Riya’ Adalah Bagian Dari Syirik, Benarkah ?!

Riya’ Adalah Bagian Dari Syirik, Benarkah ?!

PeciHitam.org – Riya’ adalah melakukan suatu perbuatan atau amalan agar orang lain dapat melihatnya kemudian memujinya dan riya’ merupakan perbuatan dosa yang merupakan sifat orang yang munafik. Adapun termasuk dalam riya’ yaitu sum’ah yaitu melakukan suatu perbuatan atau amalan agar orang lain mendengar apa yang dilakukan yang mana menginginkan pujian terhadapnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Adapun riya’ dibagi dua jenis yaitu pertama yang hukumnya syirik akbar yang mana terjadi jika sesorang melakukan seluruh perbuatan agar dilihat manusia dan tidak sedikitpun karena Allah SWT yang mana inilah riya’ yang dimiliki oleh orang munafik.

Yang kedua yaitu riya’ yang terkadang menjangkiti orang yang beriman dan sikap riya’ ini kadang muncul dalam sebagian amal jadi seseorang beramal karena Allah SWT serta juga diniatkan untuk selain-Nya dan riya’ seperti ini merupakan perbuatan syirik asghar. (Lihat: I’aanatul Mustafiid bi Syarhi Kitaabi at Tauhiid, Syaikh Shalih Fauzan)

Jadi hukum asal dari Riya’ adalah syirik asghar namun bisa berubah hukumnya menjadi syirik akbar dalam tiga keadaan berikut ini: (Lihat: Al Mufiid fii Muhimmaati at Tauhid, Dr. ‘Abdul Qodir as Shufi, 1428/2007)

  • Ketika seseorang riya’ kepada manusia dalam hal keimanan misalnya seseorang menampakkan diri secara jelas bahwa dia seorang mukmin demi menjaga harta dan darahnya.
  • Ketika riya’ dan sum’ah mendominasi dalam segala amalan seseorang.
  • Ketika seseorang dalam beramal lebih dominan menginginkan tujuan dunia dan tidak mengharapkan Allah SWT.
Baca Juga:  5 Adab Tidur Menurut Imam Ghazali Yang Bisa Kamu Tiru

Status suatu amalan ibadah yang tercampur deengan riya’ dapat dirinci pada beberapa keadaan yaitu ketika seseorang beribadah dengan maksud pamer di hadapan manusia maka ibadah tersebut batal dan tidak sah dan adapun riya’ atau sum’ah muncul ketika sedang beribadah maka ada dua keadaan.

Pertama jika amalan ibadah tersebut berhubungan antara awal dan akhirnya semisal shalat maka riya’ akan membatalkannya jika tidak berusaha dihilangkan dan dibiarkan melekat.

Yang kedua yaitu amalan yang tidak berhubungan antara bagian awal dan akhir semisal shadaqoh yaitu apabila setetengahnya tercampuri riya’ maka yang tercampuri riya’ tersebut batal sedangkan sisanya tidak. (Lihat: Al Mufiid fii Muhimmaati at Tauhid, Dr. ‘Abdul Qodir as Shufi, 1428/2007)

Riya’ dapat menjangkiti siapapun bahkan orang yang alim shaleh sekalipun termasuk para sahabat Rasulullah SAW, Beliau bersabda yang artinya:

“Sesuatu yang aku khawatirkan menimpa kalian adalah perbuatan syirik asghar, ketika Beliau ditanya tentang maksudnya, Beliau menjawab, ‘contohnya ialah riya’.” (HR. Ahmad dan Thabrani)

Dalam hadist tersebut terdapat pelajaran tentang kekhawatiran pada syirik yang man Rasulullah SAW khawatir kesyirikan menimpa sahabat muhajirin dan anshor sementara mereka ialah sebaik-baik umat. (Lihat: I’aanatul Mustafiid bi Syarhi Kitaabi at Tauhiid, Syaikh Shalih Fauzan)

Baca Juga:  Cara Mengajarkan Anak Membaca AlQuran Menurut Quraish Shihab

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatau yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Dajjal?’ para sahabat berkata, ‘Tentu saja’, Beliau bersabda, ‘syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika seseorang berdiri mengerjakan shalat dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya.” (HR. Ahmad)

Berdasarkan hadits tersebut dijelaskan bahwa riya’ termasuk syirik khafi yang samar dan tersembunyi karena riya’ berhubungan dengan niat dan termasuk amalan yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Kekhawatiran Rasulullah SAW tehadap riya’ lebih besar daripada kekhawatiran terhadap ancaman fitnah Dajjal karena hanya sedikit yang dapat selamat dari bahaya riya’.

Fitnah Dajjal begitu berbahaya tapi hanya menimpa pada orang yang hidup pada zaman tertentu sedangkan bahaya riya’ dapat menimpa seluruh manusia di setiap saat dan setiap zaman. (Lihat: I’aanatul Mustafiid bi Syarhi Kitaabi at Tauhiid, Syaikh Shalih Fauzan)

Imam Nawawi menjelaskan suatu bab dalam Riyadus Shalihin tentang perkara yang dianggap sebagai riya’ namun bukan termasuk riya’ dimana beliau membawakan hadits dari Abu Dzar ra, yang mana Rasulullah SAW pernah ditanya yang artinya:

Baca Juga:  Status Ibadah Orang Awam dalam Hukum Fiqih

“Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian dia mendapat pujian dari manusia? Beliau menjawab: Itu adalah kebaikan yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (HR. Muslim: 2642)

Berikut beberapa amalan yang bukan termasuk riya’ namun tekadang karena salah paham kemudian dianggap riya’:

  • Rajin ibadah atau beramal ketika bersama dengan orang shalih, yaitu hal tersebut kadang menimpa ketika seseorang berkumpul dengan orang shaleh sehingga lebih semangat dalam beribadah.
  • Menyembunyikan dosa, yang mana kewajiban bagi setiap muslim apabila berbuat dosa ialah menyembunyikan dan tidak mengumbar tentang dosa tersebut.
  • Memakai pakaian yang bagus, yaitu hal ini tidak termasuk riya’ karena keindahan merupakan hal yang disukai oleh Allah SWT.
  • Menampakkan syiar Islam, yaitu ketika sebagian syariat Islam tidak mungkin dilakukan secara sembunyi-sembunyi misalnya shalat jamaah, shalat jumat, haji, umroh dan yang lainnya yang mana tidak mungkin dilakukan secara sembunyi.

Demikianlah jadi riya’ adalah merupakan hal yang berbahaya dan wajib dihindari namun jangan salah pula dalam menilai suatu hal itu masuk kategori riya ataupun bukan.

Mochamad Ari Irawan

Leave a Reply

Your email address will not be published.