Okasionalisme: Teori Atom al Asy’ari (Ketergantungan Alam Pada Tuhan)

teori okasionalisme

Pecihitam.org – Dalam diskursus teologi keislaman klasik, para teolog atau ahli kalam (mutakalimun) berusaha menjelaskan tentang status korelasi alam semesta dengan kemahakuasaan Allah Swt. Seorang teolog Mu’tazilah yang bernama Al Juba’i memiliki pemikiran bahwa alam semesta ini oleh Allah Swt diciptakan sekali jadi pada masa awal penciptaannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Menurutnya, setelah alam semesta ini telah tercipta, maka kemudian yang berlaku adalah sunnatullah sepenuhnya. Alam semesta ini, menurutnya, bekerja dengan hukum-hukum sebab akibat yang tetap tanpa adanya intervensi dari Allah Swt. Dengan demikian, dalam teologi Mu’tazilah, alam semesta ini dipahami memiliki hukum yang independen dari intervensi Tuhan.

Nah, dalam konteks pemahaman teologi yang demikian itulah teori okasionalisme muncul. Teori ini dimunculkan oleh seorang teolog yang bernama Abu Hasan Al Asy’ari yang kemudian sering dikenal sebagai seorang pendiri aliran Asy’ariyah atau Ahlussunah Waljama’ah (Sunni).

Imam Al Asy’ari sebelumnya belajar kepada teolog-teolog Mu’tazilah, termasuk kepada Al Juba’i yang telah disebutkan di awal. Al Asy’ari memunculkan teori okasionalisme –yang juga berkaitan dengan doktrin Sunni secara umum- lahir dari kegelisahannya terhadap teologi Mu’tazilah yang menurutnya kurang tepat.

Baca Juga:  Kalam Hikmah Imam Ghazali: Aku Tidaklah Lebih Baik Dari Orang Lain

Teori okasionalisme yang dikembangkan oleh Al Asy’ari tersebut kemudian didukung dan dikembangkan oleh para penerusnya. Diantara beberapa penerusnya yang paling memiliki penjelasan yang paling sistematis adalah Al Baqillani dan teolog besar Sunni yang bernama Imam Al Ghazali. Selain itu, dari kalangan sufi yang turut mengembangkan teori okasionalisme ini adalah Maulana Jalaluddin Rumi, seorang sufi yang banyak terpengaruh dengan Al Asy’ari dan Imam Al Ghazali.

Prof. Mulyadhi Kartanegara dalam bukunya Lentera Kehidupan: Panduan Memahami Tuhan, Alam, dan Manusia (2017) menjelaskan bahwa teori okasionalisme Al Asy’ari ini lahir untuk memberikan kritik kepada teologi Mu’tazilah yang memposisikan alam semesta raya ini hukum-hukum yang melingkupinya mandiri dari intervensi Allah Swt.

Pandangan teolog Mu’tazilah (populer disebut sebagai kaum rasionalis Islam) memposisikan Tuhan hanya ketika fase penciptaannya semata, setelah itu alam semesta menurut mereka bekerja melalui hukum alam atau sunatullah.

Pengesampingan peran dan kekuasaan Tuhan dalam mekanisme alam semesta ala Mu’tazilah ini yang membuat Al Asy’ari gelisah. Bahkan menurut teologi Mu’tazilah, stastus independensi alam semesta ini sama sekali tidak bisa diintervensi apapun, termasuk Tuhan. Apapun yang terjadi di alam semesta ini bagi kaum Mu’tazilah murni bagian dari sunnatullah tanpa turut campurnya Tuhan.

Baca Juga:  Tasawuf serta Hubungannya dengan Disiplin Ilmu Filsafat dan Psikologi

Berlatar kegelisahan atas teologi Mu’tazilah yang demikian itu, Al Asy’ari memberikan alternatif gagasan yang memberikan kesegaran secara teoritis. Melalui teori okasionalisme, Al Asy’ari mampu menjelaskan mekanisme hukum alam semesta secara logis dan filosofis, namun tanpa mengesampingkan kemutlakan dan kekuasaan Allah Swt.

Prof Mulyadhi menjelaskan bahwa teori okasionalisme atau yang sering disebut juga sebagai teori Atom Al Asy’ari ini menjelaskan bahwa alam semesta ini terdiri dari zat yang sangat kecil, bahkan tidak dapat dibagi lagi yang disebut sebagai atom. Namun, menurut teori ini, atom-atom ini tidak mampu bertahan kecuali satu dua saat.

Atom-atom penyusun alam seseta yang hanya bertahan dalam jangka waktu yang pendek tersebut membutuhkan pembaharuan-pembaharuan secara terus-menerus. Nah, dalam proses pembaharuan atom yang terus menerus itulah merupakan intervensi dari Allah Swt.

Baca Juga:  Inilah Nama Malaikat Pencabut Nyawa, Kata-Kata dan Tanda Kehadirannya

Alam semesta agar supaya hukum-hukumnya dapat bekerja, harus terus membutuhkan pembaharuan-pembaharuan atom yang dalam hal ini dicipta oleh Allah Swt. Dengan demikian, berarti hukum sunnatullah sebagaimana yang dipahami oleh teolog Mu’tazilah, sebenarnya masih memerlukan intervensi Allah Swt agar tetap dapat bekerja.

Nah, dalam hal ini Al Asy’ariah melelui teori okasionalisme ini memebrikan sumbangsih teologi bahwa Allah Swt memiliki peran yang besar dalam proses bekerjanya alam semesta. Teori yang demikian ini mengatasi dari kekurangan teologi Mu’tazilah yang mengesampingkan peran Allah Swt dalam proses bekerjanya alam semesta. Tentu saja, pembaharuan ini penting secara tauhid perihal betapa mahakuasanya Allah Swt. Wallahua’lam.