Qiyamuhu Binafsih, Sifat Wajib Ke-Lima Bagi Allah SWT

Qiyamuhu Binafsih, Sifat Wajib Ke-Lima Bagi Allah SWT

Pecihitam.org – Sifat Ke-Lima Yang Wajib Bagi Allah Ta’ala dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah adalah Qiyamuhu Binafsih (قِيَامُهُ بِنَفْسِه) sementara sifat Mustahil Allah Ta’ala yaitu Bersifat Ihtiyaju Lighairih (اِحْتِيَاجُ لِغَيْرِه)

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

قِيَامُهُ بِنَفْسِه  Artinya: Berdiri Sendiri-Nya, sifat yang menjadi lawan darinya adalah اِحْتِيَاجُ لِغَيْرِه  yang berarti: butuh kepada lainnya.

Allah Ta’ala wajib bersifat berdiri sendiri, dalam artian Allah Ta’ala tidak butuh kepada zat untuk menyatakan atau menyandarkan keberadaan-Nya, seperti halnya warna yang menumpang wujudnya pada kertas, panjang dan pendek yang menumpang wujudnya pada kayu dan banyak contoh lainnya.

Dan juga Allah Ta’ala tidak membutuhkan Mukhasshis (pencipta) untuk mengadakan/menciptakan Wujud-Nya. Maha Kaya Allah dari membutuhkan kepada sesuatu pun. Bahkan segala sesuatu adalah merupakan ciptaan-Nya dan segala sesuatu sangatlah berhajat kepada Allah Ta’ala.

Demikian pula halnya dengan segala kemanfaatan, Allah Ta’ala tidak mengambil manfaat lagi tidak butuh kepada tujuan apapun dari setiap perbuatan dan hukum-Nya, hanya saja segala perbuatan dan hukum yang Allah Ta’ala tetapkan itu memiliki hikmah tersendiri bagi setiap makhluk-Nya, sebagai bentuk karunia dan kebaikan dari Allah Ta’ala, bukan untuk-Nya.

Baca Juga:  Sudah Banyak Hadits Tawasul Didhaifkan Wahabi, Hanya Ini Yang Belum

Maka Allah tidak butuh kepada keta’atan makhluk-Nya dan segala kemaksiaatan yang di lakukan oleh makhluk Allah sungguh tiada dapat membahayakan-Nya sedikitpun.

Marilah kita simak dalil-dalil yang menjadi alasan mengapa Allah Ta’ala wajib bersifat dengan Qiyamuhu Binafsih, baik dalil secara akal (‘aqli) maupun secara tertulis (naqli).

Dalil ‘aqlinya adalah sebagai berikut:

Jika di katakan Allah Ta’ala butuh kepada zat, itu berarti Allah adalah merupakan sebuah sifat, yang mana sebuah sifat sangatlah butuh kepada lainnya yaitu kepada zat untuk menopang atau menyatakan keberadaannya,

Taruhlah contoh seperti yang baru saja saya sebutkan di atas, yakni warna yang ada pada secarik kertas. Warna putih adalah sifat yang perlu kepada zat yakni kertas untuk menyatakan keberadaannya tersebut. Jika tidak ada kertas maka wujud dari warna putih itu tidak akan pernah nyata atau diketahui sama sekali.

Oleh karena itu tidaklah mungkin atau Mustahil Allah itu merupakan sebuah sifat, karena sebagaimana yang telah di tetapkan oleh akal kita bersama yang bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat-sifat tertentu, maka bagaimana mungkin suatu sifat memiliki sifat-sifat yang lain?, dengan demikian nyatalah kini yang bahwa Allah Ta’ala bukanlah Dia itu Suatu sifat. Maka batallah pernyataan yang menyatakan bahwa Allah Ta’ala butuh/bergantung kepada selain-Nya.

Baca Juga:  Ilmu Tauhid Dasar Ahlussunnah wal Jama'ah; Baqa, Sifat Wajib Ketiga Bagi Allah SWT

Sedangkan apabila di katakan Allah butuh kepada Mukhasshis/pencipta untuk mengadakan atau menciptakan-Nya, berarti Allah Ta’ala baharu, awal mula tiada Ia, kemudian barulah di adakan oleh sesuatu yang lain, dengan kata lain tidak Qadim (dahulu) Ia. Lalu bagaimana halnya dengan ketetapan sifat Qidam yang telah ditetapkan oleh akal wajib ada pada zat Allah Ta’ala berdasarkan dalil secara akal yang sudah pernah kita bahas dalam artikel yang lain ?

Maka pernyataan ini pun bathil dengan sendirinya. Akal tidak dapat menerima adanya sifat “butuh kepada yang lain” pada Allah Ta’ala.

Adapun Dalil naqli, yaitu terdapat dalam Surat Al- Ankabuut ayat 6 :

إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”

Dan juga terdapat dalam surat Faathir ayat 15 :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Baca Juga:  Argumen Ontologis Ibn Sina Tentang Keberadaan Tuhan

“Wahai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji”

Demikian pula dalam surat Al-Israa’ ayat 7 :

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ

“Jika kamu berbuat baik (berartii) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri”

Demikianlah sedikit kupasan yang sangat ringkas berkaitan dengan sifat ke-lima yang wajib yait Qiyamuhu Binafsih dan lawannya yang mustahil bagi Allah Ta’ala adalah Ihtiyaju Lighairih. Insya Allah pada artikel berikutnya akan saya lanjutkan dengan sifat ke-enam, baik yang wajib maupun yang mustahil bagi Allah, beserta dalil-dalinya.

Wallahu Yahdii man Yasyaa-u ila shirathil mustaqim ! wallahu A’lam Bisshawaab !

Muhammad Haekal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *