantren Tertua di Jawa Timur

Pesantren ini juga tercatat pernah menjadi tempat pertemuan antara presiden Soekarno, Bung Hatta, Bung Tomo, KH. Wahab Hasbullah, KH. Wahid Hasyim, KH. Idham Cholid, Hamka, dll. Berawal dari pertemuannya tersebut akhirnya melahirkan sebuah Gerakan yang disebut Laskar Hizbullah. Begitu lekatnya pesantren ini dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Dengan begitu besar dan krusialnya peran Pondok Pesantren al-Hamdaniyah dalam proses kemerdekaan Indonesia, namun belum mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

Tidak hanya itu, melihat sejarah pesantren yang sudah didirikan selama 233 tahun lalu, seharusnya mampu menjadi pertimbangan lebih agar keunikan, kesejarahan dan warisan budaya yang melekat di di pesantren ini tidak tergerus oleh zaman.

Adapun urutan kepemimpinan Pondok adalah sebagai berikut:

  1. Periode II: KH. Ya’qub dan KH. Abd Rohim (Putra dari KH Hamdani)
  2. Periode III: KH. Hasyim Abd Rohim dan KH. Khozin Fahruddin,
  3. Periode IV: Kiai Faqih Hasyim, KH. Sholeh Hasyim, dan KH. Basuni Khozin.
  4. Periode V: KH. Abdulloh Siddiq dan KH. Haiyi Asmu’i.
  5. Periode VI: KH. Rifa’i Jufri, KH. Abd Haq, dan KH. Asmu’i.
  6. Periode VII: Hingga Tahun 2013 KH. Asy’ari Asmu’i, KH. Mastur Shomad, KH. Abd Rohim Rifa’i, dan Agus Taufiqurrochman R.
Baca Juga:  Tujuh Belas Nominasi Pesantren Tertua di Indonesia dan Masih Eksis Hingga Saat Ini

Itulah sedikit ulasan mengenai sebuah pesantren yang pernah digunakan oleh tokoh-tokoh besar Indonesia dalam mencari ilmu Agama. Tentu saja kisah akan pesantren ini perlu dilestarikan agar masyarakat lebih paham dengan sejarahnya sendiri.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG