Surah Al-Mulk Ayat 20-27; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mulk Ayat 20-27

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mulk Ayat 20-27 ini, Allah memberikan perbandingan kepada manusia antara perjalanan hidup yang ditempuh oleh orang-orang kafir dengan yang ditempuh oleh orang-orang yang beriman. Dinyatakan bahwa perjalanan hidup orang-orang kafir itu adalah perjalanan hidup menuju kesengsaraan dan penderitaan yang sangat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mulk Ayat 20-27

Surah Al-Mulk Ayat 20
أَمَّنۡ هَٰذَا ٱلَّذِى هُوَ جُندٌ لَّكُمۡ يَنصُرُكُم مِّن دُونِ ٱلرَّحۡمَٰنِ إِنِ ٱلۡكَٰفِرُونَ إِلَّا فِى غُرُورٍ

Terjemahan: “Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu.

Tafsir Jalalain: أَمَّنۡ (Atau siapakah) berkedudukan menjadi mubtada هَٰذَا (dia) menjadi khabar dari mubtada ٱلَّذِى (yang) menjadi badal dari lafal haadza هُوَ جُندٌ (menjadi tentara) yakni penolong-penolong لَّكُمۡ (kalian) berkedudukan menjadi shilah dari lafal alladzii يَنصُرُكُم (yang akan menolong kalian) menjadi sifat dari lafal jundun مِّن دُونِ ٱلرَّحۡمَٰنِ (selain daripada Allah Yang Maha Penyayang) yang dapat menolak datangnya azab bagi kalian; yakni tiada seseorang pun yang dapat menolong kalian إِنِ (tidak lain) tiadalah ٱلۡكَٰفِرُونَ إِلَّا فِى غُرُورٍ (orang-orang kafir itu hanyalah dalam keadaan tertipu) mereka tertipu oleh setan, bahwasanya azab tidak akan turun atas mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang musyrik yang menyembah sembahan lain bersama-Nya, dengan tujuan mencari pertolongan dan rizky dari sembahan-sembahan mereka itu, seraya mengingkari apa yang mereka yakini sekaligus memberitahu mereka bahwa apa yang mereka angankan itu tidak akan tercapai. Oleh karena itu Allah berfirman:َ

مَّنۡ هَٰذَا ٱلَّذِى هُوَ جُندٌ لَّكُمۡ يَنصُرُكُم مِّن دُونِ ٱلرَّحۡمَٰنِ (“Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain Allah Yang Mahapemurah?”) maksudnya, kalian tidak mempunyai pelindung dan penolong selain Dia. oleh karena itu, Dia berfirman: إِنِ ٱلۡكَٰفِرُونَ إِلَّا فِى غُرُورٍ (“Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam [keadaan] tertipu.”)

Tafsir Kemenag: Allah mencela orang-orang kafir yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah dengan bentuk pertanyaan yang menyatakan tak ada orang yang akan datang menolong mereka serta melepaskannya dari siksa Allah.

Mereka telah tertipu oleh bisikan-bisikan setan yang menanamkan kepercayaan dalam hati mereka bahwa berhala-berhala itu dapat menolong dan mengabulkan permintaan mereka. Dalam kenyataannya tidaklah demikian. Berhala-berhala itu sendiri tidak dapat berbuat apa-apa sama sekali, malah sebaliknya manusialah yang menentukan segala sesuatu bagi dirinya.

Orang-orang kafir itu tertipu oleh bisikan setan. Oleh karena itu, Allah berfirman: Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) mendatangkan bencana kepada mereka. Orang-orang kafir adalah penolong (setan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (al-Furqan/25: 55)

Perkataan “min dunir-rahman” (selain dari Allah Yang Maha Pemurah) mengandung pengertian bahwa rahmat Allah itu dilimpahkan kepada seluruh makhluk yang ada di alam ini, baik yang beriman kepada Allah maupun yang kafir.

Demikian pula kepada hewan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya, sehingga semuanya dapat hidup dan berkembang. Akan tetapi, di akhirat nanti rahmat itu hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman saja. Allah berfirman:

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, “Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari Kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui. (al-A’raf/7: 32).

Tafsir Quraish Shihab: Atau siapakah yang memiliki kekuatan untuk menolong kalian dari siksaan selain Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu sungguh berada dalam keadaan tertipu dengan angan-angan mereka.

Surah Al-Mulk Ayat 21
أَمَّنۡ هَٰذَا ٱلَّذِى يَرۡزُقُكُمۡ إِنۡ أَمۡسَكَ رِزۡقَهُۥ بَل لَّجُّواْ فِى عُتُوٍّ وَنُفُورٍ

Terjemahan: “Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri.

Tafsir Jalalain: َمَّنۡ هَٰذَا ٱلَّذِى يَرۡزُقُكُمۡ إِنۡ أَمۡسَكَ (Atau siapakah dia yang memberi kalian rezeki jika Dia menahan) yakni Allah Yang Maha Penyayang menahan رِزۡقَهُۥ (rezeki-Nya) yakni hujan-Nya terhadap kalian. Jawab syaratnya tidak disebutkan, karena dapat disimpulkan dari kalimat sebelumnya. Lengkapnya, siapakah yang dapat memberi kalian rezeki? Tentu tiada seorang pun yang dapat memberikan rezeki kepada kalian selain-Nya. بَل لَّجُّواْ (Tetapi mereka terus-menerus) berkelanjutan فِى عُتُوٍّ (di dalam kesombongan) dalam kesombongannya وَنُفُورٍ (dan menjauhkan diri) dari kebenaran.

Tafsir Ibnu Katsir: أَمَّنۡ هَٰذَا ٱلَّذِى يَرۡزُقُكُمۡ إِنۡ أَمۡسَكَ رِزۡقَهُۥ (“Atau siapakah dia yang memberimu rizky jika Allah menahan rizky-Nya?”) maksudnya, siapakah dia yang akan memberi rizky kepada kalian jika Allah telah memutuskan rizky bagi kalian? Dengan kata lain, tidak ada seorang pun yang dapat memberi atau menolak, mencipta, memberi rizky, dan menolong kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Artinya mereka mengetahui hal itu, namun demikian mereka tetap menyembah selain-Nya.

Oleh karena itu Dia berfirman: بَل لَّجُّواْ (“Tetapi, mereka terus menerus”) yakni terus menerus dalam kesewenangan, kesombongan, dan kesesatan mereka, فِى عُتُوٍّ وَنُفُورٍ (“Dalam kesombongan dan menjauhkan diri.”) yakni, dalam penentangan dan kesombongan serta pelarian dengan membelakangi kebenaran, tidak mau mendengar dan mengikutinya.

Tafsir Kemenag: Kepada orang-orang kafir yang mengingkari rezeki Allah, disampaikan pernyataan dalam bentuk pertanyaan bahwa tak seorang pun dapat memberi rezeki, bila Allah menahan untuk tidak memberikan rezeki itu kepada mereka.

Mereka diminta merenungkan seandainya Allah tidak lagi menurunkan hujan, mematikan segenap tumbuh-tumbuhan sehingga seluruh permukaan bumi kering dan tandus, mematikan semua hewan ternak yang dapat dimakan, menjadikan matahari berhenti terbit di ufuk timur dan menjadikan hari terus menerus terang-benderang tanpa berganti dengan gelap, bagaimana dan dari manakah mereka akan beroleh rezeki?

Kemudian diterangkan bahwa sebenarnya orang-orang kafir itu percaya akan keesaan dan kekuasaan Allah. Mereka mempersekutukan Allah hanya didorong oleh kesombongan serta keengganan mereka menerima kebenaran karena takut kehilangan kedudukan dan pengaruh di dalam masyarakatnya.

Kesombongan dan keingkaran itu timbul dan disuburkan oleh tipu daya serta godaan setan yang selalu menumbuhkan perasaan dalam pikiran dan angan-angan mereka bahwa perbuatan mereka yang buruk itu adalah perbuatan baik dan terpuji. Memang demikianlah tujuan setan hidup di dunia ini. Allah berfirman: (Allah) berfirman,

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 88; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

“Maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.” (Iblis) menjawab, “Berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan.” (Allah) berfirman, “Benar, kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu.” (al-A’raf/7: 13-15) .

Tafsir Quraish Shihab: Atau siapakah yang dapat memberi kalian rezeki–yang merupakan sumber kehidupan dan kebahagiaan kalian–sekiranya Allah menahan rezeki-Nya untuk kalian? Tetapi orang-orang kafir itu justru malah bertambah sombong dan jauh dari kebenaran.

Surah Al-Mulk Ayat 22
أَفَمَن يَمۡشِى مُكِبًّا عَلَىٰ وَجۡهِهِۦٓ أَهۡدَىٰٓ أَمَّن يَمۡشِى سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسۡتَقِيمٍ

Terjemahan: “Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?

Tafsir Jalalain: (Maka apakah orang yang berjalan terjungkal) yakni terbalik (di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegap) yakni secara wajar dengan kakinya (di atas jalan) tuntunan (yang lurus) khabar dari mubtada yang kedua tidak disebutkan karena cukup hanya ditunjukkan oleh makna yang terkandung di dalam khabar yang pertama, yakni lebih banyak mendapat petunjuk.

Perumpamaan ini menggambarkan tentang keadaan orang yang kafir pada permintaan yang pertama, dan orang yang beriman pada perumpamaan yang kedua, yakni manakah di antara keduanya yang lebih banyak mendapat petunjuk?.

Tafsir Ibnu Katsir: أَفَمَن يَمۡشِى مُكِبًّا عَلَىٰ وَجۡهِهِۦٓ أَهۡدَىٰٓ أَمَّن يَمۡشِى سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسۡتَقِيمٍ (“Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?”) yang demikian itu merupakan perumpamaan yang diberikan Allah antara orang mukmin dan orang kafir. Dimana orang kafir dengan apa yang digelutinya seperti orang yang berjalan di atas wajahnya, yakni berjalan miring dan tidak normal.

Dengan kata lain, dia tidak mengetahui kemana dia berjalan dan tidak juga mengetahui bagaimana dia harus pergi, bahkan mereka linglung, bingung dan tersesat. Apakah orang seperti itu lebih mendapat petunjuk?

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah memberikan perbandingan kepada manusia antara perjalanan hidup yang ditempuh oleh orang-orang kafir dengan yang ditempuh oleh orang-orang yang beriman.

Perbandingan ini diberikan dalam bentuk pertanyaan yang menyatakan bahwa orang yang selalu terjerembab atau tersungkur ketika berjalan dan kakinya selalu tersandung karena melalui jalan yang berbatu-batu dan berlubang-lubang, tidak mungkin akan selamat dan berjalan lebih cepat mencapai tujuan dibandingkan dengan orang yang berjalan dalam suasana yang baik dan aman, di atas jalan yang datar dan mulus, serta dalam cuaca yang baik pula.

Perbandingan dalam ayat di atas dikemukakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Kalimat pertanyaan dalam ayat ini bukanlah maksudnya untuk menanyakan sesuatu yang tidak diketahui, tetapi untuk menyatakan suatu maksud yaitu bahwa perbuatan orang-orang kafir itu adalah perbuatan yang tidak benar.

Dinyatakan bahwa perjalanan hidup orang-orang kafir itu adalah perjalanan hidup menuju kesengsaraan dan penderitaan yang sangat. Seakan-akan ayat ini menyatakan bahwa tentu orang yang berjalan tertelungkup dengan muka menyapu tanah akan mudah tersesat dalam perjalanannya mengarungi samudera hidup di dunia yang fana ini, sedang di akhirat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sedangkan orang yang berjalan dengan cara yang baik, menempuh jalan yang baik dan lurus, yaitu jalan yang diridai Allah, tidak akan tersesat dalam perjalanan hidupnya di dunia ini dan pasti akan sampai kepada tujuan yang diinginkannya dan diridai Allah.

Di akhirat nanti, mereka akan menempati surga yang penuh kenikmatan yang disediakan Allah bagi mereka yang bertakwa. Selanjutnya dapat pula diambil pengertian dari ayat ini bahwa manusia dalam menjalankan usahanya, melaksanakan pekerjaan, dan menunaikan kewajibannya haruslah berdasarkan kepada ketentuan agama Islam, petunjuk ilmu pengetahuan, akal pikiran yang sehat dan pengalaman, serta hasil penelitian para ahli sebelumnya. Ini bertujuan agar usaha dan pekerjaannya membuahkan hasil yang baik.

Janganlah ia membabi-buta atau bekerja dengan semaunya saja, karena yang demikian itu hanyalah akan mengundang kegagalan dan bencana, baik untuk dirinya maupun orang lain.

Tafsir Quraish Shihab: Apakah keadaan sudah terbalik, sehingga orang yang berjalan dengan terjungkal jatuh di atas mukanya lebih mendapat petunjuk dalam berjalan dan mencapai tujuan ketimbang orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?

Surah Al-Mulk Ayat 23
قُلۡ هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنشَأَكُمۡ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ قَلِيلًا مَّا تَشۡكُرُونَ

Terjemahan: “Katakanlah: “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.

Tafsir Jalalain: قُلۡ هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنشَأَكُمۡ (Katakanlah! “Dialah Yang menjadikan kalian) yakni yang telah menciptakan kalian وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ (dan menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati”) atau kalbu. قَلِيلًا مَّا تَشۡكُرُونَ (Tetapi amat sedikit kalian bersyukur) huruf maa adalah huruf zaidah, dan jumlah kalimat ini merupakan jumlah isti’naf atau kalimat baru yang memberitakan tentang syukur mereka yang amat sedikit terhadap nikmat-nikmat tersebut.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: قُلۡ هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنشَأَكُمۡ (“Katakanlah, ‘Dia lah yang menciptakanmu.’”) maksudnya Dia telah mengawali penciptaan kalian setelah sebelumnya kalian sama sekali bukan sesuatu yang disebut.
وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ قَلِيلًا مَّا تَشۡكُرُونَ (“Dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati.”) yakni akal dan fikiran.

قَلِيلًا مَّا تَشۡكُرُونَ (“Tetapi, sedikit sekali kamu bersyukur.”) yakni hanya sedikit sekali dari kalian yang menggunakan kekuatan tersebut yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kalian untuk berbuat ketaatan dan menjalankan perintah-perintah-Nya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Tafsir Kemenag: Selanjutnya dalam ayat ini, Allah menyuruh manusia memperhatikan kejadian diri mereka sendiri. Allah memerintahkan Nabi Muhammad mengatakan kepada orang-orang kafir bahwa sesungguhnya Allah-lah yang menganugerahkan kepada manusia telinga sehingga dapat mendengarkan ajaran-ajaran agama-Nya yang disampaikan kepada mereka oleh para rasul.

Baca Juga:  Surah Al-Mulk Ayat 28-30; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Allah juga menganugerahkan kepada mereka mata sehingga mereka dapat melihat, memandang, dan memperhatikan kejadian alam semesta ini. Diberi-Nya mereka hati, akal, dan pikiran untuk memikirkan, merenungkan, menimbang, dan membedakan mana yang baik bagi mereka dan mana yang tidak baik, mana yang bermanfaat dan mana pula yang tidak bermanfaat.

Sebenarnya dengan anugerah Allah itu, manusia dapat mencapai semua yang baik bagi diri mereka sebagai makhluk-Nya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati merupakan satu kesatuan.

Pendengaran dan penglihatan adalah piranti yang digunakan oleh manusia untuk dapat memahami ayat-ayat Allah, sunatullah, yang dapat digunakan (diaplikasikan) dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia.

Metode observasi (pengamatan) dalam penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sangat bergantung kepada penggunaan piranti pendengaran dan penglihatan. Namun apabila hanya piranti pendengaran dan penglihatan yang dipakai, dan mengabaikan hati (al-af’idah) dalam keputusan penerapannya, maka hasilnya akan counter productive, yaitu akan memberikan hasil yang lebih banyak mudaratnya dibanding manfaatnya.

Pada hakikatnya, hati (al-af’idah) harus dijadikan panduan dalam pengambilan keputusan untuk penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dihasilkan dengan metode pendengaran dan penglihatan tadi. Dari al-af’idah ini dapat dikembangkan etika ilmu pengetahuan dan teknologi (science ethics) yang didasarkan kepada nilai-nilai Islami.

Sedikit sekali manusia yang mau bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya itu. Sangat sedikit manusia yang menyadari ketergantungan mereka kepada nikmat itu, padahal apabila sedikit saja nikmat itu ditangguhkan pemberiannya kepadanya atau dicabut oleh Tuhan, mereka merasa mendapat kesulitan yang sangat besar. Di saat itulah mereka ingat kepada-Nya. Akan tetapi, bila nikmat itu mereka peroleh kembali dan kesukaran itu telah berlalu, mereka kembali kafir kepada Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Katakanlah, “Dialah yang membuat kalian ada dari ketiadaan dan menciptakan telinga, mata dan hati yang menyebabkan kalian tahu dan bahagia. Sangat sedikit sekali syukur kalian kepada Sang Pemberi itu semua.”

Surah Al-Mulk Ayat 24
قُلۡ هُوَ ٱلَّذِى ذَرَأَكُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَإِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ

Terjemahan: “Katakanlah: “Dialah Yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepada-Nya-lah kamu kelak dikumpulkan”.

Tafsir Jalalain: قُلۡ هُوَ ٱلَّذِى ذَرَأَكُمۡ (Katakanlah! “Dialah Yang menjadikan kalian berkembang biak) artinya menciptakan kalian dapat berkembang biak فِى ٱلۡأَرۡضِ وَإِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ (di muka bumi, dan hanya kepada-Nyalah kalian kelak dikumpulkan”) untuk menjalani hisab.

Tafsir Ibnu Katsir: قُلۡ هُوَ ٱلَّذِى ذَرَأَكُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ (“Katakanlah: ‘Dia-lah yang menjadikanmu berkembang biak di muka bumi.’”) yakni mengembangbiakkan dan menyebarluaskan kalian di penjuru bumi dengan berbagai perbedaan bahasa, warna kulit, bentuk dan postur tubuh mereka.

وَإِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ (“Dan hanya kepada-Nya lah kelak kamu dikumpulkan.”) maksudnya kalian akan berkumpul setelah adanya perpisahan tersebut, Allah akan mengumpulkan kalian sebagaimana Dia telah memisahkan kalian serta mengembalikan kalian sebagaimana Dia telah membuat permulaan kalian.

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan agar Nabi Muhammad menyampaikan kepada orang-orang kafir bahwa Dia telah menciptakan mereka semua dalam bentuk yang berbeda-beda dan warna kulit yang bermacam-macam, menyediakan tempat bagi mereka di bumi dan menyebarkan mereka semua ke setiap penjuru bumi.

Allah pulalah yang memudahkan mereka menguasai dan mengolah bumi untuk hidup dan kehidupan mereka. Oleh karena itu, hanya kepada Allah-lah mereka kembali dan mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah mereka kerjakan selama hidup di bumi.

Di akhirat nanti Allah akan memberikan balasan dengan adil kepada mereka semua. Perbuatan baik dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, sedangkan perbuatan buruk diganjar dengan siksaan api neraka setimpal dengan keburukan amalnya.

Tafsir Quraish Shihab: Katakanlah, “Dialah yang menyebarkan kalian di muka bumi ini. Hanya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan untuk diperhitungkan dan diberi balasan.”

Surah Al-Mulk Ayat 25
وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ

Terjemahan: “Dan mereka berkata: “Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?”

Tafsir Jalalain: وَيَقُولُونَ (Dan mereka berkata) kepada orang-orang yang beriman, مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ (“Kapankah datangnya Janji itu) yakni janji datangnya hari semua makhluk dihimpun إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ (jika kalian adalah orang-orang yang benar?”) dalam hal ini.

Tafsir Ibnu Katsir: Selanjutnya Dia berfirman seraya menceritakan orang-orang kafir yang mengingkari adanya hari kebangkitan serta menganggap mustahil terjadinya hari kiamat. وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ (“Dan mereka berkata: ‘Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?’”) maksudnya, kapankah apa yang engkau beritahukan kepada kami itu akan terjadi, yaitu perkumpulan setelah adanya perpisahan.

Tafsir Kemenag: Orang-orang kafir itu bertanya kepada Rasulullah saw dengan maksud mengejek dan menentang tentang kapan waktunya ditimpakan kepada mereka runtuhan tanah yang mengimpit, angin kencang yang bercampur batu yang mengembus dan melemparkan mereka, sebagai azab yang sering disebut-sebut akan menimpa orang kafir? Kapan pula datangnya hari Kiamat yang pada hari itu seluruh perbuatan manusia selama hidup di dunia akan dipertanggungjawabkan, dan mereka sebagai orang yang durhaka akan masuk ke dalam neraka?

Mereka minta dijelaskan semuanya, jika Nabi termasuk orang yang dapat dipercaya perkataannya. Dari pertanyaan orang-orang kafir ini dipahami bahwa mereka menantang kebenaran yang disampaikan Rasulullah saw, karena menurut mereka yang diancam itu tidak mungkin terjadi.

Menurut mereka, mestinya Muhammad saw dan pengikut-pengikutnya yang akan diazab, dan kenyataannya mereka telah diazab Allah di dunia, berupa kesengsaraan dan siksaan yang ditimpakan kepada mereka seperti kemiskinan, kemelaratan, dan hukuman yang diberikan oleh orang-orang kafir Mekah kepada mereka.

Orang-orang kafir itu mengatakan bahwa yang akan diterima Muhammad dan pengikut-pengikutnya di akhirat nanti lebih berat dari siksaan yang mereka terima di dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang mengingkari kebangkitan berkata, “Kapan janji dikumpulkan itu terjadi? Beritahu kami waktunya jika kalian memang benar!”

Surah Al-Mulk Ayat 26
قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ وَإِنَّمَآ أَنَا۠ نَذِيرٌ مُّبِينٌ

Terjemahan: “Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.

Baca Juga:  Alasan Mengapa pada Zaman Nabi Mushaf Al-Quran Tidak Ditulis di Kertas

Tafsir Jalalain: قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ (Katakanlah!, “Sesungguhnya ilmu) tentang kedatangan hari tersebut عِندَ ٱللَّهِ وَإِنَّمَآ أَنَا۠ نَذِيرٌ مُّبِينٌ (hanya pada sisi Allah, dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.”) Yakni yang jelas peringatannya.

Tafsir Ibnu Katsir: وَإِنَّمَآ أَنَا۠ نَذِيرٌ مُّبِينٌ (“Katakanlah: ‘Sesungguhnya ilmu hanya pada sisi Allah.’”) maksudnya tidak ada yang mengetahui waktu terjadinya hari kiamat itu dengan pasti kecuali hanya Allah swt. Hanya saja, Dia memerintahkanku untuk memberitahu kalian bahwa hal tersebut pasti ada dan akan terjadi, tidak mungkin tidak, oleh karena itu berhati-hatilah.

إِنَّمَآ أَنَا۠ نَذِيرٌ مُّبِينٌ (“Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.”) maksudnya untuk menyampaikan, dan itu pun sudah aku sampaikan kepada kalian.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasulullah menjawab omongan orang kafir itu dengan mengatakan, “Wahai orang-orang kafir, hanya Allah sajalah yang mengetahui semua yang kamu tanyakan itu. Sebab, tentang kapan datangnya azab, dan terjadinya hari Kiamat termasuk pengetahuan yang gaib, hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Mengenai diriku, tidak lain hanyalah rasul dan pesuruh Allah yang diberi tugas menyampaikan agama-Nya kepada kamu sekalian, agar kamu berbahagia hidup di dunia dan di akhirat nanti. Aku diperintahkan-Nya menyampaikan berita kepadamu bahwa azab itu pasti datang menimpa orang-orang kafir dan hari Kiamat itu pasti terjadi. Pada ayat yang lain Allah berfirman:

Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah, “Ilmu tentang hari Kiamat itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat waktunya. (al-Ahzab/33: 63) Dari jawaban itu dapat dipahami bahwa Rasulullah hanyalah manusia biasa dan mempunyai sifat-sifat dan kemampuan seperti manusia biasa pula. Kelebihannya hanyalah terletak pada tugas yang diberikan kepadanya.

Di samping sifatnya seperti manusia biasa, ia diberi tugas menyampaikan agama Allah. Oleh karena itu, ia tidak mengetahui ilmu yang gaib kecuali jika Allah memberitahukan kepadanya. Tugasnya bukanlah menjadikan seseorang beriman, tetapi semata-mata menyampaikan agama Allah dan memberi penjelasan kepada manusia.

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman: Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada siapa pun yang takut kepada ancaman-Ku. (Qaf/50: 45) Firman Allah lainnya:

Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (al-Baqarah/2: 272) .

Tafsir Quraish Shihab: Katakan hai Muhammad, “Hanya Allahlah yang tahu itu semua. Aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang sangat jelas.”

Surah Al-Mulk Ayat 27
فَلَمَّا رَأَوۡهُ زُلۡفَةً سِيٓـَٔتۡ وُجُوهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَقِيلَ هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تَدَّعُونَ

Terjemahan: “Ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka) inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.

Tafsir Jalalain: فَلَمَّا رَأَوۡهُ (Ketika mereka melihat azab itu) sesudah mereka dihimpunkan زُلۡفَةً (sudah dekat) artinya, dekat sekali سِيٓـَٔتۡ (menjadi muramlah) menjadi hitam muramlah وُجُوهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَقِيلَ (muka orang-orang kafir itu. Dan dikatakan) kepada mereka, yakni para malaikat penjaga neraka berkata kepada mereka.

هَٰذَا (Inilah) azab ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ (yang dahulu kalian terhadapnya) yakni sewaktu kalian diancam dengan azab ini تَدَّعُونَ (selalu menganggapnya sebagai yang diada-adakan.”) Yakni kalian menduga, bahwasanya kalian tidak akan dibangkitkan menjadi hidup kembali. Hal ini menceritakan keadaan di masa mendatang, akan tetapi ungkapannya memberikan pengertian sudah terjadi. Ini tiada lain karena subjeknya pasti benar-benar terjadi.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman: فَلَمَّا رَأَوۡهُ زُلۡفَةً سِيٓـَٔتۡ وُجُوهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ (“Ketika mereka melihat adzab [pada hari kiamat] sudah dekat, maka orang-orang kafir itu menjadi muram.”) maksudnya setelah hari kiamat itu tiba dan orang-orang kafir menyaksikannya serta melihat bahwa hal tersebut sudah demikian dekatnya, karena setiap yang akan datang itu pasti datang meski waktunya masih cukup lama.

Dan setelah apa yang mereka dustakan itu benar-benar terjadi, maka merekapun menjadi muram, karena mereka mengetahui apa yang akan mereka alami di sana berupa keburukan dan penderitaan. Maksudnya, semuanyaitu mengelilingi mereka.

Dan mereka juga didatangi sesuatu atas perintah Allah yang tidak pernah terlintas sama sekali di dalam benak mereka. Oleh karena itu, dikatakan kepada mereka dengan nada celaan dan cacian: هَٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تَدَّعُونَ (“Inilah [adzab] yang dahulu kamu selalu meminta-mintanya.”) yakni kalian minta disegerakan.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa hati orang-orang kafir menjadi kecut dan warna muka mereka berubah setelah meyakini akan dekatnya kedatangan azab yang dijanjikan pada hari Kiamat dan kedahsyatan yang akan menimpa mereka pada hari itu. Mereka berada dalam keadaan penuh ketakutan dan penyesalan yang tidak henti-hentinya. Pada saat itu malaikat mengatakan,

“Inilah hari Kiamat dan azab Allah yang kamu dustakan sewaktu hidup di dunia dahulu, bahkan kamu selalu meminta-minta kedatangannya.” Pada ayat yang lain, Allah berfirman: Dan jelaslah bagi mereka kejahatan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh apa yang dahulu mereka selalu memperolok-olokkannya. (az-Zumar/39: 48).

Tafsir Quraish Shihab: Ketika mereka menyaksikan janji itu dekat dari mereka, muka orang-orang kafir itu dipenuhi kesedihan dan kehinaan. Dengan nada mengejek dan menyakiti, dikatakan kepada mereka, “Inilah yang kalian minta disegerakan.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mulk Ayat 20-27 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S